Sinyal Oposisi Nasdem, Apakah Hanya Sekedar Gertak Sambal?

  • Whatsapp
Samuel F. Silaen RUU HIP
Foto : Samuel F. Silaen

WARTALIKA.idPartai Nasdem memberikan sinyal siap menjadi oposisi pada pemerintahan kali ini. Padahal, Partai Nasdem diketahui merupakan salah satu partai pendukung Joko Widodo-Ma’ruf Amin dalam Pilpres 2019.

Sinyal tersebut diberikan langsung oleh Ketua Umum DPP Partai Nasdem Surya Paloh usai menghadiri pelantikan Jokowi-Ma’ruf di Gedung Kura-kura, Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Minggu (20/10/2019).

Direktur Eksekutif Lembaga Kajian Studi Masyarakat dan Negara (LAKSAMANA) Samuel F. Silaen mengatakan rayuan akan ’empuknya’, enak dan nikmatnya kekuasaan pasti begitu menggoda siapa saja, untuk ikut bergabung bersama penguasa.

“Hakikinya partai politik Itu, merebut kekuasaan sampai menggapainya digenggaman, namun hal itu sepertinya tidak berlaku bagi Partai NasDem, dari partai pendukung pasangan Jokowi-Amin hingga jadi pemenang, pastilah NasDem ikut berkeringat dalam memenangkan paslon dengan nomor urut 01 Itu,” ujar Silaen alumni LEMHANAS Pemuda 2009. Selasa (22/10).

Keberanian NasDem harus diacungi dengan dua jempol jika hal itu menjadi pilihan politiknya untuk lima tahun kedepan, meski terkesan akan puasa dalam menikmati bagi-bagi kue kekuasaan. Langkah Surya Paloh, kata Silaen adalah langkah tepat dalam melakukan “check and balance” dalam kekuasaan politik, agar tidak terjadi negara otoriter.

“Surya sebelumnya menyatakan, bila seluruh partai menjadi koalisi pemerintahan, dikhawatirkan sistem check and balance akan hilang. Padahal, sistem tersebut diperlukan di dalam negara demokrasi seperti yang dianut Indonesia”.

“Kalau begitu check and balance tidak ada, tidak ada lagi yang beroposisi berarti demokrasi sudah selesai. Negara sudah berubah menjadi negara otoriter, atau bermonarki,” ujar Surya.

Lanjut, pengamat politik Milenial ini, mungkin itu juga yang jadi ke khawatiran seorang “sang ideolog” yang terpanggil untuk ambil bagian dibarisan oposisi, untuk memberikan pembelajaran demokrasi yang seimbang, pada bangsa ini, jika signal yang disampaikan Ketum Partai NasDem itu terbukti bukan “gertak sambal”, sungguh tidak kalah mulia dari yang bergabung dengan kekuasaan Itu sendiri.

Hari ini, Jokowi memanggil sejumlah kandidat calon Menteri ke Istana Kepresidenan. Hingga pukul 16.30 Wib sudah ada sebelas orang yang menyambangi Istana.

Mereka yaitu mantan Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) Mahfud MD, Bupati Minahasa Selatan Christiany Eugenia Paruntu, Bos Gojek Indonesia Nadiem Makarim, dan Bos NET TV Wishnutama.

Selanjutnya, pengusaha Erick Thohir, Kapolri Jenderal (Pol) Tito Karnavian, Ketua Umum DPP Partai Golkar Airlangga Hartarto, mantan Mensesneg Pratikno, relawan Jokowi-Ma’ruf Fadjroel Rachman dan peneliti Populi Center Nico Harjanto.

Terakhir yang datang yakni Ketua Umum DPP Partai Gerindra Prabowo Subianto dan Wakil Ketua Umum DPP Partai Gerindra Edhy Prabowo.

Seperti diketahui, Partai Gerindra merupakan rival partai politik pendukung Jokowi-Ma’ruf saat pilpres lalu.

“Perjalanan bangsa ini masih panjang dan butuh kerja-kerja politik yang cerdas dan ‘brilliant’ demi masa depan bangsa dan negara ini dimasa yang akan datang, yang akan diwarisi kepada generasi anak-cucu selanjutnya,” tandas Silaen serius. [PR]

  • Whatsapp

Pos terkait