Komnas PA: Ketujuh Anak Korban Pembunuhan Alami Trauma Berat

  • Whatsapp

WARTALIKA.id -Para pelaku pembunuhan terhadap korban berinisial RS (41) harus mendapat hukuman maksimal lantaran membuat kondisi tujuh anak korban trauma.

Hal ini disampaikan Ketua Umum Komisi Perlindungan Anak (Komnas PA) Arist Merdeka Sirait di kantornya di Jakarta, Senin (17/8/2020).

Bacaan Lainnya

“Pembunuhan berencana terhadap korban RS mengakibatkan 7 orang anak korban mengalami trauma berat dan luar biasa (extraordanry),” ujar Arist.

Arist mengatakan, rencananya pada hari Selasa (25/08/2020) mendatang akan menurunkan tim investigasi dan rehabilitasi sosial anak. Komnas PA Sumatera Utara dan Jakarta berangkat ke Samosir untuk bertemu 7 orang anak-anak korban. Sekaligus akan bertemu dengan kuasa hukum keluarga korban maupun dengan Kadis PPPA Samoslir serta Polres Samsosir.

“Anak-anak korban pembunuhan ini harus segera diselamatkan dan dijamin kehidupannya,” tegas Arist.

Dia juga berharap, kepada pemerintah daerah hadir untuk menyelamatkan dan menjamin perlindungan ketujuh anak korban pembunuhan ini. Seperti membiayai kebutuhan sekolah maupun kehidupan sosial anak.

Untuk itu, Komnas PA akan berkordinasi dengan Dinas PPPA dan Dinas Pendidikan Kabupaten Samosir guna mencari solusi terbaik bagi ketujuh orang anak-anak ini.

“Jika ke empat pelaku terbukti melakukan perencanaan pembunuhan seperti yang diatur dalam pasal 340 dan pasal 170 KUH Pidana, pelaku dapat diancam hukuman 20 tahun bahkan seumur hidup,” ucapnya.

Dari peristiwa kejam dan sadis ini, Komnas PA menilai telah terjadi degradasi terhadap sistim kekerabatan hal ini terbukti bahwa pelaku maupun korban adalah semarga, untuk itu perlu dibangun kembali sistim sisosial yang saling menghormati diantara sesama.

“Jauhi segala jenis minuman keras yang menjadi suplemen dan “triger” hingga terjadinya tindak kekerasan,” tegas Arist.

Secara terpisah seperti yang dilansir Tribun Medan, Dwi Ngai Sinaga, selaku penasehat hukum keluarga korban yang juga tim LBH Parsadaan Pomparan Toga Sinaga Dohot Boru ( PPTSB) menyampaikan, peristiwa ini bermula Rabu (5/8/2020). Ketika itu timbul percekcokan diantara para pelaku dan korban.

Salah seorang pelaku bahkan telah mengeluarkan sebilah pisau. Akan tetapi niat pelaku tidak terlampiaskan.
Keesokan harinya kembali timbul percekcokan antara para pelaku dan korban di salah satu kedai tuak di daerah Ronggur Nihuta.

Lagi-lagi niat para pelaku tetap tidak terlampiaskan. Nahas menghampiri korban pada Minggu (9/8). Sebab korban telah ditemukan bersimbah darah di jalan menuju ke rumahnya.

Tewasnya korban, kata Dwi, menyisakan luka yang sangat mendalam, terkhusus bagi anak-anak korban yang masih sangat membutuhkan kasih sayang orangtua.

Sebab, belum ada anak korban yang bisa menanggungjawabi adik-adiknya. Anak sulung korban masih duduk di bangku kelas XI SMA. Sedangkan anak bungsu korban berumur lima  tahun.

Dwi menambahkan, sejauh ini jajaran Polres Samosir telah berhasil menangkap empat dari enam pelaku. Dua pelaku lainnya masih proses pencarian.

“Keluarga korban berharap dan memohon agar dua pelaku lagi segera ditangkap. Usut tuntas kasus ini untuk mengetahui siapa-siapa saja yang terlibat dalam perbuatan tersebut,” pungkas Dwi.

 

Pos terkait