Ormas KAMI Kampanye PKI Bangkit, Samuel F Silaen : Itu Hanya Halusinasi Politik

  • Whatsapp
Samuel F. Silaen Ormas KAMI
Foto : Samuel F. Silaen

WARTALIKA.id – Diksi bangkitnya komunis PKI dengan dibungkus kedok jubah agama merupakan bagian dari strategi pemasaran Ormas Kami supaya jualan laku diterima rakyat, dalam rangka mendapatkan simpati dan dukungan masyarakat.

Demikian ditegaskan pengamat politik Direktur Eksekutif Lembaga Kajian Studi Masyarakat dan Negara (LAKSAMANA), Samuel F. Silaen kepada WARTALIKA.id di Jakarta, Kamis (1/10).

Bacaan Lainnya

Dalam keterangan persnya, Samuel F. Silaen menjelaskan, Kegamangan aparat penegak hukum jadi blur (buram), kalau sudah berhadapan langsung dengan kekuatan politik, aparat penegak hukum jadi ambigu kalau salah langkah jadi korban politik. Justru kemungkinan oknum ikut turut berselancar didalamnya. Siapa tahu jika nanti berkuasa dapat rekomendasi politik.

“Aparat penegak hukum jangan sampai terbelah atau lalai untuk menangkap esensi yang sedang dibangun oleh ormas KAMI,” kata Silaen.

Aparat penegak hukum harus bertindak sesuai koridor hukum yang ada. Aparat, kata Silaen jangan bertindak diluar aturan hukum yang berlaku, pastikan hukum harus jadi panglima. Hukum tak boleh diskriminatif terhadap semua warga negara.

Selain itu, Silaen meminta aparat penegak hukum juga jangan melakukan pembiaran karena dapat merusak sendi-sendi kehidupan sosial politik diakar rumput.

“Yah politik adu domba harus ditindak, jangan sampai karena ingin berkuasa lalu membenturkan kehidupan sosial hingga terbelah berkeping-keping menghancurkan sendi-sendi bernegara dan kehidupan rakyat akan sama saja, siapapun yang akan berkuasa berikutnya,” jelas Silaen kepada WARTALIKA.id.

Menurutnya, politik devide et impera sesungguhnya tak bisa lagi dipakai untuk merebut kekuasaan politik, namun pada kenyataannya demi meraih kekuasaan politik, semua cara dihalalkan.

“Inilah yang gawat dan bakal merusak tatanan sosial ditengah masyarakat kelas bawah. Karena kelas bawah tak sepenuhnya memahami pertarungan politik. Karena politik ditingkat bawah sanak famili bisa bermusuhan bahkan sampai berkelahi membela kepentingan politik pribadinya,” papar Silaen.

Terkait isu komunis bangkit, Silaen katakan itu isu sudah basi, sudah jadul. Saya sudah pernah usul agar yang menangkap bisa menayangkan secara live interogasi pelaku komunis bangkit itu.

“Ini harus di usut tuntas, agar selesai sudah isu soal PKI/Komunis yang menghambat bangsa ini maju dan bersatu,” beber Silaen.

Lanjutnya, tiap pergantian kepemimpinan di negeri ini selalu membawa diksi PKI dan Komunis Bangkit, ini selalu dipolitisir menjadi dagangan untuk ‘jualan’ ditengah masyarakat.

“Rakyat selalu dicekoki informasi yang menakutkan orang, tragedi G30S PKI itu bagian dari sejarah kelam bangsa ini. Simpang siur soal kebenaran sejarah selalu dijadikan debat kusir tanpa rekonsiliasi kebenaran,” ungkap Silaen.

Masing-masing elite politik, lanjutnya tokoh masyarakat dan akademisi selalu beda sikap, pandangan didalam memaknai kebenaran sejarah. Seolah-olah sejarah bangsa ini banyak kelirunya.

“Pertanyaannya apa benar PKI itu masih ada atau hanya halusinasi politik saja. Karena kalau diksi politik oplosan terus dibangun oleh kelompok tertentu, maka itu sama saja miskin ide dan gagasan untuk memakmurkan negeri ini,” tegas Silaen.

“Ingin berkuasa tapi jualannya memakai diksi politik komunis dan jubah agama, apa tak ada yang lain yang laku dijual, sehingga program kandidat calon pemimpin bisanya cuma menjual itu-itu saja. Hal ini memang tak dapat dipungkiri bahwa rakyat belum sepenuhnya melek politik. Jadi ini salah siapa?,” kritik Silaen.

Ini persoalan mendasar yang masih melilit perjalanan bangsa ini. Kata Silaen, Rakyat hanya dijadikan kayu bakar politik Ormas KAMI demi memperoleh kedudukan/jabatan dan kekuasaan politik. Kebodohan rakyat seperti sengaja dipelihara, itulah cara untuk mendapatkan dukungan atau fanatisme buta.

“Pemimpin atau elite penguasa turut menyuburkan kondisi ini tetap ada. Elite penguasa, elite politik berpesta di atas ketidak tahuan masyarakat. Rakyat dibawah berkelahi, tapi elite tersenyum dan masih bisa ketemu ngopi-ngopi bareng tapi rakyat bawah, sungguh-sungguh bermusuhan dalam membela jualan elite politik dan penguasa politik,” tandas Silaen.

Editor : Drey

Pos terkait