Gaduh Politik Jokowi Jilid II, Direktur Eksekutif Laksamana : Bagi-bagi Kuenya Macet

  • Whatsapp
Samuel F Silaen
Foto : Samuel F Silaen (kanan)

WARTALIKA.id – Direktur Eksekutif Lembaga Kajian Studi Masyarakat dan Negara (LAKSAMANA), Samuel F Silaen mengatakan kegaduhan politik nasional dipimpin langsung oleh para tokoh, elite politik ‘gaek’ (tua) membuat para pembantu Presiden Joko Widodo (Jokowi) ‘wait and see’. Sebab tokoh, politisi ‘gaek’ tak seharusnya turun gunung lagi. Tapi apa boleh buat mengingat pengaruh mereka masih kuat.

Direktur Eksekutif Laksamana Samuel F Silaen ikut menyoroti pernyataan Presiden Joko Widodo dalam sidang kabinet paripurna di Istana Negara yang mengancam akan me-reshuffle kabinet kerja. Disadari atau tidak ini membuka ‘spekulan baru main’.

“Jika langkah extraordinary dilakukan maka harus dihitung betul dampak politiknya secara matang dan seksama, bahkan jika dilakukan pembubaran lembaga dan perombakan kabinet atau reshuffle. Jangan sampai kontra produktif dengan agenda perbaikan/pemulihan iklim ekonomi dan keamanan, yang menjadi prioritas utama pemerintah,” Kata Silaen kepada Wartawan di Jakarta. Jumat (3/7/2020).

Menurutnya, dalam situasi pandemi covid-19 ini, banyak elite politik tertentu yang belum dapat merasakan bagian dari kue negara. Kegaduhan politik Nasional dimasa pandemic covid-19 ini, dimanfaatkan untuk mendapatkan ‘setoran’ meski tidak semuanya. Ini, kata dia berimbas pada kinerja kementerian dan lembaga karena gamang dalam menjalankan programnya, karena ada yang recokin dengan bayang-bayang reshuffle.

“Jika sistem ‘ijon’ sering kita dengar ditingkat petani maka sistem itu tidak tertutup kemungkinan juga ada dimata anggaran, sebab akibat pemangkasan atau pengalihan anggaran yang sudah ditetapkan itu, berdampak luas, karena ‘lazim’nya disetiap mata anggaran itu sudah ada yang ‘punya’. Itulah yang membuat ‘mereka-mereka’ meradang karena tak dapat bagian,” papar Silaen.

Alumni LEMHANAS Pemuda I 2009 ini menambahkan, ancaman rombak kabinet yang disampaikan presiden Jokowi, merupakan bagian dari ‘cek ombak’ untuk melihat sikap elite politik dan parpol pendukung pemerintah. Jokowi paham betul dalan situasi seperti saat ini perlu ‘cek and ricek’ kesolidan para pendukung agar tidak salah mengambil kebijakan.

“Itulah yang mendorong kelompok tertentu berpikir bagaimana cara ‘taking profit from situation’ sebab situasi politik yang tak kondusif memaksa terciptanya ‘passenger and transporter’ untuk menjaga posisi agar tidak ‘terlempar’ dari kedudukan/jabatannya,” ungkap Silaen.

Aktivis organisasi kepemudaan menambahkan, sebab dipolitik tidak ada makan siang yang gratis, semua punya harga. Jadi passenger ataupun transporter juga ada harganya. Yang menjadi masalah tidak hanya terletak pada si Menterinya tapi situasi kekinian dan dunia sedang buruk. Ditambah lagi sosial politik dalam negeri yang gonjang-ganjing.

Situasi ini tentu saja kesempatan langka untuk ‘menghajar’ kekompakan pemerintahan Jokowi. Jika politisi gaek atau sepuh saja ribut ‘moso’ anak muda tak peduli nasib negeri ini. Itu semua hanya cara mendapatkan perhatian dan bagian dari pemerintahan Jokowi yang masih berada diluar sistem kekuasan.

Lanjut Silaen, banyak kelompok kontra pemerintah yang inginkan Jokowi jatuh. Itu terendus dari maraknya pressure ke Istana. Kegaduhan politik suatu kesempatan yang benar-benar dipakai untuk mengganggu konsentrasi Jokowi dan pembantunya.

“Saran kepada Pak presiden Jokowi supaya fokus pada sektor ekonomi dan keamanan daripada mengikuti gendang dari atraksi para politisi,” pinta Silaen.

Membenahi sektor ekonomi dan keamanan menjadi sesuatu yang tak boleh lengah, sebab kunci utama ada ditangan presiden Jokowi untuk mempush mesin-mesin disektor ekonomi dan keamanan agar rakyat merasakan kehadiran Negara.

“Gaduhnya politik nasional hanya bagian dari agenda ‘high politician’ yang ingin mandapatkan benefit dari situasi sosial terkini. Pandemi covid-19 ini membuat banyak orang cemas, sebab kebijakan tidak berpihak pada mereka-mereka yang masih tersisih. Ini akibat setoran macet!,” pungkas Silaen.

Editor : Drey

  • Whatsapp

Pos terkait