Komnas PA Kecam Pelaku Pembunuhan dan Pemerkosaan Anak 7 Tahun

  • Whatsapp

WARTALIKA.id – Ketua Komisi Nasional Perlindungan Anak (Komnas PA) Arist Merdeka Sirait mengecam dan meminta pemuda berinisial RD (18) yang menjadi terduga pelaku pemerkosa dan pembakaran anak berusia 7 tahun hingga tewas di Kabupaten Dompu, Nusa Tenggara Barat (NTB) pada minggu 19 Juli 2020 lalu, dihukum seberat-beratnya.

Selain hukuman seumur hidup, bahkan hukuman mati juga bisa diterapkan kepada tersangka.

Baca Juga :

Arist meminta tersangka dijerat dengan pasal berlapis, yaitu Pasal 81 Pasal 82 UU RI Nomor 35 tahun 2014 tentang perubahan atas UU RI Nomor 23 tahun 2002 tentang Perlindungan Anak.

Kemudian, UU RI Nomor 17 Tahun 2016 tentang penerapan Perpu Nomor 01 Tahun 2016 mengenai perubahan kedua atas UU RI Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak.

“Mengingat tindakan pelaku teramat sadis dan diluar akal sehat manusia bahkan merupakan suatu tindak pidana khusus ( extraordinary crime ) dan tindak kriminal luar biasa maka sepantasnya tersangka mendapat hukuman seumur hidup atau hukuman mati,” ujar Arist di Jakarta, Kamis (6/8/2020).

Ia mengatakan kepada media di kantornya, untuk kasus pembakaran anak dan kejahatan seksual ini, Komnas PA Indonesia meminta orangtua, keluarga dan masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan dan perhatian extra terhadap anak.

“Jangan tinggalkan anak dirumah pada posisi tidak nyaman dan jangan pula menitipkan anak kepada orang sembarangan,” pesannya.

Menurut dia, karena fakta menunjukkan bahwa umumnya pelaku kejahatan seksual adalah orang terdekat korban dan dikenal oleh anak. Dengan demikian rumah harus diciptakan sebagai basis terdepan untuk menjaga dan melindungi anak dari serangan kekerasan dan eksploitasi.

Kasus pemerkosaan dan pembakaran beserta rumah korban di Kabupaten Dompu, NTB ini berhasil diungkap pihak kepolisian hingga tersangka berhasil diamankan.

“Nasib malang bocah perempuan berumur 7 tahun ini ternyata sengaja dibakar oleh RD, dia mengaku panik usai memerkosa korban hingga tak sadarkan diri,” ungkap Arist.

Kasusnya Berhasil Diungkap

Polres Dompu melalui Kasat Reskrim Iptu Ivan Ronald Cristofel, menerangkan kasus ini terungkap setelah pihaknya memeriksa RD sebagai saksi dalam kebakaran.

“Dari keterangan RD berbelit- belit dan berubah-ubah. Awalnya pelaku diperiksa sebagai saksi. Karena saat kejadian dia tidur di emperan rumah warga dekat lokasi kebakaran, ” kata Ivan di Dompu, Selasa (4/8) kemarin.

Setelah digali keterangan, RD mengakui memperkosanya hingga korban tak sadarkan diri. Pelaku tak bisa menyangkal ketika polisi menemukan sisa bercak cairan putih di celana juga disekitar kemaluan.

“Sebelum RD memperkosa korban, pelaku mengaku minum-minuman beralkohol bersama dua rekannya, hanya saja usai pesta miras kedua rekannya pulang ke rumah masing-masing. Namun RD justru memiliki niat jahat kepada korban. Sekitar pukul 03.00 WITA, kemudian RD masuk ke dalam rumah korban yang sedang tidur sendirian,” tambahnya.

Sedangkan kedua orangtua korban tidur di kios kecil tempat mereka jualan yang tak jauh dari rumahnya. Karena panik, RD langsung membakar karpet dan gorden rumah yang menyebabkan rumah terbakar dan menewaskan korban.

Tindakan membakar rumah bersama korban dimaksudkan untuk menghilangkan jejak dan kejadian yang menimpa korban. Seolah-olah kematian korban adalah murni kebakaran.

“Kasus ini sudah di sekenario pelaku seolah-olah korban meninggal karena kebakaran,” sebut Ivan.

Guna mempertanggungjawab atas perbuatannya kini RD sudah ditahan di Mapolres Dompu untuk menjalani proses pemeriksaan lebih lanjut.

Pos terkait