Lahirnya Pancasila Menumbuhkan Sikap Saling Menghargai

  • Whatsapp
Lahirnya Pancasila
Foto : Muhammad Fahmi Akbar

WARTALIKA.id – Lahirnya Pancasila tidak lepas dari sebuah ide untuk memperjuangan kemerdekaan, yakni “Hak Berbangsa dan Bernegara tanpa Penindasan.” Sebagaimana saat kelahirannya, bahwa Pancasila bukan produk perenungan di ruang kosong, maka agar dapat menyelami kedalaman untuk memahami makna Pancasila, ia juga harus diletakkan dalam Perspektif Ruang, Waktu, dan Permasalahan Konkrit yang dihadapi Bangsa Indonesia (juga untuk saat ini).

Pancasila yang dicetuskan oleh para pemimpin terdahulu, merupakan jalan tengah dari semua unsur yang berbeda-beda. Pancasila tidak sekedar menjadi hiasan dinding, dibaca setiap upacara, dan dijadikan alat kekuasaan.

Bacaan Lainnya

Agar dapat memahami Pancasila, tidak bisa lepas dari:
1. Panitia sembilan
2. Budaya bangsa
3. Latar keadaan saat itu

Panita sembilan adalah kumpulan orang-orang yang dinilai mampu dan mewakili seluruh komponen bangsa. Merekalah yang meletakkan dasar negara ini dengan nama Pancasila. Resmi di berlakukan pada tanggal 18 Agustus 1945, tepat sehari setelah kemerdekaan.

Budaya bangsa Indonesia terkenal dengan gotong-royong. Budaya ini menjiwai lahirnya Pancasila. Melalui budaya tersebut Pancasila lahir dengan perdebatan yang luar biasa dalam sidang BPUPKI sampai terbentuknya Panitia Sembilan. Namun dengan semangat gotong-royong hadirlah kebersamaan dan kesepakatan nasional. Itulah Pancasila dengan segala keunikannya.

Latar keadaan pada saat itu adalah perang. Tidak dapat di pungkiri bahwa perang menuntut banyak pengorbanan. Strategi dan pemikiran yang matang. Serta manusia yang gagah berani. Situasi tersebut turut mewarnai lahirnya Pancasila. Sehingga lahir pemikiran hebat dengan tokoh yang hebat dan pengorbanan luar biasa. Hadirlah Pancasila yang merupakan gabungan dari semua itu.

Memahami lahirnya Pancasila akan menumbuhkan sikap saling menghargai. Tanpa mereka, Pancasila tidak akan ada. Tanpa Pancasila tidak ada bangsa. Tanpa perjuangan tidak ada Indonesia.

Muhammad Fahmi Akbar

Pewarta : Sugeng

Pos terkait