Samuel F Silaen : Dunia Pendidikan Berduka Karena Aturan Menteri Nadiem Makarim

  • Whatsapp
Samuel F Silaen
Lembaga Kajian Studi Masyarakat dan Negara (LAKSAMANA)
AGUNG NUROHO

WARTALIKA.id – Terkait kisruh pendaftaran Peserta Didik Baru (PPDB) di DKI Jakarta tahun ajaran 2020, protes keras pun datang dari Warga Jakarta kepada pemerintah Propinsi DKI Jakarta, khususnya Kepala Dinas Pendidikan DKI Jakarta.

“Dunia pendidikan kini berduka karena aturan yang dibuat Menteri Nadiem Makarim, kacau-balau dengan dipaksakan zonasi usia dan anak peserta didik usia tua lebih diutamakan dari usia muda, meskipun yang usia muda bertempat tinggal lebih dekat dengan sekolahnya, aneh bin ajaib! Ada apa?,” kata Direktur Eksekutif Lembaga Kajian Studi Masyarakat dan Negara (LAKSAMANA) Samuel F. Silaen kepada Wartawan di Jakarta. Selasa (30/6/2020).

Bacaan Lainnya

Menurut Samuel F Silaen, dibuatnya aturan zonasi baik adanya, supaya anak didik tidak kelelahan diperjalanan menuju tempat sekolah. Sistem zonasi dibuat untuk mencegah tawuran anak dijalanan ketika pulang sekolah. Aturan zonasi tersebut berhasil menekan jumlah tawuran pasca diberlakukan aturan sistem zonasi.

Lanjutnya, zonasi itu juga dibuat dalam rangka menekan biaya transportasi yang harus dikeluarkan oleh orang tua murid/siswa. Meski di DKI Jakarta moda transportasi digratiskan. Aturan PPDB di DKI Jakarta juga banyak menuai kontroversi sama halnya didaerah lain.

“Anak didik/siswa yang berdekatan dengan tempat sekolahnya bisa pergi dan pulang berjalan kaki. Artinya si anak didik/siswa jadi sehat dengan berjalan kaki. Banyak keuntungan sistem zonasi buat anak didik dan orang tua,” beber Silaen.

Sistem zonasi itu jangan dititik-beratkan soal perkara usia ‘tua- muda’. Tapi, kata Silaen jaraknyalah yang menjadi faktor utamanya. Jadi jangan dibalik, kalau dibalik jadi kacau dehh.

“Yang lebih kacau lagi adalah ketika selepas tamat SD menuju SMP, lalu berikutnya dari SMP menuju SMU, usia peserta didik jadi penghalang/penghambat masuk sekolah negeri yang terdekat dengan tempat tinggal di anak didik tersebut. Aneh bin ajaib!,” ujar Silaen.

Pertanyaan saya, lanjut Silaen apa maksud tersembunyi sang menteri pendidikan Nadiem Makarim. Pak Menteri ini mendapatkan masukan atau bisikan dari siapa sih? Hingga aturan zonasi itu berubah jadi perkara soal usia ‘tua muda’ yang jadi perioritas dan tolak ukurnya! Masyarakat dibikin resah dan gelisah oleh aturan zonasi usia itu, anak didik usia muda terpaksa atau dipaksa ‘nganggur’ oleh aturan Menteri Gojek ini, hingga harus menunggu usia cukup tua baru lanjut sekolah lagi, orang tua peserta didik tidak mau anaknya masuk sekolah swasta karena tak mampu biayanya.

“Anak usia muda tidak bisa melanjutkan sekolah karena alasan usia belum cukup lalu memberikan kepada usia tua meski jarak tinggalnya jauh. Apa yang melatarbelakangi aturan Kadisdik DKI jakarta itu?.

“Menteri Pendidikan dan Balaikota Jakarta didemo karena rakyat bingung akibat anak-anak mereka tak diterima lanjut sekolah karena usia tak cukup umur, banyak orang tua yang demo menuntut aturan zonasi umur/usia diubah menjadi zonasi jarak. Pendidikan macet masa depan bangsa terancam bubar jalan,” tandas Silaen.

Sementara hingga berita ini diturunkan masalah zonasi berbasis Kelurahan dan usia ini belum terpecahkan dalam PPDB yang ada saat ini. Penerimaan peserta didik baru menuai polemik karena penggunaan umur untuk menentukan penerimaan siswa pada jalur zonasi.

Editor : Drey

Pos terkait