Perlu Regulasi Daerah untuk Emawa dan Owaada

  • Whatsapp
Emawa dan Owaada
Foto : Jhon NR Gobay (paling kanan)

Belajar memahami Emawa dari cerita bapak saya dan lebih mendalami sejak tahun 2003. Saat saya tinggal di Meeuwo saya jalan berkeliling Tigi dan ke Paniai sampai di Agamoma dan Bogo serta selama mengurus Dewan Adat terlalu sering saya mengadakan diskusi dengan Para Petua dari Tigi, Paniai dan Agadide. Dengan itu saya mendapat gambaran tentang Emawa dan Owaada.

Emawa dan Owaada

Bacaan Lainnya

Keterkaitan antara Emawa dan Owaada adalah dua hal yang sangat erat, karena dalam Emawa terjadi demokrasi dan  proses pendidikan tentang nilai, dan Owaada yang adalah tanaman asli dan makanan yang memberikan  hidup serta terdapat di sekitar atau dalam Emawa.

Sehingga agar nilai-nilai tentang hidup itu dapat bertahan dengan baik atau dilestarikan maka  Emawa haruslah dipertahankan atau dihidupkan kembali supaya nilai-nilai tentang pentingnya Owaada tetap menjadi bagian yang tidak terpisahkan, sebab di-sekeliling Emawa haruslah terdapat Owaada.

Emawa adalah Rumah Kebenaran orang Mee dan Owaada adalah Taman Firdausnya orang Mee. Maka dua hal ini sangat erat hubungannya karena menggambarkan suatu yang merupakan satu kesatuan yang sangat integral, Rumah Kebenaran dan Taman Kebenaran atau Rumah Sakral, sehingga dua hal ini merupakan hal yang sangat mendasar dan merupakan tujuan dan asal.

Relevansi Emawa dan Owaada

Emawa adalah Tempat Musyawarah atau Tempat Melakukan Praktek Demokrasi, ditempat ini segala hal baik, hal yang baik maupun tidak baik mereka bicarakan antara lain perkembangan marga, kehidupan dalam masyarakat, penyelesaian masalah serta hal-hal lain tentang nilai-nilai yang datang dari berbagai pihak yang datang kepada masyarakat adat.

Oleh karena itu agar pembangunan dapat berjalan dengan baik maka Emawa haruslah dapat dijadikan sebagai basis Tempat Perencanaan Pembangunan di Kampung. Tempat membicarakan tentang sebuah rencana atau proyek yang akan dilaksanakan oleh pihak-pihak baik swasta social atau profit di kampung atau distrik sehingga terwujud dan nyata pelaksanaan Pembangunan Partisipatif sehingga Masyarakat Adat betul akan menjadi Subyek Aktif dalam Pembangunan.

Sejalan dengan itu agar supaya Masyarakat Adat menjadi akrab atau merasa tidak terpisahkan dalam hidup dengan Pemerintahan dan Pembangunan di daerahnya, maka baik juga jika Kampung atau RT di kampung di rubah namanya dengan Emawa seperti Nagari yang ada di daerah Padang Sumatra Barat, sehingga masyarakat merasa memiliki atau merupakan bagian yang integral karena yang ditetapkan adalah nama menurut budayanya sendiri, karena  Emawa merupakan perpangkalannya Masyarakat Adat.

Hal ini merupakan hal yang sangat penting, sehingga akan sangat baik jika Emawa yang pernah ada menurut marga dipakai sebagai dasar Penataan Pemerintahan Kampung, sehingga Pembangunan haruslah dimulai dari perpangkalan atau dari Rumah Adat (Emawa).

Dalam Emawa juga mereka jadikan sebagai Tempat Pendidikan bagi generasi-generasi muda/anak-anak mengenai nilai-nilai dan norma-norma hidup agar dapat hidup lebih baik dalam nilai-nilai itu mereka juga diajarkan untuk memahami larangan-larangan dan perintah-perintah dalam melaksanakan hidupnya, dengan mengajarkan tentang pelestarian Totaiyo atau tanaman asli sebagai simbol atau identitas dari keaslian masyarakat adat.

Owaada merupakan Tanaman  yang ditanam disekitar Emawa yang adalah Rumah Kebenaran, jika semua orang, marga membangun Emawa dan Owaadanya dikampungnya ditempat bekas orangtua nya (Meiboka Owaakomo) dan itu semua kalau dibangun oleh semua Kampung, marga dan keluarga.

Untuk itu, marilah kita membangun Gerakan kembali kepada Rumah Kita (Emawa) dan Kebun kita (Owaada) karena itulah perpangkalan kita, asal kita dan pusat dari hidup kita.

Semoga Gerakan ini menjadi gerakan kita semua dan dibuat dalam regulasi daerah di Kabupaten Paniai, Deiyai dan Dogiyai karena kabupaten ini wilayah adat Suku Mee, yaitu Raperda Owaada sebagai Pangan Lokal dan Raperda Tentang Emawa.

Pos terkait