Terjaring Razia di Hotel, KPAI Sayangkan 37 Pasangan Remaja Ini

  • Whatsapp

WARTALIKA.id – Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) menyayangkan adanya 37 pasangan siswa SMP yang diamankan saat akan mengadakan pesta seks di Kota Pasar Jambi pada Rabu (8/7/2020) lalu.

Menurut, Komisioner KPAI Bidang Hak Sipil dan Partisipasi Anak, Jasra Putra, bahwa besarnya pasangan siswa SMP yang terlibat, menandakan anak- anak remaja ini sangat rentan. Kebutuhan tumbuh kembang pubertas di usia produktifnya tidak tersalurkan dengan baik, karena semua akses dibatasi.

Disisi lain ketidakpastian yang dialami setiap individu di masa pandemi, menambah jauhnya pengawasan anak- anak remaja yang sangat butuh perhatian.

“Pengurangan layanan pada anak, juga menyebabkan bermunculnya kejadian tersebut. Bilamana tidak segera diatasi, maka situasi akan semakin mengkhawatirkan,” ujar Jasra dalam keterangan tertulisnya, Kamis (16/7).

Ia mengungkapkan, seperti pengurangan ini menyebabkan remaja sulit konsentrasi, jam kegiatan yang kurang, kecemasan berlebihan, tidak produktif di kehidupan sehari hari, emosi tidak stabil dan sulit beradaptasi dengan kondisi sekarang.

“Tidak ada tempat, panggung mereka di masa pandemi. Ketergantungan pada gadget menyebabkan juga agresifitas yang tinggi, hormon stress atau tekanan juga tinggi dengan fasilitas yang berkurang, yang berakhir pada mencari eksistensi sendiri. Dalam tanda kutip ‘bisa dihargai’, kata dia.

Berdasarkan data SIMFONI PPA yang dimiliki Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak dari Januari-Juni tercatat 3.087 kekerasan anak. Angka ini menjadi sirine berbahaya di masa Covid 19. Bahkan korban dan pelakunya dinyatakan banyak anak-anak.

“Dengan data remaja kita yang mencapai sebesar 67.268.900 jiwa (Data BPS 2020). Ada 25% data remaja kita dari total jumlah penduduk Indonesia yang berpotensi mengalami peristiwa serupa, jika pengurangan layanan buat anak-anak dan remaja kita terus terjadi,” lanjutnya.

Karena dalam masa Covid-19 pengurangan layanan tidak bisa dicegah. Dengan adanya keterbatasan selama pandemi dan perhatian setiap individu lebih berat kepada dirinya, menyebabkan remaja tanpa pendampingan. Pentingnya orangtua, lingkungan, kementerian, lembaga, entitas aktifis dan pelindung anak memberi perhatian lebih situasi ini dan melakukan inovasi layanan mereka.

“Pasca peristiwa tersebut, ada 37 pasangan siswa SMP yang harus diberi perhatian lebih dan diberi solusi atas situasi mereka di masa Covid-19. Jika hanya berorientasi pada hukuman, akan menjadi kegagalan kita semua,” jelas Jasra.

Ia menegaskan, jumlah 37 pasangan ini menggambarkan remaja kita sangat tertinggal dalam kampanye pemberhentian penularan Covid 19 yang diselenggarakan berbagai tempat. Situasi jiwa yang tidak baik dalam menerima kampanye ini, bisa berdampak penolakan di remaja dan menyebabkan peristiwa ini terjadi.

“Perlu inovasi dan himbauan terus menerus agar remaja kita juga turut serta dalam pengurangan risiko masa pandemi ini di berbagai bidang,” imbuhnya.

KPAI meminta Kementerian Pariwisata dan Asosiasi Hotel berkomitmen terhadap penyelenggaraan perlindungan anak.

“Harusnya jadi pembelajaran para hotel dalam melihat pergerakan anak anak sebanyak itu, harusnya jadi kecurigaaan dan deteksi dini dalam menerima anak anak menggunakan jasa hotel,” tegasnya.

Pihaknya pun mengapresiasi petugas yang segera menyelamatkan anak anak di hotel tersebut.

“Pemerintah daerah harus memberi sanksi, jika jelas-jelas hotel melakukan pembiaran peristiwa seperti ini,” pungkasnya.

  • Whatsapp

Pos terkait