Pahit Manis Kunker Bersama Bupati Asmat Dipenghujung Akhir Tahun 2018

  • Whatsapp
Foto : Saat dr. Fajri Nurjamil saat memberikan tindakan awal kepada Serda Rubiyono

Cerita kenangan manis perjalanan kami di penghujung akhir Tahun 2018 bersama rombongan Bupati Asmat Elisa Kambu saat melakukan Kunjungan Kerja (Kunker) pada beberapa distrik di wilayah Kabupaten Asmat.

Cerita singkat perjalanan kami di pedalaman Kabupaten Asmat saat Bupati Asmat Elisa Kambu mengunjungi salah satunya kampung yakni Kampung Suagai Distrik Awyu dalam rangka meresmikan gereja di kampung tersebut pada hari Jum’at tanggal 21 Desember 2018.

Setelah diresmikanya gereja itu, segera saya dan rombongan di intruksikan Bupati Asmat Elisa Kambu untuk kembali ke Ibu Kota Agats Kabupaten Asmat agar besok harinya melanjutkan perjalanan ke Distrik Pantai Kasuari serta distrik-distrik lainnya yang berada di wilayah pantai Safan Tanah Asmat.

Singkat cerita saya dan rombongan dalam perjalanan pulang dari Kampung Suagai Distrik Awyu, kami di pertemukan dengan salah satu Armada Fiber 15 PK milik masyarakat Kampung Sagare Distrik Awyu yang ditumpangi seorang Prajurit TNI-AD berpangkat Sersan Dua yakni Rubiyono selaku Babinsa Distrik Awyu yang mengalami jatuh sakit sehingga warga tersebut ingin mengantar prajurit TNI itu ke Puskesmas Distrik ATSJ Kabupaten Asmat.

Awal sebelum pertolongan kami kepada Babinsa Distrik Awyu ini. Tampak terlihat oleh kami sang Driver selaku warga Sagare ini bersama anaknya melambaikan tangan meminta pertolongan untuk membantu mengevakuasi Sang Sersan dengan Armada Speedboat 115 PK yang kami tumpangi dalam perjalanan mendampingi Bapak Bupati dalam kunjungannya ke Distrik Awyu.

Setelah kami mendekati Fiber 15 PK tersebut melihat Serda Rubiyono yang masih berseragam lengkap TNI AD ini, saya dan rombongan merasa kaget melihat Rubiyono Sang Sersan Dua Babinsa Distrik Awyu ini dalam keadaan kesakitan berat, bahkan agak susah untuk bergerak hanya terlihat terbaring lemas tak berdaya di dalam Armada Fiber 15 PK yang ditumpangi itu.

Tanpa memandang siapapun dia, salah satu dokter umum yang ikut dalam rombongan mendampingi Bupati Kabupaten Asmat yakni dr. Fajri Nurjamil ia dengan cepat melakukan tindakan pertolongan pertama dalam pemeriksaan keadaan umum kepada sang prajurit di kali ayip Distrik Awyu yang berbatasan langsung dengan Distrik Atsj Kabupaten Asmat tersebut.

Posisi keadaan darurat yang kami alami, dokter berdarah Aceh ini meminta kami agar memindahkan Babinsa Distrik Awyu ke speedboat 115 PK yang kami tumpangi agar di larikan ke Puskesmas Distrik Atsj untuk mendapatkan pemeriksaan laboratorium dan perawatan lanjutan.

Hal ini karena menurut dokter umum yang bertugas sehari-hari pada Distrik Suru-Suru ini bahwa sang prajurit dicurigai mengalami gejala malaria berat setelah beliau melakukan pemeriksaan dari keluhan yang disampaikan oleh Prajurit Babinsa Distrik Awyu dengan bahasa terbata-bata dalam keadaan menggigil berat.

Sungguh tidak sia-sia kami bisa menolong Serda Rubiyono dalam keadaan lemas tak berdaya dengan kondisi suhu badan nya panas tinggi, tampak mengigil, nyeri kepala hebat, susah untuk bergerak dan juga disertai dengan rasa mual dan muntah.

Setelah dr. Fajri memberikan tindakan awal dari peralatan medis dan obat-obataan yang sudah beliau persiapkan sebelum perjalanan kami bersama rombongan Bupati Asmat Elisa Kambu. Tidak lama kemudian berkisar selang waktu kurang lebih 10 menit setalah tindakan yang diberikan oleh dokter, Serda Rubiono merasa keluhan berat nya berkurang, panas nya mulai menurun, rasa nyeri kepala hebat berkurang dan sudah bisa duduk tanpa harus berbaring di dalam Speedboat 115 PK yang kami tumpangi.

Atas permintaan Sang Prajurit kepada Dokter dan rombongan, agar beliau dilarikan ke RSUD Agats Kabupaten Asmat, maka dengan pertimbangan dokter setelah melihat keadaan umum Sersan Dua Rubiyono sudah mulai membaik, atas izin dari dokter maka kami melanjutkan perjalanan ke Ibukota Agats Kabupaten Asmat bersama sang prajurit Babinsa Distrik Awyu.

Dalam perjalanan panjang menuju ke Kabupaten Asmat, kami tidak berjalan dengan mulus, kami harus melewati hantaman ombak di lautan Safan dari muara ATSJ dan Muara Bokap, namun dengan izin Tuhan perjalanan kami tiba dengan selamat di ibukota Kabupaten Asmat.

Setiba kami di ibukota Asmat, sang dokter langsung menghubungi Driver ambulance RSUD Agats untuk menjemput Serda Rubiono di kediaman Bapak Bupati untuk di bawa ke Instansi Gawat Darurat (IGD) RSUD Kabupaten Asmat.

Saya dan rombongan sangat berterima kasih kepada Dokter Fajri karena dalam perjalanannya bersama rombongan Bupati Asmat dalam kunjungan ke wilayah pantai safan yang bertujuan mengisi kekosongan waktunya selama beliau di Ibukota Kabupaten Asmat sebelum kembali ke tempat tugas di Distrik Suru-Suru di lembah pegunungan tengah di wilayah pedalaman perbatasan Kabupaten Asmat.

Niat Sang dokter ingin ikut bersama rombongan Bapak Bupati karena alasanya beliau rindu dengan lautan Safan yang penuh misteri dimana Distrik Safan di pedalaman Kabupaten Asmat adalah tempat beliau menjalankan tugas perdana di pedalaman Kabupaten Asmat Tanah Papua 5 tahun silam yang ditugaskan oleh Kementerian Kesehatan (Kemenkes) melalui formasi Dokter PTT Pusat periode Juni 2013. Kata dokter muda ini saat saya mengajak berbincang-bincang denganya setelah menyelamatkan Babinsa Distrik Awyu ke Ibu Kota Agats Kabupaten Asmat.

Sementara itu, Dokter Fajri Nurjamil beliau adalah lulusan Fakultas Kedokteran Abulyatama (FK.UNAYA) Banda Aceh angkatan 2004 serta Dokter Umum pertama “berasal dari Aceh” yang mengabdikan dirinya di pedalaman Kabupaten Asmat sekitaran pertengahan Tahun 2013 silam sampai dengan sekarang.

Kalimat manis yang saya ingat saat berbincang dengan dirinya, ia melontarkan salah satu pesan moral seperti para pujangga terdahulu dalam bait syair-syair buku yang telah usang bersama derap waktu yang telah berlalu yaitu “Selagi Masih Ada Waktu, Apapun Profesi Kita dan Dimanapun Kita Berada Melayanilah Tanpa Batas, Karena Semua yang Kita Miliki Hanyalah Titipan Tuhan Kepada Kita Ummat Manusia Untuk Saling Berbagi,” pesannya.

Sedangkan menurut dokter yang memiliki senyum ramah ini konon katanya, walaupun dirinya sudah sebelas kali terserang malaria baik dalam kondisi ringan maupun berat dalam kurun waktu berjalan tahun ke-6 di pedalaman Kabupaten Asmat Tanah Papua tidak menyurutkan semangat beliau dalam memberikan pelayanan kesehatan untuk masyarakat di pedalaman Kota Bertajuk Seribu Tiang tersebut.

Sedangkan saat saya bertanya bagaimana rasanya beratnya medan dipedalaman Kabupaten Asmat Tanah Papua dalam melakukan pelayanan kesehatan kepada masyarakat. Ia hanya melebarkan senyumnya dengan mata berkaca-kaca dan menjawab singkat kepada saya, “Yang Berat Itu Hanya Rasa Rindu Anak-Anak dan Istri Tercinta yang Jauh Disana,” ungkapnya.

Harapan saya sebagai penulis. Semoga semua orang yang mengabdikan dirinya di Kota Seribu Tiang ini agar bekerja dengan sebaik-baiknya disertakan niat yang tulus dalam menjalankan tugas keseharian di Tanah Asmat Papua yang kita cintai ini.

Pos terkait