Meriam Si Jagur di Taman Fatahillah KotaTua “Ex Me Ipsa Renata Sum”

  • Whatsapp

Jejak – Sejarah kota Jakarta diperkirakan yang diawali dengan terbentuknya pemukiman sejarah di sepanjang Daerah aliran sungai Ciliwung. Seiring berjalannya waktu, Jakarta berkembang demikian pesatnya sesuai dengan predikatnya sebagai Ibu Kota Negara. Pembangunan gedung-gedung pencakar langit dibangun di setiap sudut Kota. Namun dibalik kemegahannya ternyata di salah satu sudut wilayah Jakarta masih menyimpan bangunan-bangunan tua yang memiliki nilai sejarah yaitu kawasan Kota Tua.

Keberadaannya justru merupakan kelebihan yang dimiliki Jakarta dan aset bernilai tinggi, salah satunya adalah Museum Fatahillah.
Museum Fatahillah merupakan aset wisata sejarah di Jakarta. Museum Fatahillah atau orang lebih mengenal dengan sebutan Museum Sejarah Jakarta terletak di Jalan Taman Fatahillah no 2, Jakarta

Museum Fatahillah dan Meriam Si Jagur di Kota Tua.

Apabila anda berkunjung ke Museum Sejarah Jakarta atau akrab dikenal dengan sebutan Museum Fatahillah di kawasan Kota Tua Jakarta. Anda akan menemukan satu Meriam besar yang berada di halaman depan Museum. Meriam Si Jagur, rupa dan bentuknya yang gagah sekarang dijadikan hiasan sejarah di depan Museum Fatahillah.

Meriam yang terbuat dari perunggu dengan panjang 3,085 meter dan berat 3,5 ton atau setara 350 kilogram ini merupakan senjata andalan portugis di Malaka. Namun tahun 1641 direbut oleh Belanda untuk dibawa memperkuat armada kolonialismenya di Batavia. Sebutan si jagur bagi meriam ini diyakini berasal dari pelesetan masyarakat Batavia dan para prajurit VOC terhadap pabrik pencipta meriam tersebut yaitu pabrik senjata makan tuan St. Jago De Barra, milik Portugis di Makau, Tiongkok.

Banyak orang kagum sekaligus heran melihat meriam yang memiliki panggilan Si Jagur itu. Sebab ukurannya tak seperti Meriam kebanyakan. Panjangnya dapat mencapai tiga meter. Besarnya tiga sampai empat kali lipat dari meriam biasa.

Pantas saja membuat orang terkagum akan megahnya Si Jagur. Selain itu, Si Jagur banyak membuat orang heran sekaligus tertawa geli, karena hiasan Si Jagur berbentuk jari yang dilipat yang kerap diartikan negatif.

Hiasan berbentuk jari pada meriam Si Jagur memang tak biasa. Hiasan tersebut memiliki bentuk jari jempol yang dilipat pada bagian jari terlunjuk dan jari tengah. Banyak orang yang mengira jika hiasan jari tersebut memiliki simbol pornografi, padahal tidak sama sekali.

Meriam Si Jagur tercipta dengan cara melebur 16 meriam kecil menjadi satu. Sesuai tulisan dipunggung meriam dalam bahasa portugis “Ex Me Ipsa Renata Sum” yang artinya dari diriku sendiri aku dilahirkan.

Meriam yang terbuat dari perunggu dengan panjang 3,085 meter dan berat 3,5 ton atau setara 350 kilogram ini merupakan senjata andalan portugis di Malaka.

lambang jari dilipat tersebut disebut “fico” dalam bahasa Portugis yang berarti “good luck” atau “semoga beruntung”.

“Sampai saat ini di sebagian Amerika Latin dan Portugis juga masih pakai simbol ini,”

Si Jagur sejatinya adalah Meriam Portugis dari Malaka yang direbut oleh Belanda. Meriam raksasa ini dibuat dari 14 meriam yang besinya dilebur menjadi satu dan diboyong ke Batavia tahun 1641 untuk memperkuat pertahanan kota.

Tahun 1968 Meriam Si Jagur ditempatkan di Museum Wayang. Namun pada tahun 1974 sampai saat ini, Meriam Si Jagur ada di depan museum fatahillah. Menjadi saksi tentang kekejaman kolonialisme dan catatan sejarah penderitaan bangsa indonesia.

Pewarta : Sugeng

  • Whatsapp

Pos terkait