IKKS akan Terus Melakukan Perlawanan Terhadap PLN dengan Tujuan Ganti Rugi 

Foto : Encep Nik Affandi, Sekjen IKKS se-Jawa Barat
GTV

WARTALIKA.id – Menyikapi peristiwa Black Out (Padam Total) aliran listrik pada Minggu tanggal 4 Agustus 2019 selama 8 jam yang terjadi di Banten, Jakarta, dan Jawa Tengah dimana PLN menyampaikan bahwa salah satu penyebabnya dikarenakan ada nya pohon tinggi melebihi batas ambang aman kabel transmisi SUTET 500 KV.

Encep Nik Affandi selaku Sekjen IKKS mengatakan, kami sebagai warga Ikatan Korban Sutet (IKKS) se-Jawa Barat melihat pernyataan PLN tersebut cenderung ingin menyalahkan rakyat. Padahal itu terjadi karena ada tanggung jawab PLN di masa lalu yang belum terselesaikan sampai hari ini.

“Dimana kami warga korban sutet yang tinggal dan memiliki tanah secara sah yang dilintasi transmisi 500 KV yang mereka dirikan dan operasikan berpuluh tahun sampai hari ini belum pernah mendapatkan ganti rugi yang layak sesuai UU Ketenagalistrikan No 15 tahun 1985. Perlu diketahui tidak ada aturan yang melarang rakyat untuk menanam pohon apa saja yang berada di atas tanah yang mereka miliki secara sah,” kata Encep saat melaksanakan konferensi pers di Graha Pena 98, Kemang Utara, Jakarta Selatan, Sabtu (10/8/2019).

“PLN sebagai perusahaan penyediaan tenaga listrik menurut UU No. 15 tahun 1985 tentang Ketenagalistrikan pada pasal 11 dan 12 jelas mengatur untuk dalam melaksanakan usaha-usaha penyediaan tenaga listrik, diberikan kewenangan untuk masuk dan melintasi bangunan atau tanah milik umum maupun perorangan tentunya dengan memberikan ganti rugi yang wajar kecuali untuk tanah milik negara. Dan sebelumnya ganti rugi diselesaikan PLN tidak dapat melaksanakan perkerjaannya,” imbuh Encep.

“Ganti rugi yang dimaksud dihitung berdasarkan harga yang layak dan telah di bayar lunas atau telah mendapatkan penggantian dalam bentuk lain diantaranya ditukar dengan tanah di tempat lain yang sepadan atau seimbang,” tambahnya.

Dia menerangkan peristiwa yang membuat kami khawatir tinggal dibawah jalur Sutet diantaranya ;

• Terjadinya percikan api dari kabel Sutet mengakibatkan terbakarnga rumah salah satu warga di Kabupaten Cianjur.

• Terjadi ledakan yang mengakibatkan pohon bambu terbakar pada tahun 2017 di Kp. lama, Desa Sukasari, Kecamatan Rumpin, Kabupaten Bogor.

• Terjadi ledakan yang mengakibatkan beberapa rumah dan televisi  warga rusak pada tahun 2017 di Desa Gunung Sarik Kecamatan Citereup, Kabupaten Bogor.

• Terjadi ledakan yang mengakibatkan pohon sengon hancur dan terbakar pada tahun 2018 di Desa Kuripan, Kecamatan Ciseeng, Kabupaten Bogor.

“Akibat dari PLN pada waktu awal masa pembangunan, pada waktu itu PLN menjelaskan bahwa ada nya pohon itu aman. Pembodohan kepada rakyat pada masa lalu itu dan banyak nya juga pembohongan yang dilakukan PLN kepada masyarakat di daerah kami,” ungkap Encep.

Lebih jauh ia mengatakan, kami dari IKKS yang tergabung dari 6 Kabupaten Bogor, terus melakukan perlawanan terhadap PLN dengan sengaja nya kami menanam phon dibawah Sutet, kenapa kami berani bahwa siapapun tidak ada nya larangan penanam pohon.

“Kami akan terus melakukan sikap perlawanan terhadap PLN dalam bentuk tidak membayar listrik selama 14 tahun dan sampai saat ini masih belum membayar listrik, dikarenakan dari pihak PLN juga mencontohkan pelanggaran terhadap UU Ketenagalistrikan,” tandas dia.

Pewarta : Agung

GTV

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.