Kaum Muda Golkar Jangan Hanya Jadi Pelengkap Penderita

GTV

WARTALIKA.id – Inisiator Akar Muda Beringin (AMB) Jhon Roy P Siregar kalangan muda gerah dan jengkel dengan kepemimpinan di parpol, seperti yang terjadi di Partai Golkar saat ini. Golkar sedang terkooptasi oleh kepentingan segelintir kaum feodalis.

Di saat bonus demografi Indonesia yang sangat tinggi, seperti saat ini, parpol malah sibuk membangun pencitraan tanpa wujud di kalangan millennial.

“Kaum muda, kaum millennial yang jumlahnya sangat banyak itu, hanya dijadikan menu perbincangan sambil lalu di meja-meja parpol. Tak ada langkah nyata,” tutur Jhon Roy P Siregar saat memberikan keterangan tertulis kepada WARTALIKA.id di Jakarta, Sabtu (10/8/2019)

Hal itu juga terjadi di Golkar. Padahal, hampir semuanya setuju, bahwa kalangan muda harus maju dan mau melakukan regenerasi di parpol.

“Dengan merekrut dan memberdayakan kalangan muda katanya. Nyatanya, omong kosong belaka,” beber Jhon Roy P Siregar.

Untuk kontestasi politik di Pemilu 2019 saja, di DKI Jakarta, lanjut Siregar, Partai Golkar nyungsep. Perolehan kursi menurun. Daya juang dan bargaining partai maupun Ketua-nya lemah.

“Jakarta dikuasai oleh kalangan muda. Terbukti, Partai PSI Pimpinan Grace Natali memperoleh kursi terbanyak di DPRD DKI Jakarta. Ada 8 kursi. PSI telah menggusur Partai Golkar dari Kebon Sirih, dan menggusur partai-partai lainnya,” ungkap Jhon Roy P Siregar.

Lebih lanjut, tindakan Ketua Umum DPP Partai Golkar Airlangga Hartarto dan jajarannya yang tampak otoriter, kian membawa dampak buruk bagi partai. Intimidasi dan terror berupa ancaman pemecatan bagi siapa saja yang melakukan kritik di tubuh beringin, adalah gambaran betapa watak feodal dan otoriter itu nyata di kepemimpinan Partai Golkar saat ini.

Jika ingin memajukan Golkar lagi, lanjutnya, maka Airlangga Hartarto dkk harus legowo melepaskan cara-cara kepemimpinan yang anti demokrasi itu.

“Harus mau mendengarkan kritik dan saran. Terutama kritik dan saran dari kalangan kaum muda. Sebab, saat ini bejibun kaum muda yang hendak bergabung untuk kemenangan Golkar ke depan. Namun, jika watak feodalistik yang masih bercokol, maka jangan salahkan kaum muda enggan atau malah beralih ke partai lain,” tutur Siregar.

Untuk 2024, pada Pemilu yang akan datang, diprediksi jumlah kalangan pemilih muda mencapai 70 %. Golkar sebagai partai yang sudah sangat teruji dan tua, harusnya memberikan respon positif akan kondisi itu.

Jujur saja, lanjut Jhon Roy P Siregar, untuk Golkar, calon Ketua Umum yang pas adalah sosok yang dekat dengan kalangan millennial. Yang membuka diri dengan segala aras. Yang tidak sulit diajak komunikasi.

“Yang memiliki daya juang dan daya tawar yang tinggi. Yang berdiri dengan dada membusung, kepala tegak. Yang demokratis. Anti watak feodalistik.

Merangkul kalangan muda. Sosok seperti itu yang lebih pas menjadi Ketua Umum DPP Golkar berikutnya. Dari beberapa nama yang beredar, nampaknya kesempatan itu ada di Bambang Soesatyo,” ujarnya.

Di tempat yang sama, Aktivis Muda Golkar Benny Saputra Sijabat menyampaikan, Golkar di tangan Airlangga Hartarto dkk hanya bagai pelengkap penderita dalam pusaran perpolitikan Indonesia.

“Lemah leadership. Lemah daya saing. Lemah bargaining-nya. Namun kok masih tetap ambisius kepingin jadi Ketua Umum Golkar. Malah terus melanggengkan praktik organisasi parpol yang bengis kepada kader-kadernya,” tutur Benny Sijabat.

Lebih lanjut, menurut fungsionaris Dewan Pimpinan Daerah Angkatan Muda Pembaharuan Indonesia (DPD AMPI) DKI Jakarta ini, dikarenakan cara mengelola Golkar bagai perusahaan milik pribadi, maka proses Sidang Pleno DPP Partai Golkar pun tak kunjung dilakukan.

Padahal, lanjutnya, Sidang Pleno DPP Partai Golkar itu adalah amanat AD/ART Partai yang harus segera dilaksanakan menuju Musyawarah Nasional (Munas) Partai Golkar.

“Pleno saja tak kunjung dilaksanakan. Golkar ini kok hendak diperlakukan bagai perusahaan milik pribadinya saja. Mau apa sih? Mau jadi menteri? Mau jadi Ketua MPR? Urus Golkar aja enggak bener,” ujar Benny lagi.

Jika tata cara berorganisasi level dasar saja tak bisa dijalankan oleh Airlangga Hartarto dkk, maka sangat disayangkan nasib Golkar ke depan.

“Di tingkat aktivis Kelompok Cipayung saja, urusan Pleno itu wajib dan harus dilaksanakan. Masa partai sebesar Golkar enggak? Itu kan dasar banget. Padahal, Golkar ini adalah partai kader. Takkan mungkin ada kaderisasi partai jika cara yang dilakukan masih begitu,” ujar Benny.

Dia juga menyayangkan, tidak ada upaya yang serius melakukan rekrutmen kader dari kalangan muda ke partai Golkar. Airlangga Hartarto dkk dianggap gagal memimpin Golkar. “Udahlah. Sudahi saja. Sudah gagal, kok masih ambisius mau jadi Ketum,” ucapnya.

Baru di era Airlangga Hartarto dkk memimpin Partai Golkar inilah, lanjut Benny, partai yang sudah sangat berpengalaman sekelas Golkar ini tidak berani mengajukan kader-kadernya sebagai calon Presiden di Pilpres lalu.

Hal itulah yang juga membuktikan betapa lemah dan betapa tak punya daya tarik yang bagus lagi partai Golkar ini di bawah kepemimpinan Airlangga Hartarto dkk.

“Kasihan sekali Golkar ini. Partai ini harus diselamatkan dari tangan-tangan kaum gagal saat ini. Masih ada Bamsoet yang kita harapkan bisa memperbaiki Golkar menjadi lebih baik ke depannya,” ujarnya.

Pewarta : Agung

GTV

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.