Merenungkan Musibah Kehidupan di Era Digital

Dunia sedang di hujani pembangunan berbasis teknologi, meskipun itu diperuntukkan ramah lingkungan dan mempermudah aktivitas. Namun bukan berarti menutup kemungkinan munculnya problematik baru, kondisi ini bernama digital yang sangat tergantung pada energi dan listrik.

Sesuai perkembangan zaman, dewasa ini adalah era global berbasis digital, sebuah keadaan yang dikelilingi dengan teknologi dan pembangunan berkesinambungan sebagai penunjang keberlangsungan kehidupan. Keadaan yang menggeser kebudayaan dari beberapa Negara. Mungkin Negara maju menjadi budaya produktif dan inovatif untuk terus memasarkan hasil cipta karsanya, mengembangkan sains, teknologi dan meningkatkan perekonomian nasionalnya. Dan bagi Negara terbelakang seperti Indonesia adalah mungkin menjadi budaya kontraproduktif, budaya destruktif yang membentuk warga negaranya hedonis, konsumtif, dan hanya menjadi pengguna dari produk-produk Negara maju.

Frekuensi perubahan ini di tangkap dengan cepat oleh semua kalangan masyarakat, dan tidak jarang dilakukan diskursus terhadapnya, baik itu melalui media cetak, media online, televisi, seminar dan sebagainya. Tujuannya adalah memilah keadaan untuk diikuti dan tetap adaptif serta eksis dalam kancah percaturan global. Sehingga tidak jarang kita temui bahwa semua pembahasan tentang digitalisasi dan perkembangan teknologi ini selalu memaparkan manfaatnya yang begitu besar dan dampak negatifnya sangat sedikit seperti penggeseran tenaga kerja manusia melalui robotics maupun otomatisai mesin. Sehingga perlu rasanya penulis paparkan problematikanya dari sudut lain guna penyeimbangan diskursus dan rambu kehati-hatian pada pemangku kebijakan dan kepentingan Negara serta kesiap siagaan warga negara.

Sebelum itu, merujuk dari gambaran Fukuyama melalui artikelnya tentang keadaan dunia dalam era ini, Indonesia yang berada di Asia mendapat sebutan Smart Cities. Jika penulis jabarkan berarti kondisi tersebut menempatkan Indonesia sebagai salah satu Negara pemasaran produksi Negara-negara maju. Seperti halnya Amerika Serikat yang memproduksi Industri of Internet, China dengan gadget serta Made in China nya, Negara-negara eropa dengan Industri 4.0, dan Jepang dengan Society 5.0, serta produk teknologi lainnya.

Bukan mengingkari program pemerintah dan seluruh wacananya secara nasional maupun pembangunan secara global yang tiada henti. Kendati perkembangan yang terus mendesak demikian perlu kita ketahui bahwa diluar manfaat dan kemudahan yang diperhitungkan ternyata mengandung musibah besar dalam kehidupan yang berasal dari ketersediaan energi dan pengelolaan listrik. Dimana kedua komponen tersebut menjadi inti dari penggunaan sekaligus penggerak teknologi, industri dan digital. Dan warga dunia sudah mulai tergantung pada digital dan teknologi, khususnya Indonesia.

Pertama, persediaan energi tentunya berbanding terbalik dengan pertumbuhan penduduk Indonesia maupun di dunia, dimana persediaan energi terus merosot namun pertumbuhan penduduk semakin meningkat. Memang benar industrialisasi di Indonesia sudah berlangsung lebih dari 100 tahun dan mulai gencar dari sejak tahun 1980-an, namun penyandaran Indonesia terhadapnya semakin menurun sebagai akibat dari kebutuhan kian meningkat. Dengan bangganya kita menatap langit lalu berkata bahwa Indonesia memiliki minyak, gas dan batubara yang besar di dunia. Namun pola konsumsi yang begitu meningkat, baik itu dari kendaraan bermotor maupun pembangunan rumah, industri dan sebagainya yang tanpa di imbangi dengan energi terbarukan menjadikan Indonesia Negara darurat energi.

Berbeda dengan Thailand dan Filipina yang telah menggunakan energi terbarukan, dimana Thailand menghasilkan 2.697 Megawatt dan Filipina menghasilkan 628 Megawatt. Sedangkan Indonesia masih berada pada energi terbarukan rendah dengan hasil 17 Megawatt tenaga surya ditambah 1 megawaat tenaga angin. Tak bisa disangkal, keadaan ini akan berbalik dan menjadikan Indonesia sebagai Negara pengimpor energi untuk melangsungkan kehidupan.

Kedua, kondisi listrik menjadi fokus yang diberikan perhatian khusus sebagai tonggak kehidupan era digital. Mengingat hampir seluruh aktivitas kehidupan masyarakat harus menggunakan listrik, dimana energi dan listrik merupakan kesatuan arus. Sebagai contoh listrik yang mati total di wilayah Jawa dan Bali pada hari Minggu kemarin (4 Agustus) selama 12 jam terasa meresahkan dan menghambat berbagai aktivitas, bahkan turut mendorong Presiden RI Joko Widodo mendatangi kantor pusat PLN. Terlepas dari penyebab padamnya listrik yang muncul dari berbagai kemungkinan, namun yang jelas listrik adalah kebutuhan yang masuk pada posisi primer di era digital ini.

Pada dasarnya manusia tidak makan selama satu hari, dua hari bahkan hingga seminggu masih bisa bertahan hidup dan beraktivitas seperti biasanya. Namun pada era digital, jika listrik mati sehari, dua hari hingga seminggu maka seluruh aktivitas akan terhenti. Memasak nasi tidak bisa, menyalakan air untuk minum, mandi, mencuci dan lainnya tidak bisa, mengakses internet tidak bisa, semua tempat terasa gerah, mengambil uang kredit tidak bisa, berkendara rawan kecelakaan akibat lampu lalu lintas tidak berfungsi, dan sebagainya. Belum lagi psikologi penduduk Indonesia sebanyak 171 juta jiwa yang memiliki ketergantungan pada internet, setiap harinya ratusan kali memegang smarthphone. 90 juta jiwa penduduk sisanya hanya para lanjut usia dan anak-anak yang belum tahu menggunakan smartphone.

Dalam banyak hal, kita mungkin mengabaikan kemungkinan-kemungkinan kondisi diatas dan menganggapnya sebagai lelucon. Namun tanpa disadari melalui sikap abai tersebutlah letak musibah lebih besar dan tidak terelakkan. Mengabaikan hal yang urgensi dan esensi kehidupan di era baru dengan ambisi pembangunan ugal-ugalan/hutang sana hutang sini adalah sebuah ketidakbecusan pemimpin menata kehidupan Negara dengan baik. Oleh karena itu, untuk seluruh program kerja pembangunan dan wacana pemerintah, sekiranya dua kondisi diatas menjadi bahan renungan untuk perbaikan bangsa yang berimplikasi pada generasi-generasi mendatang.

GTV

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.