Adi Pranajaya : Film NTB Diangkat dari Sisi Humanisme

  • Whatsapp
Adi Pranajaya
Adi Pranajaya
AGUNG NUROHO

WARTALIKA.idAdi Pranajaya putra asli Sumbawa, Sutradara Film telah merilis film kepemimpinan NTB dari masa-masa, sutradara film asal Sumbawa ini juga di kenal sebagai sutradara yang mengangkat asli Sumbawa.

Dalam acara nonton bareng Pagelaran Budaya Nusa Tenggara Barat dalam kepemimpinan orang-orang hebat turut dihadiri oleh Ketua Komisi DPRD NTB Syirajuddin. SH, Kepala Kantor Penghubung Nusa Tenggara Barat Sahrirrohman. S. Sos. M. AP., Sutradara Film asal Sumbawa Adi Pranajaya. Selain menampilkan film tentang kepemimpinan orang orang hebat, ada juga pertunjukan tarian daerah khas Nusa Tenggara Barat.

Bacaan Lainnya

Sutradara Film asal Lombok, Adi Pranajaya mengatakan pertama gagasan film NTB dalam Kepemimpinan Orang-orang hebat berawal dari adanya ikhtiar untuk membicarakan orang orang yang dulu pernah memimpin Nusa Tenggara Barat dari sisi humanisme dan dari sisi yang jarang orang tau tentang kesehariannya bagaimana hal-hal yang mungkin orang mengkritisi.

“Akan tetapi sesungguhnya di balik sikap kepemimpinannya termasuk hubungan dengan keluarga dan masyarakat sekitarnya, maka dari itu menurut kami menarik untuk dihadirkan sebuah film ini,” kata Adi saat diwawacarai oleh wartawan di Anjungan NTB, TMII, Jakarta Timur, Sabtu (15/2/2020) sore.

Ketika awal rilis di Mataram, kata Sutradara asal Sumbawa film ini ada yang menelepon saya, mudahan film ini bisa mengangkat masalah korupsi dari Gubernur A dan seterusnya pada masanya dan itu tidak masalah. “Tetapi dari pribadi saya lebih memilih sebagai komunikator sutradara yang ingin mengangkat hal hal yang memiliki nilai kebaikan, film saya rata rata kurang lebih dari 80 yang sudah digarap dan dengan film pendek sudah mencapai 100 film yang saya garap selama menjadi sutradara,” ungkapnya.

Hal yang sama ketika dikatakan Sutradara Film mencoba lakukan pada pembuatan film NTB dalam kepemimpinan orang orang yang hebat, maka dengan kata lain film ini adalah menginpirasi kepada anak anak muda tentang kebaikan kebaikan yang pernah dan telah dilakukan oleh para Gubernur sebelumnya.

“Sekali lagi film ini menginpirasikan bagaimana kita bisa mengambil hikmah atau pelajaran atas kehebatan mereka dengan segala kondisi yang luar biasa pada masa mereka memimpin tapi para pemimpin tersebut bisa berbuat sesuatu setidaknya dalam bayangan ini mereka sudah melakukan tugas,” ujar Adi.

Sutradara asal Sumbawa itu mengungkapkan kendala dalam pembuatan film ini adalah tergantung dari sudut pandang, kalau saya membaca refrensi yang ada setiap satu Gubernur ketika dibuatkan film mungkin bisa 4 hingga 5 jam tidak selesai.

“Tapi saya harus bisa membicarakan kepada para Gubernur, dan satu Gubernur kurang lebih 6 sampai 7 menit. Inilah yang membuat saya harus berkerja ekstra untuk melihat sisi sisi, dan sampai kepada suatu keputusan bahwa saya tidak sedang membuat film biografi,” imbuhnya.

Lanjut dia mengatakan kalau film biografi sekali satu Gubernur mungkin 2 hingga 3 jam tidak selesai karena dia harus memaparkan data dan faktual detail segala apa yang dilakukan.

“Inilah kendala bahwa saya harus berjuang keras dengan durasi kurang per Gubernur dari 4 hingga 5 menit dan seluruhnya kali sekian Gubernur, semua hal yang membanggakan tentang mereka tersampaikan dan kemudian setelah itu tidak ada protes,” ujarnya.

Membuat film ini bisa menghabiskan waktu kurang lebih selama 2 bulan, tetapi untuk riset semua ini sudah cukup lama. Ada satu kendala juga akan tetapi semua itu tidak menghambat yaitu teliti dan selektif dalam memilih narasumber, banyak sekali orang yang mengaku dan mengenal sekali dalam Gubernur yang dibicarakan ini tetapi dalam diskusi kami secara internal sebelum mengambil gambar ketika giliran dia mengobrol tentang Gubernur lain sangat subjektif.

Kalau subjektifitas itu didasarkan kepada suatu landasan yang berpikir pada suatu data dan sebagainya tidak apa, dan akhirnya ada beberapa yang keterima dalam film ini.

Seperti ada salah satu Gubernur yang bersurat kepada saya, kata Sutradara asal Sumbawa itu juga menyampaikan kritiknya kepada saya lewat teman bahwa periode saat membangun Bandara Internasional Lombok seharusnya pada masa Gubernur tersebut, tapi kok tidak disinggung mungkin iya tetapi narasumber tidak membicarakan itu.

Dia juga mengatakan dan tidak juga menyebutnya nama beliau pada masa pembangunan Bandara Internasional Lombok sesungguhnya secara implesif ada pada periode Gubernur tersebut. Membahas BIL itu tidak secara spesifik sekali dan tidak ingin merubah itu.

“Rencana nanti di 2020 akan membuat film mengenai sejarah pertamanya pembangunan tentang Bandara Internasional Lombok, sejarah bagaimana lahirnya Bandara Internasional Lombok,” pungkasnya.

Pos terkait