Samuel F Silaen : Elite dan Tokoh Bangsa Terbelah

Samuel F Silaen
Samuel F Silaen

WARTALIKA.id –  Kita melihat banyaknya pelanggaran hak asasi manusia terjadi begitu masif diberbagai daerah. Diksi minoritas dan mayoritas terasa semakin menguat membelah kebersamaan bangsa ini. Demikian  kata Direktur Eksekutif Lembaga Kajian Studi Masyarakat dan Negara (LAKSAMANA) Samuel F Silaen kepada wartawan di Jakarta. Kamis (13/2/2020).

Dalam melihat arah perjalanan Bangsa ini, identitas sosial yang menguat kearah yang destruktif bagi nilai kemanusiaan yang humanis. Tak bisa dipungkiri bahwa semisal penutupan tempat-tempat ibadah marak terdengar mencuat kepermukaan. Entah apa yang menjadi penyebab kebencian mereka terhadap rumah atau tempat ibadah milik minoritas itu.

Baca Juga :

“Sungguh bikin miris. Sebab kemajuan zaman di era disruption teknologi digital ini sepertinya tidak linear dengan pembangunan manusia yang humanis. Justru yang terjadi adalah dehumanisasi karena beda keyakinan. Ini salah siapa? Sejak kapan akar kebencian itu tumbuh lalu mengakar dihati rakyat negeri ini! Siapa yang ajarkan kebencian itu? Sejak kapan ditularkan sehingga karena beda agama atau keyakinan sepertinya sulit menerima orang lain yang berbeda agama! Problem ini makin meluas disebabkan semburan informasi melalui sosial media,” ujar Samuel F Silaen yang juga pengamat alumni LEMHANAS Pemuda 2009 ini.

Sementara rumah ibadah dijadikan bahan pertikaian sesama warga negara, kata Silaen yang kalau ditilik lebih dalam maka sesuatu yang salah sedang membuncah dihati mereka- mereka yang sudah ditanamkan rasa kebencian.

Menurut Samuel F Silaen, berbahaya jika elite dan tokoh masyarakat tidak bersatu untuk menyelesaikan problema yang terjadi ditengah-tengah masyarakat indonesia. Kasus yang terjadi di minahasa utara langsung menuai kecaman demi kecaman yang masif.

“Namun ketika terjadi kepada kelompok penganut minoritas sengaja kasusnya ditenggelamkan dengan segera,” beber Silaen pengamat politik milenial ini.

“Harusnya elite dan tokoh formal dan informal saling bergotong-royong, bahu-membahu menciptakan kehidupan berbangsa dan bernegara yang bersamaan kedudukannya dimuka hukum. Hukumlah yang menjadi panglima,” tandas Silaen. [Drey]

Pos terkait