Tayeb juga mengapresiasi dukungan berbagai pihak yang turut mengawal proyek tersebut, termasuk Wakil Ketua Komisi V DPR RI, Ridwan Bae, serta Bupati Muna, Bachrun Labuta, yang meninjau langsung progres pembangunan di lapangan.

Menurutnya, sinergi antara pemerintah pusat dan daerah menjadi faktor penting dalam menghadirkan proyek infrastruktur strategis ke Kabupaten Muna. Ia berharap pembangunan tidak berhenti pada tahap bendung saja, melainkan terus berlanjut hingga sistem jaringan irigasi tersier benar-benar menjangkau seluruh lahan pertanian warga.

Secara ekonomi, dampak infrastruktur air seperti Bendung Laiba diyakini tidak hanya terbatas pada peningkatan produksi padi. Ketersediaan air yang stabil juga membuka peluang pengembangan komoditas hortikultura serta usaha pertanian terpadu lainnya. Hal ini berpotensi menciptakan lapangan kerja baru dan memperkuat ketahanan pangan daerah.

Selain itu, keberadaan bendung yang tertata rapi turut memberikan nilai estetika dan memperbaiki tata ruang kawasan sekitar. Penataan infrastruktur yang baik dinilai mampu meningkatkan wajah wilayah dan mendorong aktivitas ekonomi pendukung lainnya.

Dalam jangka panjang, pembangunan infrastruktur sumber daya air seperti Bendung Laiba menjadi investasi penting bagi keberlanjutan sektor pertanian di Kabupaten Muna. Dengan sistem irigasi yang semakin modern dan terintegrasi, pemerintah berharap produktivitas pertanian meningkat signifikan serta mampu menopang kebutuhan pangan masyarakat secara mandiri.

Komitmen pemerintah melalui BWS Sulawesi IV Kendari menunjukkan bahwa pembangunan infrastruktur air bukan sekadar proyek fisik, melainkan strategi besar dalam menjaga stabilitas pangan nasional. Keberhasilan penyelesaian Bendung Laiba menjadi langkah nyata dalam memperkuat fondasi pertanian di daerah sekaligus mendukung agenda besar ketahanan pangan Indonesia.