Doni Monardo Imbau BPBD DKI Jakarta Siap Siaga

  • Whatsapp
Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Doni Monardo
Foto : Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Doni Monardo.
AGUNG NUROHO

WARTALIKA.idKepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Doni Monardo memberi himbauan kepada Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DKI Jakarta agar meningkatkan kesiapsiagaan dan waspada menghadapi sejumlah potensi ancaman bencana yang mengintai wilayah Ibu Kota Negara. Hal itu disampaikan Kepala BNPB saat melakukan kunjungan kerja ke kantor BPBD DKI Jakarta, Jumat (27/12).

Dalam pertemuan bersama Kalakhar BPBD DKI Jakarta Subejo yang juga diikuti oleh para pimpinan dan staf serta sejumlah personel Pemadam Kebakaran DKI Jakarta, Kepala BNPB membuka paparan dengan mengingatkan kembali tentang rentetan bencana alam yang pernah terjadi di Jakarta sekaligus potensi ancaman ke depannya sebagai bahan pembelajaran.

Bacaan Lainnya

Dalam catatan yang dipaparkan Mantan Komandan Jenderal Kopassus itu, wilayah Jakarta pernah diguncang gempa besar setidaknya tiga kali dalam jarak waktu sekitar satu abad per kejadian. Tiga gempa itu masing-masing-masing-masing terjadi pada 5 Januari 1699 kemudian 22 Januari 1780 dan 10 Oktober 1834.

Menurut penelitian lebih lanjut, Jakarta sendiri masih masuk dalam wilayah yang dipengaruhi oleh tiga zona patahan. Ketiga zona tersebut adalah Patahan Baribis, Patahan Kendeng dan Indo-Australia yang terletak di selatan Pulau Jawa. Oleh karena itu Kepala BNPB juga meminta agar BPBD DKI Jakarta juga mementingkan upaya mitigasi, khususnya untuk infrastruktur sarana transportasi massal dan obyek vital, karena bagaimanapun keselamatan masyarakat adalah tanggung jawab Pemerintah Daerah.

“Buat mitigasi khusus untuk transportasi umum seperti LRT, MRT, KRL. Karena tanpa ada mitigasi yang baik, para pengguna transportasi ini bisa terjebak dalam kondisi yang buruk jika terjadi bencana. Segera lapor ke Gubernur untuk mengambil langkah,” tegas Doni.

Selain gempa bumi, potensi ancaman bencana bagi wilayah Jakarta juga datang dari gunung api. Lulusan akademi militer angkatan 1985 itu kembali menyinggung peristiwa Gunung Krakatau yang meletus dan berdampak bagi wilayah Selat Sunda hingga Jakarta pada abad 18 silam. Selain itu potensi gunung api juga bisa saja datang dari Gunung Gede Pangrango dan Gunung Halimun Salak.

Masih dalam kesempatan yang sama, jenderal yang sukses mempelopori program Citarum Harum itu juga memaparkan tentang fenomena pergerakan tanah berupa penurunan permukaan tanah yang terjadi di Ibu Kota khususnya di wilayah pesisir utara. Penggunaan air tanah yang berlebihan dan pesatnya pembangunan gedung bertingkat menjadi faktor penyebab terjadinya fenomena tersebut. Jakarta sendiri menjadi kota dengan penurunan tanah yang tercepat di dunia. Di sisi lain, kandungan air tanah di Jakarta sudah banyak tercemar oleh zat yang berbahaya.

“Penurunan muka tanah di Jakarta menjadi yang tercepat di dunia. Air tanah di DKI Jakarta juga sudah tercemar dan tidak layak konsumsi. Cisadane, Citarum dan Ciliwung menjadi tiga sungai besar yang melewati Jakarta dan mengandung timbal hingga merkuri,” ungkap Doni.

Pos terkait