Polemik Leadership : Jokowi Masuk Jebakan “Betmen”?

  • Whatsapp
Samuel F Silaen
Foto : Samuel F. Silaen
AGUNG NUROHO

WARTALIKA.idSejak Jokowi-JK memimpin diperiode pertama, Indonesia nyaris diterpa badai gelombang besar diawal-awal pemerintahannya, sekarang memasuki periode kedua ini hampir sama dengan yang sekarang, banyak pihak menilai kampanye janji tinggal janji, Indonesia makin tak jelas arahnya. Demikian jargon politik yang selalu dimainkan oleh para pendemo?!.

Apakah benar demikian mari kita tilik lebih jauh terkait ‘jargon politik’ tersebut. Siapa saja aktor pemainnya. Ini sangat penting diketahui agar tidak salah langkah/terapi dilapangan, sebab kalau salah malah akan semakin memantik api makin membesar.

Bacaan Lainnya

Menurut Direktur Eksekutif Lembaga Kajian Studi Masyarakat dan Negara (LAKSAMANA) Samuel F. Silaen katakan sulit ditepis, ada tangan-tangan elit yang ikut bermain, rakyat warung kopi saja sepertinya cukup pintar untuk membaca skenario permainan pihak-pihak yang tidak mau ketinggalan kereta’ kira-kira begitu.

Saran dan pendapat saya kepada Presiden Jokowi agar tidak mau disetir oleh lingkaran/orang di sekelilingnya. Kata Silaen, mungkin Jokowi terdesak jika dianalogikan dalam permainan catur, karena ‘leadership’ sedang diuji dalam periode kedua ini.

“Untuk membawa kemenangan dalam permainan, meski harus menumbangkan ‘peluncur’ atau ‘kuda’ demi menghalau serangan musuh yang semakin merangsek kebenteng pertahanan,” urai Silaen alumni LEMHANAS Pemuda tahun 2009.

Tambah Silaen, “Jokowi saat ini sedang masuk kedalam jebakan ‘betmen’ dari sekian kebijakan yang diambil, sehingga kelihatan tak beraturan (seperti: program yang bertajuk “Jebakan Betmen di serial televisi), jika salah langkah maka akan semakin gawat kira-kira bagitu”.

Curhat Jokowi paham dan tahu diri bahwa Dia. Yang beredar di Medsos “Tidak semua kalangan elite bisa terima punya presiden seperti saya.
Saya itu kan bukan siapa-siapa….
Bukan anak konglomerat…..
bukan orang kaya, dan tidak datang dari keluarga terpandang.
Penghinaan itu kan hanya bisa dilakukan oleh orang yang merasa lebih tinggi kepada mereka yang dianggapnya rendahan.
Saya, yaaaa mungkin saja rendahan. Tapi jadi presiden kan memang untuk bekerja pada negara, bukan menjadi penguasa segala2nya.
Kunci menghadapi kebencian dan penghinaan adalah rendahkan hati serendah-rendahnya, fokuskan perhatian kita untuk semakin banyak bekerja.
Penghinaan apabila kita hadapi dengan rasa sombong sedikit saja, bisa membuat kita sakit.
Jangan dilawan, biarkan saja.”

Seruan dan desakan mahasiswa dan masyarakat menilai bahwa ekonomi terpuruk. Akibat kiblat ekonomi yang tak jelas, Hukum makin tajam ke bawah, tumpul ke atas, politik semakin gaduh.

“Rakyat miskin bertambah, PHK di mana-mana, harga-harga terus naik. Lamban memperhatikan rakyat namun cepat tanggap dengan korporat kapitalis, ” papar aktivis KNPI ini.

Jika melihat demo-demo sekarang ini masih dalam koridor yang wajar dan pantas, tuntutan mahasiswa menurutnya, kondisi itu semua akibat leadership yang lemah. NKRI layaknya republik ‘multipilot’ yang kehilangan martabat, nawa cita jadi duka-cita.

Pertama, bahwa konflik agraria masih menjadi persoalan utama rakyat yang belum terselesaikan.

Kedua, pendidikan tidak menjadi prioritas dalam nawa cita

Ketiga, lanjut bahwa mereka melihat praktek politik dan hukum yang gaduh dan tebang pilih terjadi di Indonesia

Keempat, kesehatan tak tercover seluruhnya alias amatiran dalam bentuk kartu sakti (iuran BPJS naik)

Kelima, kesejahteraan masyarakat jauh dari janji- janji politik dan hanya retorik, “tukasnya.

Itu semua menjadi PR (pekerjaan rumah) Presiden Jokowi-Maruf pada periode kedua ini, disamping situasi global yang tidak begitu baik, maka Jokowi harus bisa memilih pembantunya yang loyal tegak lurus agar tidak kempes pelan-pelan.

“Ini periode kedua yang sangat menentukan masa depan Indonesia ditengah percaturan dunia yang begitu cepat jangan sampai bubar jalan,” tutup Silaen mengakhiri obrolan. [PR]

Pos terkait