• OPINI
  • HM Baharun Tanggapi Keluhan Warga Terkait Dampak PPKM

HM Baharun Tanggapi Keluhan Warga Terkait Dampak PPKM

WARTALIKA.id – Dampak adanya Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) yang terus bergulir guna menekan penyebaran COVID-19 dan terkait imbauan Pemerintah untuk menutup sementara tempat ibadah dimana hal itu sempat membuat publik frustasi dan emosi mendapat tanggapan dari Mantan Ketua Komisi Hukum Periode 2010-2020, Majelis Ulama Indonesia (MUI), HM. Baharun.

Kepada wartawan HM. Baharun mengatakan, PPKM adalah upaya pemerintah untuk melakukan pembatasan kerumunan. Kerumunan itu bisa di tempat ibadah, sekolahan, pasar, lapangan dan gedung yang berisi keramaian orang.

“Dari kerumunan inilah adanya indikasi kuat terjadi penyebaran virus Corona itu. Agama menganjurkan umatnya untuk menghindar dari wabah yang merupakan ujian bagi manusia,” terang dia. Sabtu (24/7/2021).

Menurutnya, takut corona harus dihindari, namun takut kepada Allah justru harus didekati, karena Nabi Muhammad SAW sendiri yang kasih contoh bagaimana cara menghindar dari mara bahaya termasuk penyakit.

“Untuk itu ada ikhtiar pembatasan tadi. Masjid memang tidak boleh ditutup tapi hanya dibatasi seminimal mungkin bagi yang ibadah berjamaah misalnya dengan cuci tangan, jaga jarak yang ketat dan menggunakan masker,” kata guru besar sosiologi agama Islam serta Ketua Tarbiyah-PERTI dan salahsatu pendiri MUI ini.

Lanjut dis, selain doa, ikhtiar untuk itu wajib dilakukan dalam rangka perintah agama yang memerintah kita untuk menjaga nyawa (hifz nafs) dari segala ancaman, termasuk penyakit.

“Upaya kita saat ini adalah harus meminimalisasi kerumunan sosial, namun harus memaksimalisasi ibadah ritual maupun sosial. Dalam kondisi darurat seperti saat ini jika tidak memungkinkan kita shalat berjamaah di masjid seperti biasanya, dapat dilaksanakan berjamaah di rumah,” imbuhnya.

Hal itu juga termasuk salam shalat Jum’at yang status hukum asalnya ‘azimah (jika dalam kondisi normal), menjadi rukhshah atau dapat dispensasi.

“Secara kondisional dalam keadaan darurat. Sehingga bisa digantikan shalat di rumah. Agama itu mudah, dan selalu memberikan jalan keluar yang meringankan. Terkadang kita sendiri yang membuat kesulitan, diluar tuntunan yang banyak kita temukan jalan keluar dari berbagai persoalan yang dihadapi,” urai dia.

Melalui Fatwa MUI bernomor 14 Tahun 2020 Ketua Komisi Fatwa MUI Hasanuddin AF pernah menghimbau, Pertama terutama diarahkan kepada orang yang telah terpapar Covid-19, yang wajib menjaga dan mengisolasi diri agar tidak ada penularan kepada orang lain.

Kemudian bagi orang yang sehat dan belum diketahui apakah sudah terpapar atau belum, namun berada di daerah yang potensi penularannya tinggi, dibolehkan meninggalkan salat Jumat atau shalat lainnya di masjid, dan menggantinya dengan shalat di rumah masing-masing. “Sedangkan untuk kawasan di mana sebaran infeksi corona mulai tak terkendali dan mengancam jiwa, umat Islam tidak boleh menyelenggarakan shalat Jumat maupun shalat berjamaah lainnya di tempat ibadah di kawasan tersebut, sampai keadaan menjadi normal kembali,” tandasnya.

IKUTI KAMI

WARTALIKA TV

MOTIVASI HIDUP

Wartalika.id Klik allow notifications untuk menerima berita dan pembaruan dari kami
Dismiss
Allow Notifications