Siapa Sebenarnya dan Kenapa Menjadi Berkembang Terorisme di Indonesia

  • Whatsapp
Siapa Sebenarnya dan Kenapa Menjadi Berkembang Terorisme di Indonesia

Bangsa kita memilki keaneka ragaman dari aspek suku, latar belakang ekonomi, pendidikan, bahasa daerah, adat istiadat, agama, dan lain- lain, harus tetap dipelihara kesatuan dan persatuannya. Apapun keadaan bangsa ini, asalkan mereka bersatu, maka segala persoalan akan bisa diselesaikan. Sebaliknya, manakala persatuan telah terganggu, maka persoalan sekecil apapun akan berkembang menjadi besar dan rumit, hingga sulit dipecahkan.

Bangsa ini telah memiliki dasar yang kokoh sebagai modal dalam membina kerukunan, yaitu pancasila, UUD 1945, NKRI, dan Bhineka Tunggal Ika. Konsep itu sedemikian bagus, tinggal upaya-upaya untuk mengimplementasikannya.

Muat Lebih

Terorisme bukan persoalan siapa pelaku, kelompok dan jaringannya. Namun, lebih dari itu terorisme merupakan tindakan yang memiliki akar keyakinan, doktrin dan ideologi yang dapat menyerang kesadaran masyarakat. Tumbuh suburnya terorisme tergantung di lahan mana ia tumbuh dan berkembang. Jika ia hidup di tanah gersang, maka terorisme sulit menemukan tempat, sebaliknya jika ia hidup di lahan yang subur maka ia akan cepat berkembang. Ladang subur tersebut menurut Radikalisme merupakan embrio lahirnya terorisme.

Radikalisme merupakan suatu sikap yang mendambakan perubahan secara total dan bersifat revolusioner dengan menjungkirbalikkan nilai-nilai yang ada secara drastis lewat kekeraan (violence) dan aksi-aksi yang ekstrem.

Ada beberapa ciri yang bisa dikenali dari sikap dan paham radikal.
1) intoleran (tidak mau menghargai pendapat dan keyakinan orang lain),
2) fanatik (selalu merasa benar sendiri; menganggap orang lain salah),
3) eksklusif (membedakan diri dari umat Islam umumnya) dan 4) revolusioner (cenderung menggunakan cara-cara kekerasan untuk mencapai tujuan).

Sangat memperihatinkan ketika melihat berbagai fakta yang mempertontonkan kedekatan pemuda dengan budaya kekerasan. Kehadiran Islamic State of Iraq and Syria (ISIS) menjadi momok baru yang menakutkan bagi kalangan generasi muda dengan berbagai provokasi, propaganda dan ajakan kekerasan yang menggiurkan.

Sejak kemunculannya menghentakkan situasi keamanan bangsa ini, ISIS setidaknya telah mampu menggetarkan gairah anak muda untuk ikut terlibat dalam gerakan politik kekerasan di Suriah. Beberapa contoh yang bisa disebutkan adalah meninggal di Irak saat bergabung dengan ISIS. Wildan merupakan santri di Pondok Al Islam di Tenggulun, Lamongan, yang dikelola oleh keluarga Amrozi terpidana bom Bali 2002.

Dalam usianya yang masih belia pemuda asal Lamongan ini memilih mengakhiri hidupnya di tanah penuh konflik. Tidak hanya dari kalangan laki-laki, Asyahnaz Yasmin (25 tahun), termasuk satu dari 16 warga negara Indonesia yang ditangkap pemerintah Turki. Gadis asal Bandung ini setelah dipulangkan ke Indonesia, ia ditolak keluarganya dan bupati setempat.

Kemensos RI pun menampungnya kembali di rumah perlindungan dan trauma centre. Dan tentu saja masih banyak cerita lainnya.

Fakta-fakta tersebut memperlihatkan bagaimana kerentanan kalangan generasi muda dari keterpengaruhan ajaran sekaligus ajakan yang disebarkan oleh kelompok radikal baik secara langsung maupun melalui media online yang menjadi sangat populer akhir-akhir ini. Karena itulah, upaya membentengi generasi muda dari keterpengaruhan ajaran dan ajakan kekerasan menjadi tugas bersama. Ada tiga institusi sosial yang sangat penting untuk memerankan diri dalam melindungi generasi muda.

Pertama Pendidikan, melalui peran lembaga pendidikan, guru dan kurikulum dalam memperkuat wawasan kebangsaan, sikap moderat dan toleran pada generasi muda.

Kedua, Keluarga, melalui peran orang tua dalam menanamkan cinta dan kasih sayang kepada generasi muda dan menjadikan keluarga sebagai unit konsultasi dan diskusi.

Ketiga, komunitas: melalui peran tokoh masyarakat di lingkungan masyarakat dalam menciptakan ruang kondusif bagi terciptanya budaya perdamaian di kalangan generasi muda.

Selain peran yang dilakukan secara institusional melalui kelembagaan pendidikan, keluarga dan lingkungan masyarakat, generasi muda juga dituntut mempunyai imunitas dan daya tangkal yang kuat dalam menghadapi pengaruh dan ajakan radikal terorisme.

Ada beberapa hal yang bisa dilakukan oleh kalangan generasi muda, dalam rangka menangkal pengaruh paham dan ajaran radikal yakni :
1) tanamkan jiwa nasionalisme dan kecintaan terhadap NKRI,
2) perkaya wawasan keagamaan yang moderat, terbuka dan toleran,
3) bentengi keyakinan diri dengan selalu waspada terhadap provokasi, hasutan dan pola rekruitmen teroris baik di lingkungan masyarakat maupun dunia maya,
4) membangun jejaring dengan
komunitas damai baik offline maupun online untuk menambah wawasan dan pengetahuan dan
5) bergabunglah di komunitas cinta damai dalam rangka membanjiri dunia maya dengan pesan-pesan perdamaian.

Oleh : D. Manurung
Pengamat Pertahanan dan Keamanan

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.