Kecam Pelaku Penusukan Syekh Ali Jaber, Direktur Laksamana : Nama Baik Polri Dipertaruhkan

  • Whatsapp
Samuel F Silaen
Foto : Samuel F Silaen

WARTALIKA.id – Apa yang menimpa Syekh Ali Jaber adalah kejahatan kemanusiaan yang hakiki, bukan karena faktor agama yang disandangnya. Polisi harus segera menuntaskan kasus ini, sebab ini “warning” mengingat kerawanan situasi pelaksanaan pilkada serentak 2020 ini.

“Nama baik Polri dipertaruhkan dalam kasus penusukan Syekh Ali Jaber. Polisi harus mampu mengungkap kasus ini sampai tuntas, jangan sampai terjadi mis interpretasi dari semua kalangan, soal pengungkapan kasus ini, jadi pembuktian kepada aparat kepolisian republik Indonesia. Bahwa Polri mampu,” kata Direktur Eksekutif Lembaga Kajian Studi Masyarakat dan Negara (LAKSAMANA) Samuel F Silaen kepada wartawan di Jakarta, Rabu (16/9).

Bacaan Lainnya

Saran Direktur Laksamana, Polisi harus transparan membuka informasi soal penyebab, mengapa orang tersebut melakukan hal demikian kepada Syekh Ali Jaber. Apa yang terjadi dan dialami yang bersangkutan sampai begitu tega menusuk orang.

“Kasus penusukan Syekh Ali Jaber sangat viral, bahkan lebih heboh dari kasus penusukan Menteri Jenderal Purnawirawan TNI Wiranto yang terjadi sewaktu kunjungan kerja di propinsi Banten,” ulas Silaen.

Lanjutnya, kecaman demi kecaman terlontar dari banyak kalangan, menuntut polisi segera mengungkap motif dan niat penusuk. Penegak hukum, kata dia harus berlaku sama dan adil kepada semua warga negara tanpa pandang bulu, tanpa diskriminatif, polisi harus bekerja keras, cerdas dan tuntas.

Menurut Silaen, polisi harus bekerja profesional, meskipun polisi seperti merasa terintimidasi oleh desakan suara publik, itu agar polisi menyelesaikan kasus penusukan tersebut segera, jangan sampai berlarut-larut.

“Harus diungkap apa latar belakangnya sampai berani menusuk ulama Syekh Ali Jaber yang lagi ceramah agama, apa penyebab penusuk tersebut sangat tega melakukannya,” pinta Silaen.

“Kalau perlu ditayangkan live ke publik, agar masyarakat melihat langsung penjelasan dari mulut penusuk tersebut. Biar rakyat menonton dan dipuaskan keingintahuannya terkait kasus ini,” tambahnya.

Dikatakannya, rakyat sekarang sedang dihinggapi sindrom tak percaya bahkan sulit percaya, jika polisi sendiri yang menyampaikan ke publik. Hal itu karena elite politik, tokoh masyarakat, tokoh agama, seolah bimbang kepada profesionalitas polisi didalam menuntaskan kasus-kasus serupa yang pernah terjadi.

Itulah kesan dan pesan yang dibaca publik dari ragam pernyataan, desakan yang dialamatkan kepada institusi Polisi Republik Indonesia saat ini. Seolah ada awan hitam yang menghalangi cahaya yang dipancarkan oleh Korps Bhayangkara selama ini.

“Publik seolah tak percaya kejadian penusukan itu, spontanitas dilakukan oleh yang bersangkutan, jadi ini tantangan berat sekaligus harapan rakyat hadirnya keadilan bagi seluruh rakyat Indonesia dari Merauke sampai ke Sabang,” tegas Silaen.

Tokoh agama manapun tanpa harus melihat apa agamanya harus dilindungi oleh negara, para penegak hukum harus jamin keselamatan warga negara dimanapun berada. Hukum tak bisa pandang bulu, semua warga negara harus mendapat perlakuan yang sama.

“Jika hari ini polisi berdiri tegak lurus bekerja keras, cepat dan tuntas, itu bagian dari profesionalisme polisi yang sudah teruji seiring usianya. Polri punya tugas dan fungsi sebagai pengayom, pelindung dan pelayan masyarakat,” pungkas Silaen. [*]

Pos terkait