Samuel F Silaen : Menanti Gebrakan Sang Petahana di Tengah Tantangan Global

Samuel F Silaen
Foto : Samuel F Silaen
GTV

WARTALIKA.id – Joko Widodo (Jokowi) melakukan pidato sebagai presiden terpilih di Sentul International Convention Center (SICC), Bogor, Jawa Barat, Minggu (14/7/2019) malam.

Jokowi menyampaikan pidatonya sebagai presiden terpilih dalam acara bertajuk “Visi Indonesia”.

Pidato kedua kalinya Jokowi ini berbeda isinya dengan pidato yang pernah disampaikan beberapa saat setelah Hakim Mahkamah Konstitusi (MK) membacakan hasil sidang sengketa Pilpres 2019.

Saat itu Jokowi yang didampingi Cawapres Ma’ruf Amin di Halim Perdanakusuma, Jakarta, Kamis (27/6/2019) malam menyampaikan pidatonya.

Dalam pandangan Direktur Eksekutif Lembaga Kajian studi Masyarakat dan Negara (LAKSAMANA), Samuel F Silaen, mengatakan banyak harapan yang dialamatkan kepada pundak petahana Presiden Jokowi yang terpilih kembali priode kedua 2019- 2024.

“Harapan rakyat itu sungguh besar, apalagi diperiode kedua ini Jokowi dengan bangga katakan bahwa dia sudah tidak punya beban, artinya dalam periode kedua ini Jokowi akan ‘gasspoll’ dan itu terkonfirmasi dalam pidato politik “Visi Indonesia” disentul Bogor,” ungkap Silaen dalam keterangan tertulisnya ke Redaksi WARTALIKA.id. Senin (15/7/2019).

Bagaimana tidak, sambungnya sang presiden dengan lantang  tanpa ‘tedeng aling-aling’ disampaikan akan “hajar dan sikat” jika ada berbagai kendala dan pihak penghambat sekaligus ‘penghianat’ yang coba merintangi lajunya program-program yang akan dijalankan Jokowi dalam periode kedua ini. Hal ini langsung disambut bunyi tepuk tangan dan riuh gemuruh, sorak-sorai para relawan yang hadir dalam acara tersebut. Ini pertanda baik menuju Indonesia maju. Semoga!

“Semoga pidato Presiden Jokowi ini bukan hanya ‘nyenengi’ para relawan. Sebab tantangan sedang menanti gebrakan kinerja sang presiden. Jika presiden salah dalam memilih pembantunya (menteri) maka yang akan terjadi adalah ‘sandera politik’ yang justru kontra dengan pidato politik Visi Indonesia,” tutur Ketua Umum Generasi Muda Republik Indonesia (GEMA-RI) ini. (baca juga : Membaca Sosok Pengatur Pertemuan Dua Tokoh Besar Bangsa “Jokowi dan Prabowo”)

Kesangsian saat ini masih ‘menggelayut’ membayangi apa yang akan terjadi masa pemerintahan priode kedua Presiden Jokowi ini, sebab kita belum melihat sosok-sosok profile yang akan mengisi kabinetnya. Ini sangat penting sebab Jokowi bukan ‘Superman’ tapi butuh ‘Superteam’ yang solid dan mampu melaksanakan semua janji-janji kampanye atau janji-janji politiknya.

Semua rakyat, semua kalangan, elite politik, pengusaha, tokoh agamawan, akademisi, mahasiswa dan lain-lain menunggu dilantiknya pembantu Presiden Jokowi.

Presiden Jokowi harus mampu menempatkan “the right man on the right place” agar semua perubahan menuju Indonesia maju bukan sekedar jargon politik. “Penuh kecepatan, penuh risiko, penuh kompleksitas dan penuh kejutan, yang sering jauh dari kalkulasi kita, sering jauh dari hitungan kita dapat terlaksana dengan baik”.

Lebih lanjut, Silaen mewanti-wanti bila dalam memilih pembatunya nanti Presiden Jokowi lebih banyak pertimbangan atas balas budi maka dipastikan kabinet akan terseok-seok ditengah jalan. “Karena Presiden akan sungkan menggebrak dengan alasan balas budi tersebut. Hal ini seharusnya tidak boleh sampai terjadi. Presiden Jokowi harus berani, tegas dan sikat ‘benalu’ pembangunan,” tegas mantan Ketua Bidang DPP KNPI ini.

“Rakyat dari Merauke sampai ke Sabang yang artinya dari terbitnya matahari hingga terbenamnya menantikan perubahan yang nyata.

Sekarang semua tergantung kepiawaian presiden dalam menjalankan roda pemerintahan dari pusat sampai kepinggiran,” pungkas Ketua Bidang Relawan Benteng Jokowi ini.

Pewarta : Agung

GTV

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.