Genderang “Oposisi” Partai NasDem Mulai Ditabuh

  • Whatsapp
Samuel F Silaen
Foto : Samuel F. Silaen

WARTALIKA.idRangkulan antara Ketua Umum Partai NasDem Surya Paloh dan Presiden PKS Sohibul Iman sempat disindir Presiden Joko Widodo (Jokowi). Kini, Surya Paloh berbicara soal ‘rangkulan’ dari mimbar Kongres ke-II Partai NasDem.

Menurut Direktur Eksekutif Lembaga Kajian Studi Masyarakat dan Negara (LAKSAMANA) Samuel F. Silaen, dalam politik itu dinamis, selalu saja ada makna yang tak tertulis namun tersirat, jadi apapun tampilan politik panggung depan tidak akan pernah sama dengan politik panggung belakang. “Indonesia ini terlalu banyak dihuni oleh manusia lulusan ilmu-ilmu politik, maka nyata terlihat bahwa bangsa ini berat “jalannya” karena itu.

Baca Juga :

“Bantahan atas sindiran Jokowi itu dijawab oleh surya paloh di acara Kongres NasDem, hal ini menjadi seperti gayung bersambut atas semua “kepingan-kepingan puzzle” yang sedang mewarnai panggung muka perpolitikan Indonesia saat ini,”papar Silaen alumni LEMHANAS Pemuda I 2009 itu.

Politik balas pantun pun tidak terhindarkan, ini jadi tontonan menarik tersendiri bagi “mahluk politik” dipanggung depan tanah air, dalam pandangan saya, ini buntut dari residu penyusunan kabinet jilid II Jokowi, yang tidak memuaskan permintaan NasDem sebagai pengusung pasangan #01 Jokowi-Amin.

Apa yang disampaikan dalam pidato Ketua Umum NasDem, “tingkat diskursus politik yang paling picisan di negeri ini, hubungan, rangkulan, tali silaturahmi, dimaknai dengan berbagai macam tafsir dan kecurigaan,” kata Surya Paloh di arena Kongres, JI Expo, Jakarta Pusat, Jumat (8/11/2019). [baca juga : Sinyal Oposisi Nasdem, Apakah Hanya Sekedar Gertak Sambal?]

Sejumlah kader meneriakkan kata ‘oposisi’ saat Ketua Umum NasDem Surya Paloh berpidato. Surya Paloh mengatakan hal itu merupakan aspirasi dari peserta kongres.

Menurut hemat saya, kata Silaen bahwa “disrupsi politik” sedang terjadi karena bersatunya dua simbol kekuatan politik tanah air yang selama dua kali Pilpres “berseteru” alias lawan tanding, namun pada kemenangan Jokowi jilid II ini kekuatan itu bersatu masuk dalam kabinet, itu sungguh tidak disangka- sangka oleh parpol ‘tertentu’ didalam koalisi pendukung Jokowi-Amin.

Berita Terkait