Dukung Kepala BPIP Soal Agama Musuh Pancasila

  • Whatsapp
Samuel F. Silaen
Foto : Samuel F. Silaen
HARI LAHIR PANCASILA

WARTALIKA.idPancasila versus oknum jubah agamis dalam pandangan kami, sudah terjadi terus menerus dalam kurun waktu yang cukup lama. Apa yang disampaikan oleh Kepala BPIP itu bagian dari hasil penelitian sebagai akademisi yang juga Rektor UIN Sunan Kalijaga, Jogjakarta.

“Kepala Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) Prof. Yudian Wahyudi meluruskan pernyataannya soal ‘agama musuh Pancasila’ yang membuat gaduh. Itu hanya gelombang opini yang dimainkan oleh para pemain lama yang kepentingan dan syahwatnya sedang dibonsai, kegaduhan itu dalam rangka penggiringan opini negatif kepada sosok kepala BPIP yang baru,” kata Direktur Eksekutif Lembaga Kajian Studi Masyarakat dan Negara (LAKSAMANA) Samuel F. Silaen kepada media di Jakarta.

Bacaan Lainnya

Idul Fitri 1441 H

Lebih lanjut dikatakan, musuh terbesar Pancasila adalah manipulator agama, bukan kesukuan. Pernyataan itu terkait dengan adanya kelompok-kelompok tertentu yang mereduksi agama sesuai dengan kepetingannya sendiri dan bertentangan dengan Pancasila.

“Pernyataan Kepala BPIP itu sudah tepat dari kaca mata keilmuan beliau sebagai akademisi dan saya pribadi tidak ragukan pemikiran beliau sebagai dosen yang juga sekaligus Rektor,” terang Silaen.

Pernyataan Prof. Yudian yang kemudian viral itu menuai kritik dari berbagai kalangan, karena ada yang terusik terkait agenda yang mereka-mereka kerjakan dibangsa ini.

“Bila tidak ada hidden agenda yang tersembunyi maka tidak akan begitu heboh apalagi dikecam sana-sini. Kegagalan bangsa ini maju karena salah satu persoalan ini yang tak kunjung usai ditataran elite-elite negeri ini,” papar Silaen.

“Indonesia sudah merdeka 74 tahun malah sebentar lagi memasuki ke 75 tahun, namun perdebatan ideologi bangsa ini selalu menjadi sumber kegaduhan nasional. Kenapa demikian karena resonansi yang ditimbulkan sungguh menyita energi kebersamaan bangsa ini,” tambah Silaen.

Ditegaskan Silaen, sungguhlah benar apa yang dilontarkan oleh Kepala BPIP itu bagian pandangan visioner beliau yang mungkin saja itu akan terjadi jika agama sudah berubah jadi candu yang membahayakan penganutnya, hingga menjadi bom waktu buat negeri ini dimasa yang akan datang.

“Pernyataan yang disampaikan oleh Kepala BPIP itu menuai kritik karena pengkritik itu tidak memahami sepenuhnya inti apa yang disampaikan oleh Kepala BPIP. Jadinya seperti sekarang ini. Banyak elite-elite, tokoh masyarakat yang uring-uringan akibat pernyataan Kepala BPIP Itu,” jelas Silaen.

Agama telah dipakai mengkoptasi nilai-niai luhur pancasila yang menjadi kesepakatan bersama para founding fathers negeri ini. Kesepakatan itu, kata Silaen harusnya sudah bersifat final dan mengikat untuk seluruh rakyat Indonesia tanpa kecuali agar energi bangsa ini tidak habis hanya untuk mengurusi hal-hal yang sudah final disepakati deklarator republik ini.

“Seandainya waktu bisa diputar kembali maka penganut agama yang selalu diasosiasikan jumlahnya minoritas tidak akan mau bergabung kedalam Republik Indonesia ini (baca sejarah agar tidak gagal paham),” ungkap Silaen.

“Jadi sekarang rasa nasionalisme, keragaman dan kebangsaan anak-anak negeri ini sedang tercabik-cabik oleh kerakusan politik oleh segelintir oknum-oknum yang menjadi tokoh dimasyarakat. Agama ditunggangi untuk meraih kekuasaan bagi kepentingan kelompoknya,” tutup Silaen mengakhiri.

Pos terkait