Kelompok Pro Kemerdekaan Papua Lekat dengan Tindakan Intimidasi

  • Whatsapp
Ketua Koordinatoriat PWI Jakbar Kornelius Naibaho

WARTALIKA.id – Permasalahan di Papua menunjukkan kompleksitas yang tinggi, setelah sebelumnya peneliti LIPI dalam kajian Papua, Andriana Elizabeth menjelaskan bahwa gerakan prokemerdekaan Papua hanya merupakan imbas dari ketimpangan yang masyarakat Papua terima.

Dalam perkembangan di lapangan saking mengakarnya permasalahan yang terjadi, saat ini telah muncul berbagai persoalan baru yang menginisiasi orang Papua. Salah satunya adalah anggapan bahwa setiap orang papua yang mendukung NKRI akan menerima intimidasi oleh kelompok lainnya bahkan perlakuan yang didapat tidak terlepas dari ancaman.

Baca Juga :

Mendagri pun mengatakan bahwa jumlah kelompok itu (kelompok prokemerdekaan Papua) tidak cukup banyak namun mereka mampu mendominasi gerakan. Hal itu tidak terlepas dari tindakan ancaman dimana mereka tidak segan melakukan kekerasan terhadap setiap orang yang berbeda pandangan.

Para pakar pengamat Papua pun menilai bahwa peristiwa ancaman perlu mendapat perhatian lebih untuk bisa menjamin keamanan setiap hak orang Papua dari berbagai bentuk intimidasi. Fakta membuktikan bahwa berbagai gerakan tersebut gamblang terjadi sebagai bentuk potret radikalisme dan separatisme yang terus merongrong kedaulatan Indonesia.

Banyak pihak menyesalkan berbagai bentuk propaganda oleh kelompok prokemerdekaan Papua yang cukup mengganggu situasi keamanan di Papua. Pengkhianatan dan kekejaman yang mereka lakukan telah terbukti menggerogoti kedamaian di Tanah Papua. Kita bisa menilik peristiwa Agustus 2019 lalu di Kota Jayapura. Dengan cara intimidasi kepada masyarakat umum sebanyak 7 orang yang telah didakwa sebagai otak pergerakan pun mampu memporak-porandakan situasi dengan berbagai bentuk kekacauan terjadi.

Untuk diketahui kelompok tersebut juga telah sejak lama menanamkan dogma perjuangan Papua merdeka di berbagai forum tempat, tidak terkecuali kampus-kampus diluar Papua yang memungkinkan banyak mahasiswa Papua sedang menempuh jalur pendidikan. Lagi-lagi situasi yang memungkinkan mendorong mereka untuk bisa melakukan intimidasi terhadap setiap mahasiswa yang memiliki pandangan lain.

Hal rumit yang telah kusut memang tidak mudah untuk diuraikan kembali, namun diluar sana masih banyak orang Papua yang sadar akan nilai positif sehingga teguh pendirian untuk meninggalkan dan tidak terlalu mempedulikan berbagai bentuk gerakan yang mengatasnamakan Papua merdeka. Mereka beranggapan bahwa kehidupan nyata saat ini sudah memungkinkan untuk menunjang kesejahteraan.

Pos terkait