Polisi Ungkap Jaringan Sindikat Narkoba Belanda-Makassar

  • Whatsapp

WARTALIKA.id – Pengungkapan narkotika jenis ekstasi jaringan sindikat narkoba Belanda-Makassar, pada hari Jumat tanggal 31 Juli 2020, Tim Subdit IV Dittipidnarkoba Bareskrim Polri mendapatkan informasi bahwa akan ada pengiriman paket berupa narkotika dari Belanda yang masuk ke Indonesia, di Gedung Bareskrim Polri, Jakarta Selatan, Kamis (27/8/2020).

Subdit IV Direktorat Tindak Pidana Narkoba Bareskrim Polri menangkap empat orang yakni Herianto alias Anto (Eks Polri), Sunardi alias Doyok (napi Rutan Makassar), Hengky Sutejo alias Hengky (napi Lapas Narkotika Sungguminasa) dan Hasrul alias Ardi (napi lapas Narkotika Sungguminasa. Keempatnya ditangkap terkait narkoba jenis ekstasi sindikat Belanda-Makassar.
Wakil Direktur Tindak Pidana Narkoba Bareskrim Polri Kombes Wawan Munawar mengatakan, pengungkapan ini berawal adanya informasi akan ada pengiriman paket berupa narkoba dari Belanda yang masuk ke Indonesia. Pengungkapan ini bekerjasama dengan Ditjen Bea&Cukai dan Kemenkumham.

Baca Juga :

“Tim mendapatkan nomor resi pengiriman, kemudian dilakukan penelusuran bahwa paket tersebut dikirim melalui ekspedisi DHL. Informasi dari pihak DHL, dalam resi pengiriman disebutkan bahwa isinya adalah baju pengantin dan diketahui bahwa paket tertahan 1 hari di Singapura,” kata Wawan, Jakarta, Kamis (27/8/2020).

Kemudian pada Sabtu (1/8), paket tersebut sudah tiba di Cargo DHL Bandara Soekarno-Hatta Jakarta. Paket berupa koper warna biru dongker itu dilakukan X-Ray, sehingga terlihat ada benda mencurigakan di dinding koper dan setelah dibuka ternyata berisi Ekstasi dengan berat brutto 2,29 kilogram.

“Pengirim paket tertera atas nama ‘John Christoper’ (Belanda) dengan tujuan ‘Asriati’ dengan alamat Makassar, Sulawesi Selatan. Selanjutnya tim melanjutkan Control Delivery terhadap paket tersebut ke Makassar dan berkoordinasi dengan DHL cabang Makassar,” ujarnya.

Selanjutnya, pada Selasa (4/8) ada seorang laki-laki yang mengaku dari Jakarta menelpon ke kantor cabang DHL Makassar dan meminta agar paket itu dikirimkan ke alamat yang dimaksud. Namun, pihak DHL menjelaskan paket tersebut belum bisa dikirim karena ada biaya berupa Tax Impor yang harus dibayarkan oleh pihak penerima.

“Kemudian penelepon (tersangka Hengky) melakukan pembayaran Tax Impor tersebut ke pihak DHL dengan menggunakan nomor rekening BNI atas nama Hasnawati. Setelah dilakukan penelusuran terhadap nomor rekening tersebut, ditemukan alamat Hasnawati, namun yang bersangkutan tidak ada di rumah dan tim bertemu dengan suaminya,” ucapnya.

Lalu, dari suaminya itu mendapatkan keterangan jika nomor rekening tersebut digunakan oleh adiknya yakni Hasrul yang menyuruh Hasnawati untuk membuka rekening BNI atas perintah Hengky.

“Setelah dilakukan pembayaran terhadap Tax Impor, Hengky menelepon ekspedisi DHL untuk mengirimkan paket tersebut sesuai dengan alamat yang tertera dalam paket yaitu Ance dg ngoyo Lorong 3 nomor 57, Kecamatan Panakukang, Kota Makassar,” sebutnya.

Akan tetapi, alamat tersebut tak dapat ditemukan. Sehingga, pihak kurir menghubungi Hengky dan diberilah alamat yang baru di Gard PLTU Daeng, Jalan Abdullah Daeng Siruak, Makassar.
“Oleh DHL dikirimkan sesuai alamat dimaksud, namun tidak ada yang mengambil paket tersebut. Sehingga paket kembali lagi ke Gudang ekspedisi DHL,” ucapnya.

Berikutnya pada Senin (10/8) seorang pria atas nama Rahmat mendatangi ekspedisi DHL untuk mengambil paket tersebut. Rahmat sendiri merupakan orang yang ditemui oleh Harianto alias Anto di jalan yang selanjutnya diajak naik ke mobil menuju ke kantor ekspedisi DHL.

“Anto menyuruh Rahmat masuk ke kantor DHL untuk mengambilkan paket, sedangkan dia menunggu di mobil. Ketika Rahmat menyampaikan maksud kedatangannya bahwa hendak mengambil paket, oleh pihak DHL tidak diberikan karena dia tidak membawa KTP,” jelasnya.

“Lalu tim mendatangi Rahmat dan menanyakan siapa yang menyuruhnya? Rahmat menjelaskan bahwa dia disuruh oleh Anto yang sedang menunggu di mobil. Kemudian tim melakukan penangkapan terhadap Anto dan dilakukan interogasi. Sehingga diketahui bahwa Anto disuruh oleh Sunardi untuk mengambil paket tersebut,” sambungnya.

Kini, pihaknya masih melakukan pengejaran terhadap satu orang yang masuk dalam Daftar Pencarian Orang (DPO). “Orang yang mengantar ACI (DPO) untuk melakukan pemantauan terhadap mobil DHL yang melakukan pengantaran paket,” sebutnya.

Kini, sejumlah barang bukti telah diamankan oleh polisi seperti 1 koper, 1 gaun pengantin, 1 kantong warna yang cokelat yang berisi 1000 butir tablet ekstasi warna pink logo Chupachups dengan berat 312 gram brutto, 993 butir tablet ekstasi warna hijau logo Chupachups dengan berat 347 gram brutto.

982 butir tablet ekstasi warna biru logo Chill, dengan berat 405 gram brutto, 1970 butir tablet ekstasi warna abu-abu logo Silver, dengan berat 1010 gram brutto. Sehingga total keseluruhan sebanyak 4.945 butir dengan berat total 2.074 gram brutto serta 4 buah handphone berbagai merk.

Kualitas pengungkapan ini yang kita selalu sampaikan untuk menghadapi pemberantasan narkoba tidak bisa bekerja sendiri namun harus bekerjasama dengan instansi lainnya.

Tersangka yang berhasil diamankan :
1. HT alias A (Ex. Polri)
Peran : orang yang mengambil paket ekspedisi cabang Makssar atas informasi dari SN alias Doyok (napi Rutan Makasar).

2. SN alias Doyok (napi Rutan Makassar)
Peran : orang yang memberikan informasi kepada HR alias Anto untuk mengambil paket yang berisi Ekstasy dan jika berhasil meminta bagian 1.000 butir.

3. H alias Hengky (napi Lapas Narkotika Sungguminasa)
– Orang yang memesan paket, karena pada resi paket tercantum Nomor HP ybs;
– Melakukan pengecekan ke pihak ekspedisi tentang keberadaan Paket;
– Melakukan pembayaran pajak Tax Impor atas paket;
– Menyuruh orang yang bernama Aci untuk melakukan pengawasan/pemantauan terhadap mobil ekpedisi yang akan mengirim Paket.

4. HR alias Ardi (napi lapas Narkotika Sungguminasa)
– Orang yang membukakan Rekening dan M-banking atas nama HA, melalui kakaknya yang bernama HA atas perintah H yang kemudian dipergunakan untuk bertransaksi narkotika;
– Turut mengendalikan orang yang bernama Aci, untuk memantau mobil ekpedisi yang akan mengantarkan paket yang berisi ekstasy.

Dari ke empat orang tersebut tim masih melakukan pengejaran terhadap pengirim barang dengan menerbitkan DPO termaksud Mr. X yang perlu diungkap siapa sebenarnya pemesan narkotika ini.

Barang Bukti :
1. 1 (satu) buah Koper warna biru dongker berisi :
a. 1 (satu) set gaun pengantin wanita warna putih dan jas warna hitam;

b. 1 (satu) kantong warna coklat yang di dalamnya terdapat :
1) 1000 butir tablet ekstasi warna pink logo Chupachups, dengan berat 312 gram brutto;

2) 993 butir tablet ekstasi warna hijau logo Chupachups, dengan berat 347 gram brutto;

3) 982 butir tablet ekstasi warna biru logo Chill, dengan berat 405 gram brutto;

4) 1970 butir tablet ekstasi warna abu-abu logo Silver, dengan berat 1010 gram brutto.

Dengan jumlah total keseluruhan sebanyak 4.945 butir, dan berat total 2.074 grambrutto,

2. 5 (lima) buah Handphone.

Pasal yang dipersangkakan :
Primer : Pasal 113 Ayat 2 dan Pasal 114 Ayat 2 Jo Pasal 132 Ayat 1 Undang-undang RI Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika. Dengan ancaman hukuman pidana mati/seumur hidup penjara paling singkat 6 tahun paling lama 20 tahun dengan denda paling banyak 1 M dan maksimal 10 M;

Subsider : Pasal 112 Ayat 2 Jo Pasal 132 Ayat 1 Undang-undang RI Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika. Dengan ancaman hukuman mati/pidana seumur hidup/pidana penjara 5 tahun paling singkat dan paling lama 20 tahun, pidana denda minimal 800 juta dan maksimal 8 M.

Dengan adanya pengungkapan kasus ini jiwa yang berhasil diselamatkan kurang lebih 5.000 jiwa manusia dengan asumsi peroprang mengkonsumsi sebanyak 1 butir kalau tidak dioplos, jika dioplos dapat lebih banyak lagi.

Pos terkait