Menjelang Kongres V PDIP di Bali, Silaen : Elite Moncong Putih Oto Kritik

PDIP
Foto : Samuel F Silaen
GTV

WARTALIKA.id – Tidak akan ada perubahan yang berarti di tubuh DPP PDIP partai “moncong putih” itu. Hal ini terlihat jelas dalam beberapa ‘steatmen’ yang ‘senada’ dari elite- elite partai moncong putih itu. Jadi kongres kali ini juga akan sama saja dengan Munas sebelum-sebelumnya.

Hal ini dikatakan Direktur Eksekutif Lembaga Kajian studi Masyarakat dan Negara (LAKSAMANA), Samuel F Silaen menjelang pelaksanaan kongres V  PDIP pada 8-10 Agustus 2019 di Bali mendatang, belum ada kandidat lain yang mencuat untuk mengisi posisi ketua umum selain Megawati Soekarnoputri.

“Elite ‘moncong putih’ menurut kaca mata saya ‘enggan’ atau bahkan tidak akan berani untuk sekedar berkomentar ‘oto kritik’ apalagi sampai berseberangan dengan  ‘komandan besar’. Jadi disatu sisi ini bagian dari ketaatan kepada komandan namun disisi lain akan mematikan nalar berpikir kritis manusia hidup, didalam elite moncong putih itu sendiri, “kata Silaen kepada Wartawan di Jakarta.

Dalam tradisi Cogito ergo sum adalah sebuah ungkapan yang diutarakan oleh Descartes, sang filsuf ternama dari Prancis. Artinya adalah: “aku berpikir maka aku ada”. Kalimat ini membuktikan bahwa satu-satunya hal yang pasti di dunia ini adalah keberadaan seseorang ketika berpikir dalam konteks ‘dialektika publik’.

Lanjut Silaen, dalam dunia politik berbeda pandangan itu hal yang wajar saja, tradisi dialektika itu bagian dari pencerahan dan pendidikan politik publik dan itu tidak salah, yang terpenting tidak “baper” atau bahkan menimbulkan ‘distabilitas’ internal. Yang catatan berbahaya jika itu sampai mematikan daya kritis manusia yang hidup, ditengah dunia yang dinamis dan berubah drastis, “ujar Silaen sebagai pengamat politik muda ‘zaman now’.

Kebebasan itu tidak slalu berdampak buruk apalagi dijadikan ketakutan yang membelenggu daya kritisme. Yang buruk itu jika sudah kebablasan alias ‘nyinyir’ berat yang ‘under controling’, itu jadi catatan pinggir saya dari hasil ‘terawangan’, ini terlihat jelas, ada semacam ‘belenggu’ psikologis, ” ungkap Silaen dengan wajah serius.

Perlu diketahui bersama bahwa PDI Perjuangan ini identik dengan partai ‘wong cilik’, kata Silaen karena PDIP ini jadi rumah kaum ‘minoritas’ sebab sampai saat ini belum ada ‘tandem’ yang memperebutkan basis massa tersebut.

Jika ‘flashback’ ke pasca reformasi ada beberapa parpol yang muncul untuk memperebutkan ‘ceruk’ massa tersebut namun karena PT (parliamentary threshold) maka gugur didalam ‘pertandingan’ misalnya partai damai sejahtera (PDS) yang awal kemunculannya cukup penomenal yakni mampu mendudukan anggota parlemen 13 kursi meski banyak terindikasi suaranya di’bonsai’ namun masih dapat mengantarkan perwakilannya di senayan.

“Namun pasca gugurnya parpol berbasiskan kristiani itu, maka basis pemilih memberikan suaranya dominan ke parpol ‘moncong putih’,” beber Silaen aktivis kepemudaan ini.

“Dalam kajian LAKSAMANA dilapangan bahwa basis massa pemilih minoritas (nasrani) ini berharap banyak ke parpol ‘moncong putih’ ini disamping juga ke parpol lainnya, agar perlakuan dan tindakan diskriminasi dilapangan sungguh-sungguh diperjuangkan karena ada kesan seperti berjuang sendiri,” ujar Silaen alumni LEMHANAS PEMUDA I ini.

Parpol moncong putih, sambungnya dalam beberapa hari kedepan akan melaksanakan Kongres di Bali, banyak pihak berharap dapat menelorkan rekomendasi ‘bernas’ atas problem yang terjadi dibangsa ini, terkait intolerasi, radikalisme dan politik identitas yang menguat ditengah bangsa ini.

“Sebagai ‘winner election’ 2019 diharapkan mampu memainkan peran-peran strategis yang berdiri diatas konstitusi dan kemanusiaan. Meskipun tidak populis ini harus diperjuangkan sungguh-sungguh demi masa depan indonesia yang lebih baik,” tutup Silaen mengakhiri percakapan.

Pewarta : Drey

GTV

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.