Pancasila Tercermin di Desa Pahu NTT, Tradisi Gotong Royong

  • Whatsapp
Pancasila Tercermin di Desa Pahu NTT, Tradisi Gotong Royong

Sang Proklamator, Soekarno, kerap mengatakan intisari Pancasila ialah gotong royong. Di Desa Puhu, Kecamatan Adonara Timur, Kabupaten Flores Timur ,Propinsi Nusa Tenggara Timur, intisari Pancasila itu tak sekadar slogan. Di sana gotong royong justru menjadi nafas dalam aktivitas keseharian mereka untuk menjaga tradisi leluhur. Desa Puhu merupakan kampung adat yang masih memiliki budaya-budaya klasik yang diwariskan para leluhur. Desa Puhu adalah salah satu desa yang terletak di kaki Gunung Ile Boleng, hampir seluruh mata pencaharian penduduk di sana adalah petani yang hasil komoditi utamanya adalah Kopra, kakao,mente , kopi, pinang dan kemiri.

Desa Puhu masih kental dengan arsitektur kuno dan budaya megalitik, sebagai kampung adat yang menjunjung tinggi budaya peradaban megalitikum, masyarakat Desa Puhu memiliki upacara adat pada hampir setiap aktivitas atau moment penting. Salah satunya dalam proses pembuatan rumah adat yang menjadi ciri khas budaya masyarakat Desa Puhu bagi masyarakat Desa Puhu, rumah adat tak sekadar untuk ditinggali, tetapi menunjukkan pula status mereka sebagai penjaga tradisi leluhur yang sudah turun-temurun. Oleh karena itu membangun rumah adat sangatlah penting bagi mereka untuk melestarikan tradisi leluhur yang kian ditinggalkan.

Biasanya untuk membangun rumah adat masyarakat harus menyembelih sejumlah hewan berupah babi dan kambing untuk upacara adat agar rumah yang hendak dibangun diberkati oleh para leluhur.

Desa Puhu di Adonara Kabupaten Flores Timur, Propinsi Nusa Tenggara Timur
bagi mereka yang membangun rumah adat biasanya keluarga besar yang berdiam di desa itu turut membantu proses pembangunan rumah adat dalam menyediakan kebutuhan-kebutuhan dasar yang sebagaimana sudah menjadi tradisi masyarakat desa setempat. Selain itu mereka juga membantu menyediakan bahan baku bangunan seperti bambu dan alang – alang sebagai atap rumah adat.

Maksimus Lewogete penduduk asli Desa Puhu mengatakan gotong royong memang menjadi tulang punggung aktivitas keseharian masyarakat desa Puhu hal itu dapat dilihat dari sejarah berdirinya Lewo atau kampung Puhu.

Keceriaan generasi penerus di desa Puhu sangat antusiasme dalam semangat bergotong royong membangun rumah adat. Kebanyakan orang melihat dari luar desa Puhu hanya terdiri beberapa suku saja, padahal ada delapan suku di desa Puhu, dan sejak awal kedelapan suku itu hidup damai dan bergotong royong untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari,” papar Maksimus mahasiswa yang berdomisli di Surabaya.

Maksimus menambahkan, gotong royong dalam proses pembangunan rumah adat di Desa Puhu adalah satu dari sekian banyak contoh gotong royong dalam aktivitas keseharian sebagai contoh atittude tenggangrasa.

Jika dulu gotong royong menjadi nafas dalam keseharian masyarakat desa Puhu sekadar untuk bertahan hidup, kini mereka bergotong royong untuk menjaga tradisi leluhur di tengah gempuran modernitas yang kian pesat.

Pos terkait