Bintang Tanda Jasa Fadli Zon dan Fahri Hamzah, Samuel F Silaen : Sungguh Terlalu

  • Whatsapp
Bintang Tanda Jasa Fadli Zon dan Fahri Hamzah
Menkopulhukam Mahfud MD dalam akun Twitter resminya

WARTALIKA.id – Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan (Menko Polhukam) Mahfud MD melalui akun Twitter-nya, @mohmahfudmd, Senin (10/8/2020), menyampaikan Pemerintah akan memberikan bintang tanda jasa untuk Fahri Hamzah dan Fadli Zon.

Tanda kehormatan merupakan penghargaan negara yang diberikan oleh Presiden kepada seseorang, kesatuan, institusi pemerintah, atau organisasi atas darmabakti dan kesetiaan yang luar biasa terhadap bangsa dan negara.

Baca Juga :

“Presiden Joko Widodo akan memberikan bintang tanda kehormatan kepada politikus Fahri Hamzah dan Fadli Zon. Publikpun terbelah dan bertanya-tanya tak salah itu!, pemerintah memberikan bintang tanda jasa kepada orang yang selama ini selalu berseberangan terhadap pemerintahan mengenai banyak hal. Seolah- olah pemerintahan dibawah nahkoda Jokowi ini tak ada benernya! Sehingga harus selalu di nyinyirin,” kata Direktur Eksekutif Lembaga Kajian Studi Masyarakat dan Negara (LAKSAMANA) Samuel F Silaen kepada wartawan di Jakarta, Kamis (13/8).

Lanjutnya, “Sungguh Terlalu” meminjam kata-kata yang sering diucapkan oleh Rhoma Irama. Jika figur publik, tokoh atau elite politik saja demikian, apalagi masyarakat biasa.

Figur publik, kata Silaen seharusnya menjadi contoh dan panutan bagi masyarakat tentang bagaimana hidup yang baik dan benar sesuai adab ketimuran.

“Lantas pertanyaannya, hal apa yang patut ditiru dari kedua elite politik itu? Pemerintah suruh rakyat ramai- ramai mencontoh/tiru apa yang mereka lakukan selama ini, agar diberikan bintang tanda jasa,” ungkap Silaen aktivis organisasi kepemudaan itu.

Silaen melihat negara Indonesia sedang sakit vertigo dan halusinasi. Dirinya tak paham apa kriteria penilaian didalam memberikan penghargaan atau apalah namanya itu!.

Pemerintah justru mengajarkan inkonsistensi, ketidak- baikan sikap/prilaku kepada rakyat Indonesia untuk ditiru/contoh. Pemerintah mempertontonkan sikap dan perbuatan yang tak pantas untuk ditiru karena sudah menyimpang dari keadaban publik yang santuy, tokoh antogonis yang selama ini dicap pembuat ‘onar’ tanda petik mendapat bintang tanda jasa.

“Ada apa dengan pemimpin negeri ini. Jika pembuat ‘gaduh’ diberikan gelar kehormatan bintang tanda jasa. Apa yang mereka sudah perbuat untuk rakyat, agar dapat ditiru dan ikuti yang akan membuat bangsa ini maju?,” ungkap Silaen.

Dikatakannya, ini akan mendorong masyarakat ikut menjadi pembuat ‘onar’ agar mendapatkan bintang tanda jasa pula, seperti yang diberikan kepada kedua sosok yang selama ini dalam pandangan publik tokoh politik kontroversial.

“Demokrasi sih demokrasi! Tapi apa ya, sudah patut atau layak pemimpin negara ini memberi gelar bintang tanda jasa yang demikian,” imbuhnya.

Masih banyak sosok- sosok yang menjadi inspirator yang layak dan wajar diberikan bintang tanda jasa karena sudah berkontribusi konkrit, nyata bagi kemajuan dan kemaslahatan bangsa ini.

Pos terkait