Perjuangan Keras Guru Honorer di Kampung Biwage Boven Digoel

  • Whatsapp
Guru Honorer

WARTALIKA.idAgusta Handomano, itulah satu-satunya Guru Honorer yang mengajar di enam (6) kelas di salah satu Sekolah Dasar (SD) Inpres Bimop di Kampung Biwage, Distrik Kawagit, Kabupaten Boven Digoel, Provinsi Papua.

Hanya seorang diri, Agusta Handomano kepada WARTALIKA.id mengisahkan perjalanan hidupnya dalam melaksanakan tugas sebagai seorang Guru Honorer. Meski masih berstatus sebagai Guru Honorer di sekolah tersebut, Ia berusaha semaksimal mungkin mendidik agar murid-murid SD Inpres Bimop bisa mengikuti mata pelajaran sesuai program pendidikan yang ada.

“Namun saya bersyukur kepada Tuhan, bahwa selama saya di beri tanggung jawab di sekolah ini. Saya selalu mengajarkan disiplin kepada anak didik, sehingga para murid bisa mengerti dan mematuhinya, dan pada akhirnya kegiatan belajar mengajar di SD Inpres Bimop tetap berjalan dengan baik dan lancar,” terang Agusta Handomano sang Guru Honorer, Senin (04/03/2019).

Disinggung terkait kehadiran Kepala SD Inpres Bimop, Agusta menyampaikan bahwa Kepala Sekolah hanya hadir jika pada Ujian Nasional untuk mengawal anak didik yang akan melaksanakan ujian akhir yang di laksanakan di Distrik Kouh.

Kedepannya Agusta berharap agar dinas terkait yang ada di Kabupaten Boven Digoel bisa memperhatikan kondisi giat belajar dan mengajar di SD Inpres Bimop, agar menambah personil tenaga Guru guna kelancaran belajar dan mengajar di sekolah ini.

“Saya berharap setelah 15 tahun saya mengabdi sebagai Guru Honorer, saya bisa ikut tes PNS agar saya bisa menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS),” harap Agusta.

Kembali di singgung soal gaji, Agusta menyampaikan bahwa belum lama ini dirinya mendapatkan Insentif per triwulan sebesar Rp 3 juta. Agusta berharap semoga bila ia sudah menjadi PNS agar bisa merasakan kesejahteraan yang layak dari sekadar Guru Honorer.

“Kalau kesejahteraan layak mungkin banyak guru-guru mau mengajar di wilayah pedalaman. Karena biar bagaimanapun anak-anak pedalaman ini juga generasi bangsa Indonesia yang juga memiliki hak pendidikan agar menjadi generasi penerus yang berguna bagi nusa dan bangsa,” urainya.

Sementara di tempat yang sama Kepala Kampung Biwage 1 Johanis Subahatu mengatakan, dirinya sebagai Kepala Kampung merasa tidak puas dengan kinerja Kepala SD Inpres Bimop.

“Saya meminta kepada Dinas Pendidikan Kabupaten Boven Digoel agar segera mengganti Kepala Sekolah tersebut. Sebab selama ini hanya setahun sekali meninjau sekolah yang dia pimpin. Apa tak lagi memperhatikan kondisi bangunan sekolahnya,” ucapnya.

Maka itu, kata dia kami atas nama Kampung Biwage 1 dan Kampung Biwage 2 sepakat tidak simpati lagi kepada Kepala SD Inpres Bimop, “dan dalam hal ini kami sepakat meminta kepada dinas terkait agar Kepala SD Inpres Bimop PK segerah di ganti”.

“Perlu juga di ketahui bukan hanya di SD Inpres Bimop saja yang bernasib seperti ini. Bahkan sekolah-sekolah di seluruh wilayah adat Korowai pinggiran Sungai Digoel merasakan hal yang sama. Saya berharap hal ini menjadi satu bahan evaluasi bagi dinas terkait agar bisa memperhatikan kegiatan belajar mengajar di wilayah terpencil yang ada di Kabupaten Boven Digoel,” tandas Johanis.

Ditempat yang sama seorang Murid Kelas 6 SD Inpres Bimop Morina Halatu mengatakan, Murid SD Inpres Bimop berharap agar pemerintah bisa mengirimkan guru tambahan untuk mengajar di sekolahnya serta bisa memberikan bantuan seragam sekolah.

“Itu agar kami bisa menimba ilmu dengan baik, dan kami berharap agar memiliki kepala sekolah yang bisa rutin memperhatikan sekolah serta murid yang ada. Sebab kami merasa tidak adil di mana sekolah kami hanya memiliki satu orang guru, dan ibu gurunya hanya berstatus Guru Honorer. Kalau ibu guru berhenti mengajar nanti nasib kami gimana,” kata Morina dengan lugunya.

Pewarta : RK

  • Whatsapp

Pos terkait