Dilematis New Normal, Antara Benci dan Rindu Soal Pemberlakuan Masa Transisi New Normal

  • Whatsapp
Samuel F. Silaen-Riza Patria
Foto : Riza Patria dan Samuel F. Silaen
AGUNG NUROHO

WARTALIKA.id – Antara benci dan rindu soal pemberlakuan masa transisi ‘New Normal’ yang dilaksanakan pemerintah saat ini. Pilihan dilematis buat pemerintah selain harus secara perlahan-lahan menggerakkan roda ekonomi yang terpapar virus corona. Karena jika semakin lama terhenti maka akan semakin membebani APBN yang sedang berjalan.

“Pemerintah seperti tidak ada pilihan untuk menghadapi dampak sosial dan ekonomi yang sedang terpuruk saat ini. Jika terus-terusan menambah hutang untuk membiayai defisit transaksi berjalan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), berbahaya untuk jangka panjang, jika berlama-lama maka ekonomi bukan hanya ‘stuck’ tapi ‘failed’,” kata Direktur Eksekutif Lembaga Kajian Studi Masyarakat dan Negara (LAKSAMANA), Samuel F Silaen kepada wartawan di Jakarta. Senin (15/6).

Bacaan Lainnya

Lanjut Samuel F Silaen, sungguh dilematis soal pelaksanaan new normal. Satu sisi roda ekonomi akan berjalan (berputar) kembali disisi lain naiknya jumlah korban yang terpapar virus corona (covid-19). Peningkatan ini, menurutnya sedikit banyak menjadi momok yang juga menakutkan bagi pemerintah.

“Tidak mudah untuk memasuki masa ‘new normal’ pasca wabah covid-19 ini, meski belum semuanya berjalan mulus, namun New Normal ini menjadi keterpaksaan saja atas kondisi ekonomi ‘crushed’. Mau tidak mau pemerintah harus melakukan tahapan new normal agar roda ekonomi kembali dapat berputar dimasa transisi ini,” jelas Silaen.

Dikatakannya, anggaran untuk penanganan dampak covid-19 ini tidak sedikit. Banyak juga ‘roman-roman’ tak sedap bermunculan yakni penyalahgunaan dana covid-19 diberbagai daerah, pemerintah pusat seperti tak berdaya menghadapi rantai birokrasi karena masing-masing pemimpin daerah itu adalah ‘election leaders’.

“Pemerintah pusat sangat berhati-hati dalam memulai aktivitas ekonomi agar tidak kontraproduktif bagi laju penyebaran wabah virus corona ditengah masyarakat. Ini tantangan yang tidak mudah, melihat perilaku nyata masyarakat yang terkadang abai dengan protokol kesehatan yang sudah dicanangkan,” ujar ujar Silaen alumni LEMHANAS Pemuda I 2009 itu.

New normal manjadi keharusan skaligus keniscayaan hidup karena pilihan ‘dilematis’. Sebab, kata dia dampak signifikan hempasan covid-19 ini begitu dahsyat. Mengguncang sendi-sendi ekonomi global tidak terkecuali ekonomi Indonesia.

“Syukur kepada pemerintah Indonesia yang relatif sudah berhasil menekan penyebaran virus corona dengan berbagai skema yang diambil, meski tak sempurna 100%. Namun dengan masa transisi New Normal ini tidak ada jaminan bahwa covid-19 ini akan segera lenyap alias enyah dari Bangsa ini selama PSBB diberlakukan/diterapkan,” ungkap Silaen.

“Hari ini 80 mall di Jakarta serentak sudah dibuka dan lain-lain, dugaan saya terpaksa saja membuka gerai mereka meski rasa kuatir menghantui pemilik gerai akan sepi pengunjung, sementara biaya operasionalnya tak terhindarkan. Hanya dengan harapan supaya masa masa transisi new normal ini berangsur pulih kembali, roda ekonomi kembali dapat berputar normal,” tambah Silaen.

Menurutnya, pemerintah sudah pasti tertekan berat akibat dampak buruk pandemi covid-19 ini, banyak pembangunan infrastruktur Pusat dan Daerah juga ikut macet kena hempasan covid-19.

“Pemerintah sedang ‘putar otak keras’ untuk menggerakkan roda ekonomi yang kadung macet ditengah pandemi covid-19 ini,” pungkas Silaen.

Editor : Drey

Pos terkait