Kisah dan Sejarah Sri Baginda Maharaja Prabu Siliwangi

  • Whatsapp

Napak Tilas Karuhun, – Siapa Siliwangi ?… Di Tatar Pasundan, Sri Baduga ini lebih dikenal dengan nama Prabu Siliwangi. Peristiwa itu dari segi sejarah berarti saat Sri Baduga mempunyai kekuasaan yang sama besarnya dengan Niskala Wastu Kancana (kakeknya) alias Prabu Wangi (menurut pandangan para pujangga Sunda). Menurut tradisi lama, orang segan atau tidak boleh menyebut gelar raja yang sesungguhnya. Prabu Dewataprana Sri Baduga Maharaja atau Prabu Siliwangi putra Prabu Dewa Niskala putra Mahaprabu Niskala Wastu Kancana lahir 1401 M di Kawali Ciamis, mengawali pemerintahan zaman Pakuan Pajajaran Pasundan, yang memerintah Kerajaan Sunda Galuh selama 39 tahun.

Sebuah candi dibangun untuk menghormati Prabu Siliwangi di Pura Parahyangan Agung Jagatkarta, Bogor, Jawa Barat.”

Siliwangi ketika lahir bernama ”PANCAWALA”, ayahnya bernama ”Sangiyang Dewa MURBA” atau ”Nirwana Sangiyang Domas Siliwangi” dan ibunya bernama ”Nyi Sri Dewi Pohaci” dikenal pula dengan nama ”SUNAN AMBU”. Beliau memiliki ageman ilmu ”CANGKOK WIJAYA KUSUMA”.

Jadi nama Siliwangi sudah ada dari nama orang tuanya yaitu : Nirwana Sangiyang Domas Siliwangi, jadi nama Siliwangi bukan nama baru atau telahan. Sehingga kepada keturunannyapun, tetap digunakan sebab nama itu sama dengan bin atau alias.

Mengenai sosok Siliwangi, ada pendapat mengatakan menyerupai harimau. Hal itu tidak tepat, jika Siliwangi yang dilambangkan ibarat harimau. Sebab harimau malah menjadi hewan ”mainan” dan kesayangannya. Dan harimau itu sendiri dapat dikepit sebelah tangannya. Jadi dapat dibayangkan sebesar apa orang tua dulu kala ?, karena antara Siliwangi dengan harimau seperti sekarang layaknya orang dewasa mengangkat seekor kucing ?. Jadi sebenarnya jika Siliwangi dikatakan harimau hanyalah mitologi. Mungkin juga mengandung arti bahwa, harimau adalah raja hutan yang ditakuti dan disegani oleh binatang hutan lainnya.

Memang tidak dapat dipungkiri, bahwa kehidupan Siliwangi ibarat angin, bagai kilat dan penuh petualangan. Walau demikian, tidak mustahil Allah SWT menciptakan Siliwangi tanpa perencanaan, pasti dibalik itu ada kehendak Allah menciptakan umatnya.

Pada zaman itu, makanan umumnya bersumber dari bahan mentah mungkin termasuk daging menyebabkan keringat berbau tak sedap. Namun bagi Pancawala tidaklah demikian, beliau tetap harum dan wangi. Karena selalu menikmati daging maupun lauk pauk, terlebih dahulu dibakar atau dijemur matahari. Sedangkan yang menjadi sumber api dari batu megalit maupun sumber panas lahar gunung.

Oleh karena itulah, ketika Siliwangi berada di Rumpin – Bogor selalu memanfaatkan panas belerang gunung kapur Ciseeng. Ketika menetap di Halimun, mempergunakan sumber aliran Cipanas Cisolok. Sewaktu di Gunung Padang senantiasa menggunakan sumber belerang yang ada di Ranca Suni lembah Gunung Patuha. Selain itu pula, Ciater, kawah Tangkuban Perahu, Gunung Pancar maupun kawah Kamojang, merupakan petilasannya juga. Bahkan Gunung Pancar di jadikan tempat ’Panembongan Tatar Sunda”.

Banyak tempat dan sumber panas gunung lainnya dijadikan tempat mengolah daging dan ikan untuk hidangan makanannya. Oleh karena itu, beliau tidak menyantap daging maupun ikan mentah yang menyebabkan badan bau tak sedap. Dari perbedaan itulah, tubuh Pancawala tetap harum dan wangi. Dikalangan manusia purba, ia sudah dikenal dengan sebutan Siliwangi.

Panggilan atau sebutan penggunaan nama Siliwangi, adalah atas restu dan perintah leluhurnya. Hal itu menjadi kebiasaan kepada anak keturunannya, jika diberikan gelar. Seperti ketika Aji Saka yang diberi gelar Siliwangi diawali di daerah Tomo – Kadipaten. Tempat itu bernama Marongge berada di kawasan Gunung Congkrang atau Gunung Parang Sumedang. Disana terdapat aliran sungai Cihaliwung dengan Cilutung merupakan tempat bersejarah untuk menggunakan nama Siliwangi, bahkan Cilutung diberi nama ”Air Ludah Braja”, dan disekitar Marongge ditandai dengan batu yang diberi nama ”Mus Sang Geni”. Tetapi, Haji Kyai Prabu Kian Santang sendiri selaku putra keturunan Siliwangi tidak menggunakan nama Siliwangi. Jadi tidak semua menggunakan nama Siliwangi. Bahkan Ciung Wanara sebagai generasi kedua Siliwangi yang memiliki nama Adi Sakti jarang menggunakan gelar Siliwangi.

SENJATA

Pada uraian diatas telah disinggung bahwa Siliwangi memiliki ageman ilmu “CANGKOK WIJAYA KUSUMA”. Senjatanya berupa senjata alam yang tidak berwujud sehingga tidak nampak oleh kasat mata. Namun banyak orang meyakini bahwa Kujang adalah senjata milik Siliwangi, mungkin seperti Kujang tetapi bukan dari bahan logam karena zaman itu belum ada namanya besi atau logam lainnya.

Memang bahan besi sejak dahulu kala banyak terdapat di tanah pegunungan maupun laut, namun proses pengolahan menjadi besi belum ada teknologi. Senjata Kujang Siliwangi itu, sejatinya berupa nur cahaya, sehingga tidak terlihat oleh kasat mata. Rupanya semacam mustika alam dari besi kuning, dan ada keyakinan bersemayam di pulau Baas, pulau sekitar daerah Cilacap.

Senjata lainnya milik Siliwangi yaitu diberinama ”Gendeng Kalapitu”. Pusaka itu sewaktu-waktu menjelma berwujud layaknya manusia serta seringkali menampakkan diri disetiap gunung yang bernama Gunung Padang.

Subhaanakallaahumma wa bihamdika asyhadu allaa ilaaha illa anta astaghfiruka wa atuubu ilaika. “Maha Suci Engkau Ya Allah dan segala puji bagi-Mu, Aku bersaksi tiada Tuhan kecuali Engkau, aku mohon ampun dan taubat kepada-Mu.”

Sumber: Jabarprov.go.id dan dari berbagai sumber sejarah

Pos terkait