Unik, Petani di Cianjur Panen Jagung Pelangi

Jagung Pelangi
GTV

WARTALIKA.id – Ada 12 warna hingga dikira mainan. Luki Lukmanulhakim (45) sukses membudidayakan Jagung Pelangi (warna-warni). Namun warga sempat mengira jagung warna-warni itu hanyalah mainan belaka.

Seorang perempuan paruh baya terlihat antusias mengamati tongkol-tongkol Jagung Pelangi (warna-warni).

Taman jagung itu berderet di sebuah lahan perkebunan di Kampung Lebak Saat, Desa Cirumput, Kecamatan Cugenang, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat.

Perempuan paruh bayah itu terlihat takjub dengan warna jagung yang ditanam di lahan seluas 3 hektar itu. Jika biasanya jagung hanya berwarna kuning, namun jagung yang ada di lahan Luki tersebut memiliki warna yang beragam.

“Jarang sekali saya lihat jagung seperti ini. Yang saya tahu jagung itu warna kuning, ada juga yang putih dan hitam. Tapi di sini bisa berwarna warni seperti ini bahkan ada yang banyak warna di satu tongkol. Unik dan cukup menarik,” tutur Elsya (40) salah satu warga Cimahi, Jawa Barat dilansir dari Kompas.com belum lama ini.

Elsya sengaja datang untuk melihat jagung warna-warni tersebut setelah mendengar kabar adanya budidaya jagung pelangi di kebun hortikultura.

Ia juga mengaku sudah mencicipi jagung warna-warni karena penasaran dengan rasanya. Menurutnya, rasa jagung yang dikenal dengan istilah glass gem corn rainbow itu tidak jauh beda dengan jagung biasa.

“Meski tidak seenak jagung manis tentunya. Teksturnya sedikit lebih pulen. Kalau jagung manis kan kriuk gitu,” kata Elsya.

“Saya sengaja datang ke sini untuk melihat langsung. Saya memang senang dengan dunia pertanian apalagi yang agak anti-mainstream seperti ini,” ucapnya.

Sementara pengunjung lainnya, Farhan Fauzan (30) mengaku awalnya mengira jagung yang dilihatnya itu mainan karena warnanya yang sangat kontras mulai dari warna ungu, merah, hitam, putih, dan warna lainnya.

“Ternyata asli dan bisa dimakan. Saya baru tahu ada jagung selain warna kuning. Bahkan ada yang berwarna seperti butiran mutiara dan bercorak seperti ini,” kata Farhan sambil memerlihatkan Jagung Pelangi (warna-warni) yang bercorak seperti batik yang baru saja dipetiknya itu.

Orang Asing juga tertarik
Pemilik lahan, Luki Lukmanulhakim (45) memang sedang panen Jagung Pelangi (warna-warni) dan mengajak beberapa pengunjung yang sedang bertamu untuk ikut panen.

“Beberapa waktu lalu juga kita sempat kedatangan bule (orang asing) ke sini. Saat tahu di kebun ini ada jagung seperti ini, dia terlihat sangat antusias. Bahkan setelah petik langsung saja dimakan dari tongkolnya,” terang Luki.

Budidaya jagung pelangi itu sendiri dilakukan sejak dua tahun yang lalu. Awalnya ia hanya tanam beberapa benih untuk contoh. Namun eksperimennya cukup berhasil. Dari empat warna yang ditanam bisa menghasilkan jagung dengan 12 warna baru. Ia pun lantas menambah luas lahan untuk menanam jagung warna-warni.

“Ini panen yang keempat kalinya. Ada yang warnanya kuning corak hitam, ada yang di satu tongkol semua warna ada. Bahkan ada yang warna corak seperti batik,” katanya.

Meski belum begitu populer, jagung jenis baru ini dikatakan Luki sedang menjadi tren di negara-negara Eropa termasuk di Amerika Latin sebagai pengganti makanan pokok atau jagung biasanya.

Jagung warna-warni memiliki kandungan gizi yang tinggi dan sangat baik bagi kesehatan.

“Harganya sendiri cukup tinggi. Perbandingannya, per kilogram di tingkat petani mencapai Rp 9.000, sementara jagung biasa hanya dikisaran Rp 2.000 per kilogram.

Apalagi kalau dijual dalam bentuk benih, per butir harganya Rp 500,” jelasnya.

Koleksi Plasma Nutfah Jagung
Luki, petani asal Kp. Lebak Saat, Desa Cirumput, Kecamatan Cugenang, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat menanam jagung warna-warni di atas lahan seluas 3 hektar.

Luki menuturkan, ide awal dirinya menanam jagung varian ini karena senang mengoleksi plasma nutfah dari berbagai tanaman, salah satunya plasma nutfah dari jagung.

Selain itu, jagung yang dikenal dengan istilah glass gem corn rainbow itu ternyata memiliki kandungan gizi yang tinggi dan sangat baik bagi kesehatan dibandingkan jagung biasa.

“Karena beberapa referensi menjelaskan kandungan warna yang ada pada jagung ini sangat baik untuk kesehatan, misal jagung yang berwarna hitam ternyata sangat baik dikonsumsi oleh penderita diabetes,” jelas Luki.

Luki sendiri mengaku mendapatkan benih jagung tersebut dari internet atau membeli secara online.

Saat itu ia mendapatkan empat kantong benih jagung berwana merah, ungu, hitam, dan putih.

“Dari empat warna itu saya coba tanam dengan cara silang campur.

Hasilnya, setelah panen ternyata bisa menghasikan 12 warna baru, ada yang kuning corak hitam, ada yang di satu tongkol semua warna ada. Bahkan ada yang warna corak seperti batik,” tuturnya.

Meski dari segi ukuran lebih kecil dan rasanya sedikit berbeda dengan jagung manis atau jagung hibrida lainnya, namun jagung jenis ini punya nilai ekonomis yang sangat tinggi.

Perbandingannya, sebut dia, jika harga jual jagung biasa di tingkat petani sekitar  Rp 2.000 per kilogram, maka jagung pelangi bisa mencapai Rp 9.000 per kilogram.

“Harganya cukup tinggi, apalagi kalau dijual dalam bentuk bibit atau benih. Harganya Rp 500 per butir,” katanya.

Namun ia mengakui masih belum banyak yang mengenal jagung pelangi ini bahkan di Kabupaten Cianjur terbilang baru.

“Mungkin di Cianjur sendiri baru kami yang menanamnya. Tapi kami justru akan mencoba menciptakan pasar sendiri,” katanya.

Tak ada perlakukan khusus dalam pemeliharaannya
Bahkan menanam jagung pelangi ini terbilang lebih mudah dibandingkan jagung biasa karena punya masa tanam yang pendek.

“Kalau jagung biasa masa panennya sekitar 120 hari atau 3 – 4 bulan.

Kalau ini dua bulan sudah bisa panen. Saya sendiri sudah empat kali panen,” kata Luki.

Dari hasil panennya itu, saat ini ia sudah punya stok benih siap jual untuk luasan 10 hektar dengan 12 varian warna yang dihasilkannya itu.

“Tapi dijualnya baru lewat online dan memanfaatkan jejaring.

Sudah ada beberapa yang pesan, di sekitaran Jawa Barat.

Termasuk pemesan dari Pontianak dan Halmahera. Bahkan dari Jakarta ada yang sudah minta disuplai secara rutin,” ungkapnya.

Sumber : Kompas.com

GTV

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.