WARTALIKA.id – ​Tahun Baru Islam atau 1 Muharram merupakan momen penting bagi umat Muslim di seluruh dunia, tidak terkecuali di Indonesia. Pergantian tahun ini bukan sekadar perubahan angka, melainkan momentum untuk mengevaluasi perjalanan hidup, mensyukuri nikmat yang telah diberikan Allah SWT, serta memperbarui niat dalam menjalani hari-hari yang akan datang.
​Sebagai negara dengan populasi Muslim terbesar sekaligus memiliki keragaman suku yang masif, peringatan perpindahan tahun Hijriah di Nusantara dirayakan dengan berbagai refleksi budaya yang sarat akan nilai spiritualitas Islam dan adat istiadat lokal.
​Sejarah Penetapan Kalender Hijriah
​Sebelum kedatangan Islam, masyarakat Arab telah menggunakan kalender Qamariyah (peredaran bulan) dengan kehadiran hilal sebagai penanda awal bulan. Nama-nama bulan yang kita kenal saat ini—Muharram, Safar, Rabi’ul Awal, Rabi’ul Akhir, Jumadil Awal, Jumadil Akhir, Rajab, Sya’ban, Ramadhan, Syawal, Dzulqa’dah, dan Dzulhijah—sudah ada sejak masa itu. Namun, mereka belum memiliki sistem angka tahun.
​Biasanya, penanggalan didasarkan pada peristiwa besar, seperti “Tahun Gajah” saat peristiwa serangan pasukan raja Abrahah. Kebiasaan ini berlangsung hingga zaman Nabi ï·º dan masa Khalifah Abu Bakar RA.
​Peran Khalifah Umar bin Khattab RA
Pada tahun ketiga masa kekhalifahannya, Umar bin Khattab RA menerima keluhan dari Abu Musa al-Asy’ari, Gubernur Bashrah, mengenai kesulitan mengarsipkan surat karena tidak adanya penunjuk tahun yang jelas. Khalifah Umar kemudian mengumpulkan para sahabat untuk menetapkan acuan tahun yang resmi.
​Setelah mempertimbangkan berbagai usulan, sahabat Ali bin Abi Thalib RA mengusulkan agar tahun ditetapkan sejak peristiwa Hijrahnya Rasulullah ﷺ dari Makkah ke Madinah. Para sahabat menyambut baik usulan ini, dan sejak saat itu, kalender tersebut dikenal sebagai Kalender Hijriah.
​Penetapan Bulan Muharram
Selanjutnya, Khalifah Utsman bin Affan RA mengusulkan Muharram sebagai bulan pertama dalam kalender Hijriah dengan alasan:
1. Muharram adalah bulan pertama dalam kalender masyarakat Arab masa silam.
2. Kaum Muslimin baru saja menyelesaikan ibadah besar, yaitu haji ke Baitullah.
3. ​Tekad untuk hijrah pertama kali muncul di bulan Muharram, menyusul Baiat Aqabah kedua yang terjadi di bulan Dzulhijjah.
​Makna Hijrah di Era Modern
​1 Muharram 1448 H bukan sekadar pergantian kalender, melainkan pengingat akan nilai perjuangan, pengorbanan, dan keimanan. Dalam konteks kehidupan modern, hijrah tidak lagi berarti berpindah tempat secara fisik, melainkan perubahan menuju kondisi yang lebih baik, seperti:
• ​Meningkatkan kualitas salat dan ibadah harian.
• ​Memperbaiki hubungan dengan keluarga.
• ​Menjaga kejujuran dalam pekerjaan dan bisnis.
• ​Menghindari perilaku yang dilarang agama.
• ​Memperbanyak sedekah dan kepedulian sosial.
• ​Menuntut ilmu yang bermanfaat.
• ​Menjaga lisan dari perkataan yang menyakiti orang lain.
​Amalan yang Dianjurkan pada Bulan Muharram
​Muharram adalah salah satu dari empat bulan yang dimuliakan (bulan haram) di mana Allah SWT melipatgandakan pahala bagi setiap amal kebaikan. Meski tidak ada kewajiban ibadah khusus pada hari pertama, berikut adalah amalan yang sangat dianjurkan:
1. ​Memperbanyak Dzikir dan Doa: Memohon ampunan atas kesalahan masa lalu serta memohon keberkahan untuk tahun yang akan datang.
2. ​Muhasabah (Evaluasi Diri): Mengintrospeksi diri atas kekurangan dan mensyukuri nikmat yang telah diterima.
3. ​Puasa Sunnah: Rasulullah SAW menganjurkan puasa di bulan Muharram, terutama pada tanggal 10 Muharram (Hari Asyura).
4. ​Memperbanyak Sedekah: Berbagi kepada sesama untuk menumbuhkan rasa syukur dan kepedulian sosial, termasuk di antaranya melalui sedekah pembangunan masjid.
5. ​Menjalin Silaturahmi: Mempererat hubungan dengan keluarga, kerabat, dan masyarakat.
​Semoga 1 Muharram 1448 H menjadi awal tahun yang penuh harapan, keberkahan, dan kebaikan bagi seluruh umat Islam. Dengan memperbaiki akhlak dan mendekatkan diri kepada Allah SWT, kita dapat menjadikan tahun baru Hijriah sebagai titik awal menuju kehidupan yang lebih bermakna di dunia maupun di akhirat.
Penulis : KH. Arysaddul Ibad pimpinan Pondok Pesantren Yanida Balaraja

