Direktur Eksekutif Laksamana : Pancasila Butuh Tindakan Nyata Bukan Sekedar Gimmick

  • Whatsapp
Direktur Eksekutif Laksamana Samuel F Silaen
Direktur Eksekutif Laksamana Samuel F Silaen
AGUNG NUROHO

WARTALIKA.id – Meski terkadang kebenaran menyakitkan bagi yang merasa tersakiti tapi yakinlah Tuhan pencipta itu tak pernah terlelap walau sedetik, untuk menunjukkan kekuasaanNya. Demikian juga dengan kondisi dan perjalanan Bangsa Indonesia bisa merdeka dan punya falsafah serta pandangan hidup bersama yang bernama Pancasila.

“Meski pancasila itu tidak mulus sampai sekarang selalu saja diperdebatkan ataupun dipertentangkan oleh mereka-mereka yang belum berterima atau belum puas dengan kehadiran Pancasila itu sendiri, ketidakpuasan itu muncul kembali karena alam demokrasi berubah. Demikian juga pengalaman manusia itu terbentuk dari rangkaian peristiwa yang menyertai perjalanan hidupnya mencoba kutak- katik Pancasila,” kata Direktur Eksekutif Lembaga Kajian Studi Masyarakat dan Negara (Laksamana) Samuel F Silaen kepada wartawan di Jakarta. Senin (1/6).

Bacaan Lainnya

Lanjut Direktur Eksekutif Laksamana, dialegtika sosial sah-sah saja, sama seperti Tuhan yang memberikan kesempatan kepada ciptaannya menggunakan hak bebasnya. Itulah yang kita namakan hak asasi manusia (HAM) yang melekat dan tidak boleh diambil kecuali sudah meresahkan hubungan sosial dengan sesama atau menimbulkan permusuhan ditengah-tengah masyarakat.

“Disinilah Pancasila menjadi penting untuk jadi jembatan yang telah dijadikan kesepakatan bersama untuk Indonesia,” tutur Direktur Eksekutif Laksamana yang juga alumni LEMHANAS Pemuda I 2009.

“Pengamalan Pancasila merupakan keharusan bagi semua warga Negara tanpa terkecuali, itulah konsekwensi hukum tinggal di sebuah Negara yang punya aturan atau konstitusi yang kita anut bersama yang bernama Pancasila. Konstitusi itu meliputi seluruh wilayah kehidupan yang ada. Jadi selama pancasila diartikan sempit maka selama itupulalah kita akan selalu mengalami benturan sosial yakni curiga, prejudices antar sesama rakyat Indonesia,” terang Silaen aktivis organisasi kepemudaan ini.

Pancasila ini bagian dari nilai, moral dan nurani yang sudah menjadi titik temu dari berbagai kepentingan kelompok yang diam dinegeri ini sewaktu mau memerdekakan Bangsa ini dari cengkraman para penjajah. Ini pelajaran dasar sewaktu masih dibangku sekolah.

Tapi mengapa sekarang kita seolah-olah baru mau mengenal pancasila itu sendiri? Apakah Pancasila sedang dipinggirkan atau dibonsai? Itulah pertanyaan yang mendasar yang harus dijawab oleh elit negeri ini, baik formal maupun informal! Bukan hanya pencitraan media sosial.

“Kalau kita melihat dunia sekarang seperti sedang bergerak kepada sikap feodalistik dan primitif yang sempit oleh karena pertarungan ekonomi, geopolitiks global, melahirkan sikap dan tindak- tanduk para tokoh itu sendiri. Kelihatan tokoh sekarang seperti kehilangan ketokohannya karena pergeseran nilai, moral dan keadaban. Ini terlihat menghiasi layar televisi dan handphone yang sangat mudah ditemukan, ” papar Silaen.

Inilah tantangan sekaligus peluang bagi manusia dikancah kemajuan teknologi informasi yang ada, dulu kita sulit mengakses informasi dari desa atau sebaliknya. Sekarang semuanya serba mudah dan cepat. Berita yang tersembunyi sekalipun bisa menyebar dengan cepat melahirkan beragam komentar pro dan kontra saat kita baca. Tergantung sudut pandang dan nilai, moral yang dianut.

“Semua orang bebas mengomentari bahkan sampai terkesan sensasional, demi pencitraan yang dianggap jauh lebih penting daripada kesalehan sosial yang dilakukan. Karena itu pulalah kampanye pancasila disosial media begitu marak meskipun hanya dalam bentuk gimik-gimik,” ungkap Silaen.

Kampanye soal Pancasila akan sia-sia jika nilai, moral dan kesalehan pancasila itu sendiri dibonsai oleh kelompok tertentu saja. Siapa yang bertanggung jawab atas pembumian pancasila sehingga menjadi perilaku nyata bukan hanya “cumbekzenn” alias ‘cuma eksen tok’ ibarat sayur tanpa garam.

“Makna pancasila berubah menjadi hanya sebatas ceremony tok. Semua bisa bikin status-nya di facebook dan lain-lain tapi itu semua hanya pencitraan doang hasilnya nihil alias nol besar, tetapi cobalah untuk memikirkan yang lebih nyata dan realistis,” papar Silaen.

Jadilah pelaku yang punya nilai, moral dan keadaban dari pancasila itu sendiri tanpa harus membenturkannya dengan keyakinan sempit karena pemikiran yang sempit akan sangat berbahaya bagi keberlangsungan jalannya berbangsa dan bernegara.

“Jika saja mereka-mereka yang selalu membonsai/mengkebiri pancasila menurut kacamata individu, kelompok tertentu maka itulah musuh bebuyutan pancasila yang sebenarnya,” tandas Silaen.

Merdeka selamat Ulang Tahun Pancasila

Pos terkait