Pilkada 2020, Samuel F Silaen : Calon Pemimpin “Berperang” untuk Siapa?

  • Whatsapp
Pilkada 2020 Samuel F. Silaen
Foto : Samuel F. Silaen

WARTALIKA.id – Pemerintah ingin memastikan Pilkada tidak akan bergeser dari 2020. Pilkada 2020 tetap akan diselenggarakan 9 Desember 2020, sebab tidak ada jaminan virus corona COVID-19 ini akan selesai pada 2021. Karena, tidak ada negara di dunia bisa memastikan kapan berakhirnya virus tersebut.

“Dalam konteks pilkada 2020 serentak yang akan dilaksanakan Desember tahun ini. Semoga saja yang terpilih itu pemimpin yang merakyat, amanah dan kerja buat rakyat, bukan hanya kelompok tertentu seperti banyak kejadian dibelahan negeri ini, diduga pemimpin diskriminasi terhadap kelompok tertentu. Sebab pemimpin itu utusan Tuhan yang diberikan tanggung jawab membawa Rakyat-nya pada kehidupan yang lebih baik dari sebelumnya,” ujar Direktur Eksekutif Lembaga Kajian Studi Masyarakat dan Negara (Laksamana) Samuel F. Silaen kepada wartawan di Jakarta. Jumat (5/6).

Bacaan Lainnya

Lanjutnya, sesungguhnya janji Tuhan-lah yang pasti dan tidak meleset kepada ciptaanNya, karena Dia-lah pemilik Alam semesta ini. Beda dengan manusia jika berjanji dalam konteks kampanye, ‘maybe yes maybe no’ bisa ya bisa juga tidak!!! Tanya kenapa? Itulah janji politik dapat dikatakan “peolitik” (bhs batak: melenceng).

Apakah pemimpin dahulu-kala bisa menepati/melaksanakan janji-janjinya kepada rakyat? Tidak juga. Dalam bacaan litetaratur tak ada pemimpin yang 100% bisa menepati janji-janji politiknya. Ada saja yang tak bisa dikerjakan dengan baik sesuai janjinya.

“Apa penyebab pemimpin tidak dapat menyelesaikan semua janji politiknya (konteks kampanye) itu karena beberapa faktor yang diluar kendali dan dugaannya. Misal pandemi covid-19 ini. Jika pemimpin bisa kerjakan 75- 80% dari janjinya itu sudah sangat luar biasa, meski demikian bukan berarti ada ‘excuse’ tetap saja itu namanya pemimpin gagal,” beber Silaen.

“Pemimpin itu digambarkan sebagai utusan Tuhan dimuka bumi, karena pemimpin itu diberikan kesempatan dan terpilih dari sekian ratus bahkan jutaan rakyat. Selain takdir/garis tangan/nasib baik dalam istilah di kitab suci yang dipercayai manusia,” tambah Silaen.

Namun yang tak kalah penting adalah karakter pribadi yang dimiliki oleh pemimpin yang terpilih tersebut. Memang tidak bisa tutup mata bahwa ada saja kecurangan kecil atau besar yang coba dimainkan oleh pendukung atau istilah krennya “relawan” dalam memenangkan pertandingan dalam konteks Pilkada, namun ada jalur hukum untuk menyelesaikan masalah itu.

“Jika pemimpin terpilih itu tidak membawa manfaat dan perubahan yang baik kepada masyarakat ketika dia menjadi pemimpin, maka itulah pemimpin gagal atau mungkin menang karena dominasi kecurangan yang sistematis dan masif yang terjadi, tapi sulit dibuktikan oleh peradilan dunia, maka yang berlaku hukum Alam, yakni kegagalan,” tegas Silaen.

“Tugas Pemimpin berat itu karena harus bisa mendatangkan kemaslahatan, memberikan kesejahteraan bagi masyarakat dimana dia memimpin, “gemah ripah loh jinawi”, jadi pemimpin jangan hanya mikir enaknya saja,” tandas Silaen mengakhiri.

Editor : Drey

Pos terkait