Kapolda Jambi: Polisi Bertugas Sesuai SOP Bubarkan Massa

  • Whatsapp

WARTALIKA.id – Polda Jambi telah mengamankan 28 orang yang menyebabkan kerusuhan dalam aksi penolakan Omnibus Law di Kota Jambi, Selasa 20 Oktkber lalu, saat ini mereka telah dilepaskan. Hanya diberi peringatan untuk tidak mengulangi perbuatannya lagi,” jelas Kapolda Jambi Irjen Pol Firman Shantyabudi, saat dikonfirmasi wartawan, Jumat(23/10/2020).

Aksi penolakan Omnibus Law di Kota Jambi, Selasa (20/10) lalu berbuntut panjang. Ini setelah aksi berujung ricuh. Ditambah lagi, dibakarnya satu unit sepeda motor dinas Polisi.

Bacaan Lainnya

Menyikapi hal tersebut, Kapolda Jambi Irjen Pol Firman Shantyabudi mengatakan, tugas Polisi hanya mengawal dan menjaga ketertiban. Kata dia, seharusnya bukan Polisi yang dilempari batu, dan di Jambi seharusnya tak ada yang dilempari batu.

“Kita cari pelaku pembakaran motor itu. Masing-masing ada pertanggungjawaban, mengingat ini merupakan aset negara,” kata dia, Kamis (22/10). Lanjutnya, saat ini pihaknya telah mendapatkan informasi beberapa pelaku pembakaran motor tersebut.

Firman menyebutkan, jika yang bersangkutan ingin menyerahkan diri, itu lebih bagus. Dia menegaskan, perkara pembakaran sepeda motor tersebut harus dilanjutkan. “Lanjut, tak boleh kita biarkan merusak apapun, termasuk orang ataupun benda,” tegasnya.

Kata Firman, semua pimpinan di Jambi sudah ingin bertemu dengan massa, kemudian mereka menyampaikan aspirasi massa kepada DPR RI. Karena, kapasistas pemerintah daerah tak ada membahas perubahan. Namun untuk meneruskan aspirasi dan ide, akan menjadi tugas pemerintah daerah.

Lanjutnya, menyampaikan pendapat itu dijamin oleh undang-undang. “Yang tidak kita tolerir itu pelaku kekerasan. Selama ini di Jambi sebenarnya sangat jauh dari budaya ini, saya minta semua harus berhati-hati kepada mereka yang mengakomodir untuk menciptakan suasanan yang tak kondusif,” jelasnya.

Setidaknya dari aksi ricuh yang terjadi, Polda Jambi telah mengamankan 28 orang yang menyebabkan kerusuhan. Saat ini mereka telah dilepaskan. Hanya diberi peringatan untuk tidak mengulangi perbuatannya lagi.

Kemudian, tindakan kepolisian untuk melerai massa yang sempat mengganggu kenyamanan masyarakat, Firman meminta maaf. “Saya minta maaf atas akses yang terjadi, apabila ada masyarakat yang terkena macet dan gas air mata, namun ini adalah SOP untuk membubarkan,” ungkapnya.

Menurut Firman, selagi di wilayah masyarakat terjadi kekerasan wajib dibubarkan, ini bukan untuk menyakiti masyarakat. Namun untuk mengamankan dari tindakan kekerasan yang tak bertanggung jawab.

Rektor Universitas Jambi (Unja), Sutrisno, juga ikut bicara. Dia mengimbau mahasiswa Unja agar kuliah secara daring yang difasilitasi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, dan dapat dimanfaatkan sebaik-baiknya.

Menyikapi aksi demo yang dilakukan mahasiswa di Jambi beberapa hari lalu, dia meminta agar para mahasiswa Unja bisa menyampaikannya secara santun. “Saya mengajak anak-anak mahasiswa untuk menyampaikan aspirasi secara santun, akademis, kritis dan mengedepankan objektivitas,” lanjutnya.

Dia menyampaikan, mohon kiranya anak-anak mahasiswa memberikan masukan kepada pemerintah secara tertulis, akademis, kritis terkait substansi UU Cipta Kerja tersebut. Dia juga berpesan agar mahasiswa Unja tidak melakukan tindakan anarkis dalam menyampaikan aspirasi, serta tidak merusak fasilitas umum dan menggangu hak orang lain.

Pos terkait