• MEGAPOLITAN
  • Saipul Jamil Disambut Meriah Saat Bebas, KPAI: Ingat Trauma Korban

Saipul Jamil Disambut Meriah Saat Bebas, KPAI: Ingat Trauma Korban

WARTALIKA.id – Penyanyi dangdut, Saipul Jamil menghirup udara bebas setelah menjalani hukuman selama delapan tahun penjara di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas 1 Cipinang, Jakarta Timur pada Kamis, 2 September 2021.

Saat bebas, Saipul dijemput oleh kekasihnya Indah Sari dengan menggunakan mobil Porsche merah dan dikalungi karangan bunga. Padahal ia adalah mantan terpidana kasus pencabulan kepada korban yang psikologisnya jelas menyisakan trauma berkepanjangan.

Terkait hal itu, Komisioner Kadivwasmonev Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Jasra Putra melihat kasus Saipul Jamil yang bebas dari penjara, satu sisi harus di hormati dan di hargai sudah menjalankan hukuman sesuai dengan ketentuan.

“Namun agak menjadi berat bagi korban jika melihat wajah pelaku dengan penyambutan yang sangat luar biasa. Sehingga bisa berpotensi korban mengingat kejadian masa lalu yang tidak mudah dihadapi oleh korban,” ujar Jasra dalam keterangan tertulisnya kepada WARTALIKA.id, Senin (6/9/2021).

Jasra menyebut, setiap korban kekerasan terhadap anak termasuk pelecehan seksual membutuhkan waktu yang panjang untuk bisa kembali pulih dari trauma berat tersebut. Tentu masing-masing anak berbeda dalam menjalankan kepulihannya.

“Pendampingan secara tuntas menjadi kunci anak-anak kembali kepada situasi sosial yang normal. Kendatipun usia korban saat ini sudah melewati usia anak di atas 18 tahun, namun penyembuhan dari trauma korban pencabulan membutuhkan waktu yang cukup lama,” sebutnya.

Oleh sebab itu menurut Jasra, situasi ini dipastikan ada pendampingan terbaik bagi korban terhadap semua informasi yang dia lihat atau dibaca dari berbagai pemberitaan yang ada. Sensitifitas dan penghormatan terhadap kepada korban perlu dilakukan dalam menjaga penyembuhan trauma yang mendalam agar bisa dilalui secara baik.

Selanjutnya penolakan sebagai masyarakat terhadap Saipul Jamil, jika dikonotasikan kepada perilaku masa lalu yang tidak baik terhadap anak atau tokoh tersebut pernah melakukan pencabulan terhadap anak, tentu ini sebuah semangat serta alarm positif untuk perlindungan anak di masa depan.

“Namun terkait larangan untuk tidak tampil dimedia TV dan seterusnya menjadi kewenangan lembaga lain dalam mengatur seseorang atau kelompok untuk tidak bisa tampil,” jelasnya.

Jasra juga menuturkan, bahwa tadi pagi KPAI sudah melakukan rapat pleno terkait isu ini dengan keputusan akan melakukan koordinasi dengan Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) termasuk memberikan masukan terhadap aduan yang masuk ke KPAI melalui media sosial dan termasuk petisi yang dilakukan oleh masyarakat melalui change.org.

“Pesan kita adalah bagaimana setiap informasi publik yang disaksikan oleh anak-anak dengan berbagai macam media, dipastikan informasi layak anak dan tidak mengandung konten-konten negatif yang bisa mempengaruhi tumbuh kembang anak, termasuk juga kepada korban yang harus menjadi perhatian kita semua,” sambungnya.

Jasra juga mengungkapkan, Komisi Pemilihan Umum Republik Indonesia (KPU RI) pernah membuat peraturan terkait calon kepala daerah dan legislatif dalam pemilu yang lalu, dimana dalam aturan tersebut tercantum bahwa calon tidak pernah melakukan kekerasan seksual terhadap anak yang diputuskan oleh pengadilan secara inkrah.

“Jadi pernah ada aturan ini dilembaga lain, dengan semangat memastikan setiap calon tersebut memiliki track record terbaik, sehingga ketika terpilih bisa memperjuangkan perlindungan anak di daerahnya,” kata Jasra.

IKUTI KAMI

WARTALIKA TV

MOTIVASI HIDUP

Wartalika.id Klik allow notifications untuk menerima berita dan pembaruan dari kami
Dismiss
Allow Notifications