Anggota Komisi IV DPR RI Johan Rosihan Kritik Lonjakan Harga Pangan di Pasar Domestik

  • Whatsapp
Johan Rosihan
Johan Rosihan
HARI LAHIR PANCASILA

WARTALIKA.idAnggota Komisi IV DPR RI, H. Johan Rosihan menanggapi pernyataan Presiden Joko Widodo yang menyebut bahwa beberapa bahan pokok yang stocknya mengalami defisit di sejumlah provinsi, diantaranya gula pasir dan bawang putih defisit di 31 provinsi.

Atas hal tersebut menurut Johan Rosihan, sebelumnya pemerintah selalu mengatakan stock bahan pangan selalu dalam kondisi aman dan cukup namun faktanya telah terjadi gejolak lonjakan harga pangan di pasar domestik.

Bacaan Lainnya

Idul Fitri 1441 H

“Harga gula pada pekan keempat April 2020 mencapai Rp 18.400/kg dan ini suatu rekor kenaikan harga yang fantastis, karena naik 36,8% dibanding April 2019,” ucap Johan Rosihan dalam keterangan tertulis kepada WARTALIKA.id di Jakarta, Kamis (30/4).

Lanjut dia mengatakan atas situasi ini pemerintah sebelumnya berencana mempercepat realisasi impor, khususnya gula pasir dan bawang putih, jadi jangan buat alasan defisit pangan hanya untuk segera mempercepat impor.

“Jika memang benar kita defisit pangan maka saya mendesak pemerintah untuk segera memberikan stimulus dan memerintahkan Bulog membeli hasil panen petani yang saat ini sedang panen serta yang tidak kalah penting adalah kembalikan anggaran sector pangan yang telah dikurangi pemerintah menjadi seperti semula agar produksi dan produktivitas pangan terjaga,” kata Johan.

Legislator dari Pulau Sumbawa ini juga mencontohkan bahwa perubahan pagu anggaran di Ditjen Tanaman Pangan dari pagu awal Rp 5,7 T menjadi hanya Rp 3,3 T menjadi bukti bahwa pemerintah tidak menjadikan peningkatan produksi tanaman pangan sebagai prioritas dalam menghadapi potensi krisis pangan global, sebagaimana yang telah diingatkan oleh FAO bahwa akan terjadi gangguan terhadap pasokan pangan global akibat pandemic Covid-19, serta telah terjadi 265 juta penduduk dunia yang sedang terancam kelaparan sebagai dampak dari pandemic Covid-19 menurut data dari World Food Programme/WFD.

Anggota DPR dari dapil NTB 1 ini menyebut bahwa saat ini akses masyarakat menengah ke bawah terhadap pangan semakin menurun drastis karena masyarakat tiba-tiba tidak dapat bekerja dan banyak yang kehilangan pekerjaanya.

“Di sisi lain ketersediaan pasokan pangan domestic mulai bermasalah karena ketergantungan dengan impor pangan, saya mendorong pemerintah untuk secara serius mengantisipasi dampak social ekonomi karena tingkat sensitivitas pangan sangat tinggi,” tutup Johan.

Pos terkait