Laporan Kekerasan Debt Collector Mengendap di Polsek Pancur Batu

  • Whatsapp
Nurmintaria Ginting
Nurmintaria Ginting perempuan yang menjadi korban kekerasan para Debt Collector di wilayah hukum Pancur Batu.
HARI LAHIR PANCASILA

WARTALIKA.id – Adanya aksi brutal yang dilakukan sekelompok Debt Collector pada bulan November 2019 lalu, di seputaran wilayah hukum Polsek Pancur Batu Deli Serdang Sumatera Utara. Meski sempat viral, namun para pelaku kekerasan itu masih bebas berkeliaran.

Kapolsek Pancur Batu AKP Dedi Dharma yang belum lama ini menggantikan Kompol Faidir Chan pada Jumat (20/12/2019) dianggap belum mampu memberantas aksi kekerasan yang dilakukan Debt Collector.

Bacaan Lainnya

Idul Fitri 1441 H

Hal itu pun dikeluhkan Nurmintaria Ginting perempuan yang menjadi korban kekerasan para Debt Collector di wilayah hukum Pancur Batu.

“Hingga detik ini belum juga ada yang berhasil di tangkap oleh aparat Kepolisian Sektor Pancur Batu, dan bahkan sangat nampak adanya pembiaran dari aparat kepolisian dengan kejadian ini,” beber Nurmintaria kepada WARTALIKA.id saat berkeluh kesah. Kamis (19/3/2020). [baca juga : Debt Collector Pukul Nasabah Hingga Syok dan Pingsan di Deli Serdang]

Nurmintaria mengungkap bahwa dirinya sudah sering kali datang ke polsek pancur batu untuk menyampaikan informasi dan temuannya terkait para oknum Debt Collector pelaku kekerasan itu kepada para personel polsek pancur batu yang di tugaskan menangani laporannya kala itu.

“Semua identitas sudah saya berikan di meja juru periksa polsek pancur batu yang berasal dari keterangan dan temuan yang saya cari sendiri dari relasi,” imbuh Nurmintaria.

Ia pun menampik jika hal itu bukanlah tugasnya sebagai korban dan pelapor. “Karena sudah kesal dengan kelakuan para Debt Collector itu, jadi saya memberanikan diri mencari informasi supaya aparat polsek pancur batu cepat menanggapi,” sebutnya.

Lanjutnya, sudah ada empat orang dari pelaku yang di ketahui identitasnya. Bahkan, kata dia salah seorang sudah di laporkan kepada juru periksa polsek pancur batu dengan sangat jelas alamat dan letak rumah pelaku. [baca juga : Kapolsek Pancur Batu Tanggapi Laporan Wanita Dipukul Debt Collector Hingga Pingsan]

“Saya siap mendampingi dan menunjukkan jika di perlukan aparat polsek pancur batu guna menangkap pelaku itu. Namun ada saja alibinya dan semua jadi sia-sia,” ujar Nurmintaria.

“Apa polisi di pancur batu takut sama bosnya Debt Collector, atau kasus ini sudah di shutdown macam kasus virus corona di luar negeri,” tambahnya dengan nada kesal.

Nurmintaria juga mengungkap ketika banyak media online yang memberitakan atas ke bobrokan personel polsek pancur batu saat kekerasan itu terjadi, maka begitu banyak tekanan yang datang kepada Kapolsek dan para personel polsek pancur batu.

“Waktu itu Kapolsek nya meminta kepada saya dan keluarga untuk membuat video yang membantah berita-berita miring tersebut untuk turut membantu kenyamanan polsek pancur batu dalam mengungkap dan menangkap para pelaku kekerasan ini dan kami pun menyetujui permintaan itu, dimana Kapolsek nya masih dijabat Kompol Faidir Chan,” kata dia dengan raut muka memerah menahan rasa kesal.

“Video itu pun diminta dikirim ke Kapolrestabes Deli Serdang dan Kapolda Sumut beserta Jajarannya agar tidak ada lagi tekanan dari pimpinan kepada Kompol Faidir Chan beserta Personel nya,” tutup Nurmintaria.

Sementara juru periksa polsek pancur batu yang enggan namanya disebutkan saat dikonfirmasi mengatakan bahwa penangkapan itu tidak bisa dilakukan begitu saja. Untuk melanjutkan penangkapan harus di tanya dulu kepling atau kepala desa tempat pelaku tinggal, dan di tanyakan ke rumah pelaku apakah benar pelaku yang di maksudkan dalam pelaporan korban. [baca juga : Polsek Pancur Batu Buru Debt Collector]

“Karena pihak kepolisian tidak ingin adanya kesalahan dalam mengambil tindakan. Belum tentu si pelaku benar-benar sehat atau benar-benar tinggal di alamat yang di laporkan sekarang,” jelas juru periksa polsek pancur batu.

Lebih lanjut dikatakan, jika nanti si pelaku ternyata punya sakit dan mati saat di tangkap, maka polisi di anggap membuat satu kekerasan, atau jika di tangkap ternyata pelaku melarikan diri lalu terjadi kecelakaan kepada pelaku, maka ada pula nanti anggapan bahwa polisi penyebabnya.

“Karena itu harus dilakukan penyelidikan dahulu ke aparat pemerintahan desa tempat dia tinggal, dan lalu polisi mendatangi rumah yang di maksud untuk menanyakan kebenaran laporan dari korban ini,” tandasnya yang terlihat begitu prosedural.

Pewarta : Rinaldi

Pos terkait