WATALIKA.id – Dalam upaya mendukung ketahanan pangan nasional, Balai Wilayah Sungai (BWS) Sulawesi IV Kendari berhasil menyelesaikan pembangunan Bendung Laiba di Kecamatan Parigi, Kabupaten Muna. Proyek ini menjadi salah satu bagian penting dari program strategis nasional yang digagas Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) untuk memperkuat sistem irigasi dan ketersediaan air di daerah.
Penyelesaian Bendung Laiba menjadi bagian dari upaya mendukung program ketahanan pangan nasional yang sejalan dengan visi pemerintahan Presiden Prabowo Subianto melalui agenda pembangunan prioritas nasional. Infrastruktur air dinilai sebagai faktor kunci dalam menjaga stabilitas produksi pertanian, terutama di daerah yang selama ini masih bergantung pada curah hujan dan pembangunan Bendung Laiba ini diproyeksikan menjadi tulang punggung sistem irigasi pertanian di Kecamatan Parigi dan Kecamatan Kabawo.
Selain pembangunan baru Bendung Laiba, BWS Sulawesi IV Kendari juga melakukan rehabilitasi dan peningkatan pada Bendung Labulu-Bulu serta Bendung Kolasa. Ketiga infrastruktur tersebut dirancang saling terintegrasi untuk memperkuat sistem pengairan lahan pertanian yang mencakup dua kecamatan sentra produksi di Kabupaten Muna.
Humas BWS Sulawesi IV Kendari, Rahmat, menjelaskan bahwa Bendung Laiba dibangun untuk mengairi areal persawahan seluas 615,84 hektare. Dengan kapasitas tampungan air yang lebih optimal, keberadaan bendung ini diharapkan mampu menjaga kontinuitas suplai air irigasi sepanjang musim tanam.
“Bendung Laiba merupakan pembangunan baru yang dirancang untuk memaksimalkan layanan irigasi. Dengan sistem yang lebih baik, ketergantungan petani terhadap hujan dapat ditekan sehingga pola tanam menjadi lebih teratur,” ujarnya, Jumat (13/2/2026).

Menurut Rahmat, proyek tersebut telah mencapai progres 100 persen dan siap dimanfaatkan oleh petani. Rehabilitasi Daerah Irigasi Laiba bukan sekadar memperbaiki bangunan fisik, tetapi juga meningkatkan fungsi teknis bendung agar distribusi air lebih merata dan efisien.
Ia menambahkan bahwa pembangunan bendung tidak hanya berorientasi pada sektor pertanian, tetapi juga memiliki fungsi pengendalian banjir dan penyediaan air baku. Dengan peningkatan volume tampungan air, potensi limpasan saat musim hujan dapat dikendalikan sehingga risiko genangan di area pertanian maupun permukiman bisa ditekan.
Ke depan, pemerintah juga berencana melanjutkan pembangunan jaringan irigasi pendukung pada tahun 2026. Langkah ini dilakukan agar potensi lahan sawah yang ada dapat dimanfaatkan secara maksimal dan indeks pertanaman meningkat.
Rahmat menegaskan bahwa keberadaan bendung modern seperti Laiba menjadi bagian penting dalam membangun ketahanan air yang berkelanjutan. Dalam konteks perubahan iklim yang memicu ketidakpastian musim, infrastruktur air yang andal menjadi solusi untuk menjaga stabilitas produksi pangan.
Sementara itu, tokoh pemuda Kabupaten Muna, Tayeb, menilai kehadiran Bendung Laiba membawa harapan baru bagi petani. Selama ini, fluktuasi pasokan air menjadi kendala utama dalam meningkatkan hasil panen, terutama saat musim kemarau panjang.
“Dengan bendung yang telah direhabilitasi dan dibangun ulang secara maksimal, aliran air ke sawah kini bisa lebih stabil. Ini sangat membantu petani dalam merencanakan musim tanam,” katanya.
Ia menyebutkan bahwa sektor pertanian masih menjadi salah satu penopang ekonomi masyarakat di Kecamatan Parigi dan Kabawo. Oleh karena itu, ketersediaan air yang cukup sepanjang tahun akan berdampak langsung pada peningkatan pendapatan petani dan pertumbuhan ekonomi lokal.
Tayeb juga mengapresiasi dukungan berbagai pihak yang turut mengawal proyek tersebut, termasuk Wakil Ketua Komisi V DPR RI, Ridwan Bae, serta Bupati Muna, Bachrun Labuta, yang meninjau langsung progres pembangunan di lapangan.
Menurutnya, sinergi antara pemerintah pusat dan daerah menjadi faktor penting dalam menghadirkan proyek infrastruktur strategis ke Kabupaten Muna. Ia berharap pembangunan tidak berhenti pada tahap bendung saja, melainkan terus berlanjut hingga sistem jaringan irigasi tersier benar-benar menjangkau seluruh lahan pertanian warga.
Secara ekonomi, dampak infrastruktur air seperti Bendung Laiba diyakini tidak hanya terbatas pada peningkatan produksi padi. Ketersediaan air yang stabil juga membuka peluang pengembangan komoditas hortikultura serta usaha pertanian terpadu lainnya. Hal ini berpotensi menciptakan lapangan kerja baru dan memperkuat ketahanan pangan daerah.
Selain itu, keberadaan bendung yang tertata rapi turut memberikan nilai estetika dan memperbaiki tata ruang kawasan sekitar. Penataan infrastruktur yang baik dinilai mampu meningkatkan wajah wilayah dan mendorong aktivitas ekonomi pendukung lainnya.
Dalam jangka panjang, pembangunan infrastruktur sumber daya air seperti Bendung Laiba menjadi investasi penting bagi keberlanjutan sektor pertanian di Kabupaten Muna. Dengan sistem irigasi yang semakin modern dan terintegrasi, pemerintah berharap produktivitas pertanian meningkat signifikan serta mampu menopang kebutuhan pangan masyarakat secara mandiri.
Komitmen pemerintah melalui BWS Sulawesi IV Kendari menunjukkan bahwa pembangunan infrastruktur air bukan sekadar proyek fisik, melainkan strategi besar dalam menjaga stabilitas pangan nasional. Keberhasilan penyelesaian Bendung Laiba menjadi langkah nyata dalam memperkuat fondasi pertanian di daerah sekaligus mendukung agenda besar ketahanan pangan Indonesia.

