Gatot Nurmantyo Simbol Perlawanan, Pengamat Politik : Elite Istana Mulai Resah

  • Whatsapp
Jenderal TNI (Purn), Gatot Nurmantyo
Jenderal TNI (Purn), Gatot Nurmantyo

WARTALIKA.id –  Figur Gatot Nurmantyo (GN) kini menyandang simbol perlawanan yang disematkan oleh kelompok tertentu yang selama ini disandang oleh Prabowo Subianto yang kini menjadi Menteri Pertahanan RI di kabinet jilid II Jokowi-Mar’uf.

Hal ini dikatakan pengamat politik Direktur Eksekutif Lembaga Kajian Studi Masyarakat dan Negara (LAKSAMANA), Samuel F. Silaen dalam keterangan persnya kepada WARTALIKA.id, di Jakarta, Jumat (9/10).

Bacaan Lainnya

Menurut Silaen, pasca bergabungnya Ketum Gerindra Prabowo Subianto (PS) ke pemerintahan, simbol perlawanan itupun seakan luntur oleh karena, kompromi politik maka sang Capres pada pilpres 2019 jilid II diajak bergabung di kabinet Indonesia maju.

“Nah sekarang simbol perlawanan itu melekat pada diri Gatot Nurmantyo, dimana banyak elite yang berada di lingkaran istana sedikit terganggu dengan pergerakan GN dikancah perpolitikan nasional,” ucap Silaen.

Lanjut Silaen, tak ada yang salah dengan langkah politik GN tersebut, dalam kaca mata pengamat politik itu sah-sah saja. GN seperti memperoleh suntikan ‘darah segar’ untuk zig- zag memainkan bidak catur permainannya, menyongsong tarung bebas 2024.

“Cara yang digunakan oleh GN bersama ormas KAMI bukan cara baru tapi repackaging (dikemas kembali) dari pola politik yang selama ini ada di sosok PS saat berada diluar kekuasaan. Kini PS sudah bagian dari pemerintah, tentu tidak bisa lagi sama seperti diluar pemerintah. Hal ini terkait dengan etika pemerintahan yang baik dan beradab,” jelas Silaen.

Samuel F Silaen katakan, Gatot Nurmantyo saat ini selain punya amunisi dan momentum yang tepat untuk digunakan berselancar demi memperoleh dukungan dan simpati rakyat, untuk membangun fondasi pergerakan diberbagai daerah. Pro-kontra itu hal biasa, yang tak dapat dihindarkan didalam dunia politik praktis.

“Daya tahan GN dan ormas KAMI-lah yang menentukan langkah-langkah berikutnya, jika ormas KAMI tidak pandai-pandai berselancar maka tak tertutup kemungkinan akan jadi penghambat laju penetrasi GN mendapat simpati publik diakar rumput,” imbuhnya.

“Publik tentu akan terbelah sama seperti waktu Prabowo Subianto berada diluar gelanggang kekuasaan, pola perebutan kekuasaan politik dinegeri ini, hampir sama saja, hanya personal yang menjadi simbol saja yang beda. Hal itu tidak lepas dari oli dan BBM yang digunakan untuk bergerak, artinya siapa bohir (penyandang dana) nya, begitu,” tambah Silaen.

Tentulah yang keluarkan biaya punya kepentingan langsung atau tidak langsung didalam menempatkan orang-orangnya kelak setelah berhasil mencapai tujuan. Gatot Nurmantyo dijadikan simbol perlawanan bagian dari simbiosis mutualisme perjuangan dalam merebut kekuasaan.

Ormas KAMI dibentuk hanya alat bukan tujuan, alat untuk perjuangan, pola ini banyak kita temui ketika parpol belum muncul maka diawali pembentukan ormas sebagai alat komunikasi kepada masyarakat, elite, dan lain-lain,”ungkap Silaen.

Lanjutnya, jika ada yang kebakaran jenggot didalam kemunculan ormas KAMI itu, karena ada semacam ketakutan minimal terganggu bagi elite tertentu sebab terjadi kehilangan daya pikat dan pamor dengan kehadiran GN. Jika langkah bidak catur yang dimainkan oleh GN tak diantisipasi oleh parpol-parpol yang punya calon-calon yang akan diusung pada pilpres 2024 nanti tak akan laku.

“Jika parpol atau gabungan parpol punya calon-calon yang akan diusung pada pilpres 2024, baiknya mesin sudah dinyalakan meskipun belum di gas, yang penting mesin politik sudah di “on” kan, jadi jangan kelamaan padam, buzzeaRp dilawan dengan sentuhan/turun langsung kepada rakyat kecil (wong cilik),” pungkas Silaen.

Editor : Drey

Pos terkait