Muhammad Natsir, Menamatkan Buku Biografi 656 Halaman

  • Whatsapp

Seumur-umur , baru 2 buku biografi yang sangat tebal penulis dapat membaca tuntas seluruh bab dan isinya. Pertama, di tahun 2003 buku berjudul: Sirah Nabawi yang di tulis oleh ulama dari India Syekh Dr. Syafiurrahman Al-Mubarakfuri. Ia pemenang sayembara penulisan Biografi Sosok Rasulullah ﷺ yang diadakan oleh Raja Faizal. Tebalnya 600 halaman lebih.

Tentang buku tersebut, dan sebagai motivasi untuk masyarakat agar gemar membaca. Penulis sering sampaikan saat ceramah, “bahwa kalau anda sudah pernah membaca biografi tokoh politik, pengusaha, artis dan olahragawan. Namun belum pernah membaca buku biografi Rasulullah ﷺ maka saya katakan bacaan anda terbelakang. Bagaimana bisa anda meneladani Nabi ﷺ kalau tidak baca kisahnya”.

Yang kedua, buku berjudul Biografi Muhammad Natsir. Penulis tamat membaca buku tersebut tepat 10 hari. Di beli pada 20 Mei 2020. Dan tuntas seluruhnya ditelaah pada 30 Mei, tepat pukul 00:30 yang berisi 656 halaman. Penulis baca seluruh pengantar dan testimoni tokoh di buku tersebut. Hal itu baik, karena mendorong untuk semakin penasaran isinya.

Penulis bersyukur pernah berprofesi sebagai penjual buku, hingga tidak canggung keluarkan uang 150.000 untuk mengoleksi buku tersebut. Sebab memahami betapa sangat bernilainya sebuah buku. Apa lagi ketika mendapat inspirasi, ruh dan semangat, serta hal positif lainya dikarenakan usai membaca buku. Itulah yang penulis rasakan saat ini.

Penulisnya, Lukman Hakiem sangat piawai menyajikan kata demi kata, kalimat demi kalimat, episode demi episode. Lalu menyusunnya ke bab demi bab, hingga terangkai kisah utuh yang sangat nikmat dibaca.

Penulisnya yang memang setia mendampingi M. Natsir sang penggagas ide NKRI (Negara Kesatuan Republik Indonesia) semasa hidupnya. Hingga dari itu menghasilkan karya biografi yang eksepsional: seimbang antara pikir dan batin. Dan memadukan fakta interpretaif yang lugas dan kritik.

Di buku tersebut, mengajak seluruh pembacanya menyusuri zaman penjajahan. Ketika masih Balanda berkuasa dan Jepan memerintah. Serta saat krusial yaitu revolusi kemerdekaan hingga memasuki tatanan terbentuknya sebuah negara baru bernama Indonesia. Semuanya kita simak dalam buku itu. Juga ketika ia mendirikan partai Masyumi.

Begitu juga tersaji dinamika saat orde lama memerintah yang ia ada didalamnya. Peran M. Natsir yang sangat besar adalah ide mosi integrasi. Dia berpidato di perleman RIS agar tidak tak ada lagi nama nagara bagian ini dan itu. Semua manyatu dalam bingkai NKRI.

Atas usul mosi tersebut, Sukarno mengangkat M. Natsir sebagai perdana menteri. Lalu tak lama kemudian, tepat 27 Septeber 1960 PBB mencatat Indonesia sebagai negara yang diakui dan dikukuhkan sebagai negara anggota ke 60.

Usai hal itu, hubungan M. Natsir dengan penguasa Orde Lama getir dan pasang surut. Terlebih ketika ide demokrasi terpimpin diusung. Lalu M. Natsir mengembalikan mandat sebagai perdana manteri.

Lalu ia pergi ke Sumatra bergabung dengan PRRI. Hubungan mereka semakin renggang terutama ketika Masyumi dibubarkan, terlebih ketika antek komunis merembes masuk ke istana. Tak lama kemudian Orde Lama bubar.

Kemudian tampilah sosok panglima Suharto mengantikan penguasa Orde Baru menjadi presiden ke 2 RI. Seluruh napol dibebasakan termasuk M. Natsir dan kawan setianya. Karena suasana baru, M. Natsir dan kawan-kawan hendak merehabilitasi partai Masyumi.

Namun dalam perjalanan usaha gigih mereka, hingga sampai pada kesimpulan. Penguasa Orba tidak ingin pertai itu aktif dipanggung politik menyainginya. Bagitu juga para tokohnya dikebiri hak-hak politiknya. Masyumi dikebiri dengan kebijakan Orba yaitu AD ART seluruh ormas dan juga partai harus mencantumkan asas tunggal.

Meski dihalangi tampil dipanggung politik. M. Natsir sosok yang selalu memiliki ide cemerlang tak berkecil hati. Ia lalu mendirikan lembaga Yayasan Dewan Dakwah Islamiyah (DDII). Atas peran lembagai itu, khatib dan penceramah di Jakarta terdistribusi perannya dengan baik.

Juga ditingkatkan pemahaman agamanya. Atas peran M. Natsir ketika bertemu dengan Raja Faizal dan disitu pula hubungan Indonesia cair kembali dengan Saudi Arabia.

Raja Faizal menanyakan apa bisa ia bantu untuk bangsa Indonesia. Lalu M. Natsir menjawab, “hendaknya paduka berkenan menampung anak muda Indonesia sekolah di negara Anda.” Raja menyanggupi hal itu. Dan hingga hari ini dinikmati hasil diplomasi tersebut.

M. Natsir tidak hanya memikirkan kemerdekaan bangsaanya. Ia juga berperan membantu negara Tunisia untuk merdeka. Lawat wadah organisasi Alam Islami ia diangkat menjadi presiden, dua wakil yaitu Maulana Maududi dan Abul Hasan An-Nadwi. Sementara sekertarisnya Sayyid Ramadhan.

M. Natsir mendapat tiga pengakuan penghargaan Internasional. Yaitu dari Raja Faizal dan Raja Tunisia. Satunya gagal ia terima lansung yaitu doktor kehormatan (HC) dari Universitas Kebangsaan Malaysia pada tahun 1991. Sebab orde baru mencekal dirinya keluar negeri kala itu, sebabnya ia turut bertanda tangan petisi 50.

Lalu dua tahun kemdian tapat hari Sabtu, 6 Februari 1993 pukul 12:10 WIB hamba Allah ﷻ Muhammad Natsir Datuk Sinaro Panjang wafat menghadap keharibaan-Nya.

Sebelum wafat, saat memperingati tasyakuran 80 tahun usia. Dalam naskah pidatonya berpendapat: “bahwa pemimpin yang berurat ke bawah dan berpucuk ka atas, berpegang kapada hablum ninallah dan hablun minannas, tidak bisa dicetak. Tidak ada percetakan yang bisa mencetak pemimpin, besar dan kecil. Pemimpin tidak bisa diangkat dengan surut keputusan atasan.

Pemimpin itu hanya tumbuh di lapangan, yakni setelah beriteraksi dengan tantangan di masyarakat. Dan bila seseorang berbakat menjadi pemimpin, dan mendapat tantangan. Ia akan mengunakan seluruh kemanpuannya dan ilmu yang dikuasainya menghadapi tantangan itu.” tutur M. Natsir dalam naskah pidato tasyakuran 80 tahun usianya.

Ibrah membaca biografi tokoh:

1. Membuat kita dapat inspirasi;
2. Jadi paham, bahwa tak ada tokoh berpengaruh tak melewati ujian berat seperti difitnah, dihujat, diasingkan, dipenjara;
3. Wawasan menjadi luas dan pola pikir jadi bertambah;
5. Jadi paham bahwa setiap zaman ada tokohnya;
6. Menjadi mengerti sejarah;
7. Jadi paham, ada tokoh antagonis dan juga ada tokoh pratoganis.
8. Jadi paham dimanamika masa lalu, apakah itu dinamika politik, ekonomi dan pendidikan.

KALAU BUYA HAMKA DISEBUT MATAHARI MAKA MUHAMMAD NATSIR DISEBUT REMBULAN

Sumber : Kajian Dai Kamtibmas/Penyuluh Agama Islam Non PNS/DANI-Dai Anti Narkotik

  • Whatsapp

Pos terkait