Singa Betina dari Marunda Pentas di Museum Sejarah Jakarta

  • Whatsapp
Singa Betina dari Marunda Pentas di Museum Sejarah Jakarta

WARTALIKA.id – Museum sejarah Jakarta dalam rangka menyambut Hari Kartini 21 April, menggelar rekonstruksi sejarah kisah perjuangan pahlawan wanita asal Betawi. Unit Pengelola(UP) Museum Sejarah Jakarta berkerja sama dengan Sanggar Margasari dengan mengangkat cerita rakyat “Singa Betina Dari Marunda”. Pegelaran akan berlangsung dua hari Sabtu, 13 April – Minggu, 14 April 2019, Kota Tua Jakarta.

Pementasan dimulai pukul 19.30 Wib dan terbuka untuk umum, tanpa dipungut tarif alias gratis. Pementasan “Singa Betina dari Marunda” menceritakan tentang pendekar dan pejuang wanita dari Tanah Betawi bernama Mirah di abad 19. Mirah sangat masyur di kawasan Marunda, Jakarta Utara, berkat keberanian dan kemampuan bela dirinya. Sehingga, menjadikannya sangat disegani oleh para pendekar silat, dan ditakuti para perompak maupun perampok kala itu.

Kepala UP Museum Kesejarahan Jakarta, Sri Kusumawati mengatakan, cerita rakyat Singa Betina dari Marunda dipilih karena pada 21 April mendatang akan ada peringatan Hari Kartini.

“Mirah banyak melakukan perjuangan fisik berbekal keahlian bela diri, pencak silat. Maka itu, cerita ini mengandung nilai keberanian, ketangguhan, perjuangan, dan emansipasi,” ujarnya, yang akrab disapa Ati, Sabtu (13/04/2019) malam.

Ati menjelaskan, pihaknya sengaja menggelar pertunjukan ini pada akhir pekan di saat jumlah pengunjung tinggi. Selain memberikan hiburan, UP Museum Sejarah Jakarta ingin menghadirkan pemahaman sejarah serta nilai-nilai karakter positif.

“Banyak pesan-pesan baik yang bisa diambil oleh para penonton pementasan ini,” terangnya.

Ia menambahkan, bersamaan dengan pelaksanaan pentas Rekonstruksi Sejarah juga diadakan bazar kuliner. Sehingga, pengunjung dapat menyaksikan pementasan dalam suasana yang lebih santai dan nyaman.

“Ini akan menjadi inovasi kami dengan memperbanyak pementasan saat malam hari,” tandasnya.

Kilas Sejarah Pendekar Betawi Berjuluk ‘Singa Betina dari Marunda’.

Masyarakat Betawi terdahulu tradisi “maen pukulan” atau pencak silat sudah mendarah daging, termasuk di kalangan kaum wanita. Mereka belajar “maen pukulan” dari jurus dasar sampai jurus pamungkas.

Dalam cerita-cerita rakyat Betawi kerap kali muncul jago-jago dari kaum perempuan. Mereka dengan gagah membela rakyat tertindas, menentang pemimpin yang zalim, dan menegakkan amar makruf nahi mungkar.

Singa Betina dari Marunda Pentas di Museum Sejarah Jakarta

Salah satu pendekar silat wanita yang cukup dikenal adalah Mirah, yang memperoleh gelar Singa Betina dari Marunda berkat keberanian dan kelihaiannya main giksaw. Mirah, dalam terminologi gender, bukan seorang tokoh emansipasi, melainkan seorang pejuang dalam arti sebenarnya.

Pewarta : Sugeng

  • Whatsapp

Pos terkait