Komisioner KPAI Geram Anak-anak Terlibat Demonstrasi Anarkis UU Cipta Kerja

  • Whatsapp
Foto : Kolase pelibatan anak-anak saat demonstrasi menolak UU Cipta Kerja di Jakarta, Selasa (13/10). [ist]
Foto : Kolase pelibatan anak-anak saat demonstrasi menolak UU Cipta Kerja di Jakarta, Selasa (13/10). [ist]

WARTALIKA.id – Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) menyesalkan masih adanya pelibatan anak-anak dalam unjuk rasa/demo yang berakhir anarkis. Hal ini dikatakan Komisioner KPAI Bidang Hak Sipil dan Partisipasi Anak, Jasra Putra dalam keterangan persnya di Jakarta. Selasa (13/10/2020).

“Lepas diumumkan dari mobil komando aksi selesai. Tiba tiba di depan saya nampak dua orang saling menarik baju dalam kondisi lari, yang dilerai ratusan orang. Kondisi tidak kondusif tersebut menyebabkan saya berusaha menjauh,” terang Jasra.

Bacaan Lainnya

Dirinya mengikuti aliran massa yang padat mengalir menuju gambir. Namun Jasra membelokkan diri karena belum Sholat ashar. “Pintu Monas patung kuda saya menuju Masjid dalam parkir IRTI. Saya melihat jam 15.44 WIB”.

Ditengah sholat, kata dia suara dentuman berulang kali, yang membuat mata saya perih. Sangat terlihat kepulan asap memenuhi Masjid di Parkir IRTI Monas.

Selepas sholat, didalam pagar Monas, Komisioner KPAI itu melihat anak-anak melempari pasukan anti huru hara yang berusaha pelan-pelan bergerak membubarkan massa yang melempari kepolisian. Sampai pukul 16.38 Wib dentuman suara dan raungan ambulan masih terus menggema.

Demonstrasi tolak Omnibus Law yang awalnya kondusif diakhiri kerusuhan, KPAI sangat menyayangkan anak anak kembali jadi martir terdepan dengan mereka berani melempari kepolisian. Bahkan nampak ada yang mendekat pasukan bermotor kepolisian.

“Cukup tegang pemandangan anak-anak yang terus di desak mundur, dengan terus mereka melempari aparat kepolisian,” urai Jasra.

Situasi anak-anak dalam demo demonstrasi kelihatan berkelompok kelompok dan tidak memperhatikan orasi dari mobil komando.

“Saya coba mengajak beberapa anak pakai masker, kemudian mereka menurutinya, kecuali anak anak yang merokok,” tutur Jasra.

Pengamatan KPAI dari tahun 2017 sampai 2019 pelibatan anak dalam kampanye Pilkada, Pilpres trennya meningkat. Namun kenyataannya anak anak lebih massif pada aksi penolakan RUU, seperti RKUHP, RUU KPK, RUU HIP, dan Undang Undang Cipta Kerja. Kekerasan dan kerusuhan justru banyak terjadi disini yang melibatkan anak anak.

“Padahal malam sebelumnya pada Jumat 9 Oktober  saat saya mendatangi Polda Metro Jaya melakukan koordinasi disampaikan ada 5 anak menjalani proses hukum pasca demo Kamis sore, karena terlibat kerusakan fasilitas publik. Kemudian koordinasi kembali pada Sabtu 10 Oktober dengan Mabes Polri, terlaporkan 3.565 anak telah diamankan. Tentu saja dengan kerusuhan hari ini akan menambah barisan anak anak yang diamankan. Mengapa harus anak anak?,” ucap Jasra.

Menurutnya, anak anak menjadi kelompok rentan didalam lautan massa seperti ini, apalagi kondisi pembatasan selama pandemi, menambah ketertekanan anak. Tentu dengan membanjirnya informasi ini, menyebabkan anak anak mudah terlibat, akibat kondisi psikologis mereka.

Lanjutnya, ditambah kepemahaman mereka yang masih dalam tahap berkembang disertai emosional yang belum stabil. Maka memudahkan anak anak menjadi martir kekerasan.

“Ini yang harus disadari para penyelenggara demonstrasi. Tanpa harus bilang mereka sedang mengajak anak pada ancaman jiwa dan mudahnya mereka terpengaruh dalam psikologis aksi massa,” ujar Jasra.

Psikologis anak anak yang akrab dengan gadgetnya dan produksi ekspresi politik di gadget yang masuk ke akun dan grup mereka. Menyebabkan anak banyak mengkonsumsi ekspresi politik hari ini. Dan situasi pembatasan menyebabkan mereka terpanggil untuk datang.

Informasi yang diterima anak anak, mereka khawatir aturan ini mengancam pada mereka dan orang tua. Dengan informasi yang sangat terbatas diterimanya, namun karena ramai di akun dan medsos mereka, menyebabkan mereka sampai disini.

Ditambah latar belakang anak yang saya jumpai berada dalam perlindungan keluarga yang minim. Seperti putus sekolah, ortu jarang pulang karena temptmat kerja yang jauh, PJJ yang berakhir menjadi aktifitas pengajaran offline yang hanya berujung penugasan pekerjaan rumah.

“KPAI sangat khawatir bila kondisi ini terus berlangsung berhari hari. Maka trennya anak anak akan semakin banyak yang terlibat. Dan kecenderungn demonstrasi rusuh selalu melibatkan anak anak. Karena mereka tidak sekuat orang dewasa dan muda terpengaruh,” bebernya.

Bayangkan saja, kata Jasra pengamanan kepolisian lebih banyak anak anak dibanding orang dewasanya. Padahal kita tahu anak anak hadir di aksi dan terus menjadi hal yang semakin buruk dari dampak ajakan orang dewasa.

“Untuk itu KPAI akan segera melaksanakan Sidang Pleno dengan memanggil lintas Kementerian dan Lembaga, OKP Pelajar berbasis agama, Ormas dan Forum Anak Nasional dalam urun rembug situasi yang melibatkan anak anak ini,” pungkasnya.

Pos terkait