Makam Keramat Prabu Dalem Wong Sagati

  • Whatsapp
Ketua Koordinatoriat PWI Jakbar Kornelius Naibaho
Napak Tilas Karuhun – Wewengkon Tua dengan Berjuta Cerita, Kampung Seribu  Makam. “Kampung seribu makam,” itulah celoteh para pengunjung yang memang sebagian besar datang untuk berziarah ke tempat ini. Para penziarah selain ke Makam Prabu Dalem Wong Sagati, dan Prabu Dalem Hadi, ada satu lagi Makam yang biasa diziarahi oleh para peziarah, yaitu Makam Syekh Ahmad.

 

Kampung Sajira Timur, Desa Sajira Mekar, Kecamatan Sajira sebuah kampung yang dikelilingi ribuan pemakaman. Namun, dari sekian banyaknya makam disana, ada dua makam diantara ribuan makam yang paling sering dikunjungi peziarah, yakni makam keramat Prabu Dalem Hadi dan Prabu Dalem Wong Sagati. Kedua makam tersebut, oleh warga dan peziarah diyakini bahwa kedua tokoh ini masih ada kaitannya dengan Prabu Siliwangi dan Prabu Kian Santang. Kedua Prabu tersebut jugalah yang dipercaya sebagai penyebar agama Islam di daerah Sajira.

Baca Juga :

 

Tempat Ziarah Makam keramat Prabu Dalem Wong Sagati yang terletak di kampung Sajira Timur, Desa Sajira Mekar, Kecamatan Sajira dapat ditempuh dari terminal kota Rangkasbitung menggunakan angkutan kota (angkot) jurusan Rangkasbitung-Sajira. Perjalanan dengan menggunakan angkot ini akan memakan waktu sekitar satu jam. Dari Jakarta bila naik kendaraan pribadi bisa melalui jalan pintas, seperti Maja, Citra Maja Raya.

 

Satu hal yang menjadi nilai tambah dan membuat para peziarah merasa betah datang ke lokasi kedua makam keramat tersebut, yakni suasana yang teduh dan menenangkan karena disetiap area pemakaman terdapat ratusan pohon besar yang rindang dihiasi suara kicau burung yang hinggap di pohon tersebut.

 

Satu hal lagi yang menjadi daya tarik, disana juga terdapat aliran sungai Ciberang yang mengeluarkan gemericik melantuntkan suara alam, tepat berada tepat di bawah area kedai-kedai makanan yang disediakan bagi bara pengunjung.

 

Menurut salah satu warga setempat tidak mau disebutkan namanya yang juga sebagai kuncen/pimimpin doa di area pemakaman tersebut, menjelaskan jika ditilik dari silsilahnya, Prabu Dalem Hadi dan Prabu Dalem Wong Sagati masih ada kaitannya dengan Prabu Siliwangi dan Prabu Kian Santang. Kedua Prabu tersebut jugalah yang dipercaya sebagai penyebar agama Islam di daerah Sajira.

 

Menurutnya tidak ada sejarah atau cerita yang bisa menggambarkan secara pasti mengenai silsilah Prabu Dalem Hadi dan Prabu Dalem Wong Sagati. “Tidak akan mendapat cerita dengan versi yang sama. Pasti versinya beda-beda,” terangnya.

 

Meski mengaku tak mengetahui banyak hal mengenai silsilah Prabu Dalem Hadi dan Prabu Dalem Sagati,  tampak senang menjawab beberapa pertanyaan saya seputar sejarah kedua makam tersebut, tentu saja sesuai dengan apa yang ia ketahui.

 

Selain kedua makam Prabu tersebut, ada satu lagi makam yang biasa diziarahi oleh para peziarah, yaitu makam Syekh Ahmad yang letaknya di puncak Gunung Oko yang berada di sebelah areal pemakaman Prabu Dalem Hadi.

 

Masih menurut keterangan, makam kedua Prabu tersebut ditemukan pertama kali oleh Abuya Ismail yang berasal dari Cibaliung, Kec. Cipanas. Hanya tak diketahui secara pasti kapan tahun ditemukannya.

 

Selain makam kedua Prabu, saya melihat banyak makam-makam lain yang tersebar di antara kedua makam utama. Menurut warga sekitar, makam-makam yang tersebar di antara kedua makam utama tersebut adalah makam para prajurit yang ikut gugur dalam peperangan.

 

Kampung Seribu Makam, karena makam-makam yang ada di areal tersebut tak terhitung banyaknya. kedua makam ini sudah terdaftar sebagai cagar budaya.

 

Di hari biasa, tempat ini paling ramai dikunjungi pada malam Jumat. Di luar waktu itu, setiap tahunnya ada dua acara besar yang diselenggarakan oleh warga Sajira, yang cukup menarik perhatian banyak peziarah, yaitu acara haul Prabu Dalem Wong Sagati yang diadakan tiap bulan Jumadil Awal dan Ziarah Akbar yang diadakan tiap Kamis terakhir di bulan Sya’ban.

 

Peziarahnya pun tidak hanya berasal dari warga sekitar Sajira, tapi datang dari berbagai kota.

 

Semoga dengan penjelasan singkat ini bisa bermanfaat buat para pembaca wartalika.id , tunggu Napak Tilas Karuhun selanjutnya.

Pos terkait