Kisah dan Sejarah Tokoh Kerajaan Pajajaran

  • Whatsapp

Napak Tilas Karuhun – Hampir semua pegunungan di Tatar Sunda menjadi tempat hunian para leluhur Pajajaran: Gunung Munara, Gunung Galuh, Gunung Kapur Ciampea, Gunung Gede, Gunung Ceremai, Gunung Slamet serta Gunung Padang.

Rupanya pegunungan menjadi suatu tempat yang mengesankan dengan alasan tertentu. Selain itu, dalam babad pegunungan lainnya di luar Pulau Sunda juga banyak mencatat riwayat tentang sejarah Prabu Siliwangi yang menjadi tokoh Kerajaan Pajajaran.

Tentunya kondisi tempat-tempat tersebut di atas, sudah jauh berbeda dengan keadaan sekarang. Dahulu kala keadaan alam masih hutan lebat– mungkin juga masih berupa padang savanna tanpa pepohonan.

Di lain pihak, Prabu Siliwangi juga menyukai gua, atau lembah yang mendekati aliran sungai. Oleh karena itu, Prabu Siliwangi telah mengukir sejarah di wilayah seperti: Batutulis, Kutamaneh/Kutawesi, Pasir Angin, Cengkuk, Cangkuang, yang merupakan tempat awal penyebaran keturunannya sebelum tersebar ke seantero Nusantara.

Tetapi di luar tempat-tempat tersebut, yang akan diuraikan di sini sebenarnya adalah tentang dengan tabir adanya Prabu Siliwangi. Walaupun terkadang masih bersifat legenda, kiranya nama tempat maupun nama tokoh menjadi alasan kuat yang selalu merujuk padanya sebagai sebuah untaian riwayat, akhirnya tetap perlu ditelusuri tidak hanya oleh keturunan Prabu Siliwangi, tetapi oleh seluruh orang Sunda sehingga dapat menemukan titik terang.

Di lain pihak, masih banyak lokasi yang belum terungkap di belahan jagat raya ini yang pernah di jelajahi oleh Prabu Siliwangi, meskipun dengan kendala yang ada seperti nara sumber yang sulit mengungkap sejarah Prabu Siliwangi baik menuturkan dengan pendekatan secara batiniah ataupun artifak.

Hendak menuturkan kisah tentang sejarah Prabu Siliwangi, maka harus dari sumber yang berkompeten sebab tidak mustahil akan menjadi polemik dan cerita yang usang dikalangan rakyat serta anak keturunan Prabu Siliwangi. Bahkan mungkin tidak diridoi oleh obyeknya. Dalam pengungkapanpun harus orang yang tepat dan memiliki warisan sejarah, serta mempunyai kemampuan membaca dan menulis huruf lingga sangkala, kawi, sanksekerta, maupun bahasa “karuhun”.

Dan jika menyimak Siliwangi, sebaiknya harus identik dengan zaman purba dan bebatuan. Sebab latar belakang pada zamannya selalu meninggalkan jejak batu-batuan, gua, dan batu bertulis yang merupakan tanda warisnya. Dan menurut orang tua dulu, semua peninggalan itu diawali dari Rumpin dan Ciampea di daerah Bogor. Karena, dari sanalah awal Prabu Siliwangi digelar ke alam persada ini.

Walaupun demikian, sebagai penghormatan kepada leluhur yang menjadi nenek moyang, di sini kita tetap berusaha menelusuri yang sulit itu dengan coba terus mengungkap secercah tentang sejarah Prabu Siliwangi. Sebab, bagaimanapun juga nama Prabu Siliwangi bagi rakyat tatar Sunda sangat erat kaitannya dengan nama kebesaran daerah.

Keberadaan Nama Kerajaan Pajajatan 

Nama Siliwangi banyak dihubungkan dengan nama Kerajaan Tarumanegara maupun dengan nama Sunda atau nama Kerajaan Pajajaran. Hanya di sini akan disinggung nama Kerajaan Pajajaran saja, karena nama Kerajaan Pajajaran mungkin yang paling tepat dan sangat berarti. Namun, bukan nama lainnya di abaikan. Sebagai contoh nama Tarumanegara yang asal-usulnya disebut demikian sebab dikawasannya banyak pohon Tarum, dan sebuat Nagara sebagai tanda dari aksesn sunda: Na-Ga-Ra: a-a-a.

Nama Kerajaan Pajajaran sendiri, adalah hasil upaya Sang Pemimpin. Menurut “orang tua”, nama Kerajaan Pajajaran adalah nama lain dari kata “Jajaran” (berjajar): jajaran tempat atau jejeran anak-cucu dan keturunannya. Sedang nama Siliwangi adalah nama gelar, untuk setiap anak-cucu keturunan dari Kerajaan Pajajaran. Meskipun memang, tidak semua anak-cucunya bisa dikatakan Siliwangi, sebab gelar tersebut hanya kepada anak-cucu tertentu yang pantas dan menjadi pemimpin yang dapat menebarkan kewangian kepada masyarakatnya (Kokolot, bahasa Sunda).

Tahun berapa adanya kehidupan masyarakat Pajajaran ?. Salah satu patokannya, angka 081 sebagaimana tertera pada batu makam Sangiyang Sungging Prabangsa di Cikembar Sukabumi. Menurut “orang tua” angka tersebut merupakan tahun sebelum masehi. Hal itu menunjukkan, bahwa Siliwangi pada zamannya telah mengukir budaya tulis yang ada di Batutulis, di Cicatih maupun di Kawali sebagai ilustrasi bagi generasi berikutnya.

Dan konon nenek moyang tersebut, mulai menulis dengan mempergunakan jemari ujung kuku. Kuku yang kita kenal merupakan tanda ”doraka” dan dari sisa jasad kulit manusia ketika diciptakan itu, ternyata ampuh dan tajam terhadap batu sekalipun. Malah menurut informasi orang tua, tentang angka dan bahasa pun banyak dipelajari dari alam.

Tulisan pada batu itu dikenal dengan istilah aksara ”Lingga Sangkala” dalam situasi zaman sengsara atau zaman prihatin itu istilahkan ”Mikrob Kolbu”. Nah ! dari situasi ”Mikrob Kolbu” itulah, orang tua dulu mempelajari dan meniru huruf yang ada di dedaunan maupun buah-buahan.

Bahkan sampai sekarang dari daun dan buah itu tetap masih ada, walau hanya berupa garis ikal dan berliku. Tetapi, tetap mirip dengan tulisan yang dibuat orang tua dulu. Sedangkan tentang fungsi lain dari kuku, akan dibahas selanjutnya.

Kondisi Alam

Pada zaman itu, kebudayaan manusia masih serba purba dan primitif. Alat maupun perkakas untuk menunjang kehidupannya sangat sederhana sekali. Adapun yang mereka ciptakan mula-mula, kampak, pisau maupun tombak. Semuanya dipergunakan sebagai alat berburu, tetapi juga dipergunakan sebagai senjata.

Kenapa harus senjata dulu yang dibuat dan dimiliki ?. Senjata menjadi penting, karena untuk melindungi dari ancaman binatang buas, maupun sebagai alat berburu untuk kebutuhan makan. Jika demikian beralasan, karena keadaan alam pada zaman itu masih didominasi hutan belantara, sehingga binatang buas bebas hidup berkeliaran. Maka wajar setiap manusia mempersenjatai diri untuk melindungi dirinya.

Pada zaman itupun, belum ada logam besi. Walaupun sebenarnya bahan besi ada di tanah pegunungan maupun laut, tetapi manusia belum memiliki teknologi untuk memprosesnya menjadi lempengan besi. Jadi, manusia dahulu kala hanya mengandalkan alat seadanya. Mereka membuat senjata dari batu, kayu maupun dari tulang belulang binatang yang dibuat runcing sehingga menyerupai tombak, kampak atau pisau.

Meskipun keadaan alam yang ganas, kodrat sebagai manusia memerlukan makan dan minum. Maka untuk memperoleh kebutuhannya, manusia harus ikhtiar dengan cara apapun.

Lagi-lagi dengan belajar terhadap kondisi alam yang ada saat itu. Mereka belajar dari alam. Antara lain, memperhatikan bagaimana harimau dapat menaklukan mangsa dengan kuku dan gigi yang tajam. Sehingga sekalipun mangsanya lebih besar, tetapi harimau dapat menaklukan dan bahkan dapat merobek daging mangsanya untuk disantap.

Dari salah satu kasus itulah, rupanya menjadi pelajaran bagi manusia tempo dulu. Dengan kuku itu pula manusia meniru, sehingga kuku mereka dipelihara dan dibuat setajam mungkin. Dengan kuku yang tajam itulah, mereka seolah-olah memiliki kekuatan untuk berburu. Mereka dapat memperoleh hasil perburuan untuk kelangsungan hidupnya. Mereka amat menikmati daging mentah, bahkan sekaligus bisa menghirup air darah serta memanfaatkan kulit binatang.

Apabila yang mereka peroleh buruan kijang atau domba, maka menjadi keburuntungan berlipat ganda yaitu dapat daging dan kulitnya. Sebab kulit hewan tersebut, mereka gunakan untuk menutupi anggota badan agar terhindar dari udara dingin maupun kondisi panas.

Sejak itulah mereka mulai dapat membedakan keadaan badan yang ditutupi kulit binatang dengan kondisi badan tanpa ditutupi. Sehingga dari pengalaman itulah mereka mulai mencari alternatif selain kulit binatang, yaitu pelepah pohon pinang (Upih, bahasa Sunda).

Ternyata upih menjadi keperluan dan pilihan mereka untuk menutupi auratnya. Dengan upih itulah mereka nampak tidak telanjang sama sekali, malah terlihat seperti berbusana ala kadarnya.

Budaya menutupi aurat sejak itu mulai berkembang, walaupun sangat sederhana. Coba bayangkan bagaimana sosok orang tua dulu ! dengan badan tinggi besar, kuku panjang dan tajam, serta rambut panjang gimbal tak terurus, lantas tanpa penutup badan pula. Nampaknya terlihat menyeramkan, bukan ?!.

Subhaanakallaahumma wa bihamdika asyhadu allaa ilaaha illa anta astaghfiruka wa atuubu ilaika. “Maha Suci Engkau Ya Allah dan segala puji bagi-Mu, Aku bersaksi tiada Tuhan kecuali Engkau, aku mohon ampun dan taubat kepada-Mu.”

Sumber: Jabarprov.go.id dan dari berbagai sumber

Pos terkait