Perjalanan Syekh Quro dan Ki Gedeng Tapa

  • Whatsapp

Napak Tilas Karuhun – Kisah perjalanan Syekh Qurotul Ain atau Syekh Quro sebelum ke Karawang. Syekh Quro adalah Syekh Qurotul Ain atau Syekh Hasanudin atau Syekh Mursahadatillah, adalah putra ulama besar dari perguruan Islam di Campa. Syekh Quro adalah penyebar agama Islam yang pertama di tanah Jawa khususnya Karawang Jawa Barat, sampai akhir hayatnya beserta salah seorang muridnya yang bernama Syekh Bentong(Gentong).

Syekh Quro adalah Syekh Qurotul Ain atau Syekh Hasanudin atau Syekh Mursahadatillah. Menurut naskah Purwaka Caruban Nagari, Syekh Quro adalah seorang ulama. Dia adalah putra ulama besar Perguruan Islam dari negeri Campa yang bernama Syekh Yusuf Siddik yang masih ada garis keturunan dengan Syekh Jamaluddin Akbar al-Husaini serta Syekh Jalaluddin ulama besar Mekah. Jika ditarik dan dilihat dari silsilah keturunan, Syekh Hasanudin atau Syekh Quro masih ada garis keturunan dari Sayidina Husein Bin Saiyidina Ali r.a., menantu Nabi Muhammad SAW. dari keturunan Dyah Kirana ( Ibunya Syekh Hasanudin atau Syekh Quro ). Selain itu Syekh Hasanudin atau Syekh Quro juga masih saudara seketurunan dengan Syekh Nurjati Cirebon dari generasi ke 4, Amir Abdullah Khanudin.

Bacaan Lainnya

Makam Kramat Syekh Quro dan Syekh Gentong di Karawang

Syekh Quro adalah penyebar agama Islam yang pertama di tanah Jawa khususnya Karawang Jawa Barat, selama penyembaran agama Islam sampai mendirikan mushala yang sekarang menjadi masjid Agung. Sebelum menjadi masjid Agung bernama masjid Manggal Mangil Mangguk diberikan nama oleh Syekh Quro, Masjid Agung salah satu masjid yang mempunyai nilai arsitektur tinggi.

Menjelang akhir hayatnya beliau melakukan Uzlah(menyepi diri) pindah dari pesantren Karawang ke Pulo Bata Desa Pulo Kelapa, disinilah dengan segala kemampuannya memanjatkan doa, mengheningkan cipta mendekatkan diri kepada yang Maha Kuasa Allah SWT. Secara dawan(terus menerus) untuk memperoleh kesempurnaan hidup hingga akhir hayatnya beserta salah seorang muridnya yang bernama Syeh Bentong(Gentong). Keduanya dimakamkan di Pulo Bata Desa Pulo Kelapa Kecamatan Lembahabang Wadas.

Perjalanan Syekh Quro guru Nyimas Subang Larang

Sebelum berlabuh di Pelabuhan Karawang, Syekh Quro datang di Pelabuhan Muara Jati, daerah Cirebon pada tahun 1338 Saka atau tahun 1416 Masehi. Syekh Nurjati mendarat di Cirebon pada tahun 1342 Saka atau tahun 1420 Masehi atau 4 tahun setelah pendaratan Syekh Hasanudin atau Syekh Quro di Cirebon. Kedatangan Syekh Hasanudin atau Syekh Quro di Cirebon, disambut baik oleh Syahbandar atau penguasa Pelabuhan Muara Jati Cirebon yang bernama Ki Gedeng Tapa.

Syekh Quro adalah Syekh Qurotul Ain atau Syekh Hasanudin atau Syekh Mursahadatillah. Maksud dan tujuan kedatangan Syekh Hasanudin ke Cirebon adalah untuk menyebarkan ajaran Agama Islam kepada Rakyat Cirebon. Syekh Hasanudin ketika di Cirebon, namanya disebut dengan sebutan Syekh Mursahadatillah oleh Ki Gedeng Tapa dan para santrinya atau rakyat Cirebon.

Setelah sekian lama di Cirebon, akhirnya misi Syekh Hasanudin untuk menyebarkan ajaran Agama Islam di Pelabuhan Cirebon rupanya diketahui oleh Raja Pajajaran yang bernama Prabu Angga Larang.

Namun disayangkan misi Syekh Hasanudin ini oleh Prabu Angga Larang di tentang dan dilarang, dan kemudian Prabu Angga Larang mengutus utusannya untuk menghentikan misi penyebaran Agama Islam yang dibawakan oleh Syekh Hasanudin dan mengusir Syekh Hasanudin atau Syekh Mursahadatillah dari Tanah Cirebon.

Ketika utusan Prabu Angga Larang sampai di Pelabuhan Cirebon, maka utusan itu langsung memerintahkan kepada Syekh Hasanudin atau Syekh Mursahadatillah untuk segera menghentikan dakwah dan penyebaran Agama Islam di Pelabuhan Cirebon. Agar tidak terjadi pertumpahan darah, maka oleh Syekh Hasanudin atau Syekh Mursahadatillah atau Syekh Quro perintah yang dibawakan oleh utusan dari Raja Pajajaran Prabu Angga Larang itu disetujuinya, dan Syekh Hasanudin atau Syekh Mursahadatillah seraya berkata kepada utusan Raja Pajajaran Prabu Angga Larang : “ Meskipun dakwah dan penyebaran ajaran Agama Islam ini dilarang, kelak dari keturunan raja Pajajaran akan ada yang menjadi Waliyullah meneruskan perjuangan penyebaran ajaran Agama Islam ”.

 

Peristiwa ini sontak sangat disayangkan oleh Ki Gedeng Tapa dan para santri atau rakyat Cirebon, karena Ki Gedeng Tapa sangat ingin berguru kepada Syech Hasanudin atau Syech Mursahadatillah atau Syekh Quro untuk memperdalam ajaran Agama Islam.

Ketika itu juga Syekh Hasanudin atau Syekh Mursahadatillah pamit kepada Ki Gedeng Tapa Muara Jati Cirebon untuk pergi ke Malaka, maka Ki Gedeng Tapa Muara Jati Cirebon menitipkan anak kandung Putri kesayangannya yang bernama Nyimas Subang Larang, untuk ikut berlayar bersama Syekh Hasanudin atau Syekh Mursahadatillah ke Malaka.

Syekh Quro bersama Subang Larang putri dari Ki Gedeng Tapa Muara Jati Cirebon melanjutkan perjalanannya..dengan tujuan ke Karawang, mohon maaf tidak ada sejarah atau cerita yang bisa menggambarkan secara pasti mengenai silsilah dan perjalanan Syekh Quro. “Tidak akan mendapat cerita dengan versi yang sama. Pasti versinya beda-beda.

Semoga dengan penjelasan singkat ini bisa bermanfaat buat para pembaca wartalika.id , tunggu Napak Tilas Karuhun selanjutnya.

Pos terkait